10 pertanyaan paling umum tentang Coronavirus COVID-19

Healthy Protection Kamis, 14 Mei 2020
10 pertanyaan paling umum tentang Coronavirus COVID-19

Banyak informasi simpang siur mengenai Coronavirus COVID-19 - termasuk bagaimana penyebarannya dan langkah-langkah pencegahannya. Kadang kita pun sulit mencerna dan memilah informasi, mana yang benar dan mana yang kurang tepat? Nah, disini, Generali Indonesia akan membahas 10 pertanyaan paling umum seputar Coronavirus COVID-19 dari sumber terpercaya, untuk menjawab semua keingintahuan pembaca.

Yuk, simak dan bagikan, supaya semua teman dan keluarga juga mendapatkan informasi yang akurat seputar wabah ini!

1. Darimana asal Coronavirus?

Coronavirus sebetulnya adalah nama untuk keluarga virus yang bisa menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari flu ringan hingga penyakit pernafasan akut (SARS, singkatan dari severe acute respiratory syndrome) yang mewabah di tahun 2003 silam. Nama "Coronavirus" sendiri diambil dari kata bahasa Latin "Corona" yang berarti mahkota, sebab bila dilihat di bawah mikroskop, bentuk virus ini memiliki semacam "mahkota" di sekeliling gugus virusnya.

Nah, khusus untuk Coronavirus yang sedang mewabah ini, nama resminya adalah COVID-19, singkatan dari "Coronavirus disease 2019", jenis baru dari keluarga Coronavirus yang berasal dari kota Wuhan, salah satu kota terbesar yang menjadi bagian dari provinsi Hubei di Republik Rakyat Cina.

Pada tanggal 31 Desember 2019 silam, WHO mulai waspada mengenai sejumlah kasus radang paru-paru di kota Wuhan yang sulit diidentifikasi penyebabnya oleh para ahli medis setempat. Setelah meneliti sejumlah sampel dari penderita penyakit tersebut, pada Januari 2020 virus ini resmi diberi nama COVID-19.

2. Bagaimana cara penyebaran Coronavirus?

Coronavirus menyebar dari orang satu ke orang lainnya melalui cairan mulut dan hidung, yang tersebar di udara bila seseorang yang memiliki virus COVID-19 bersin, batuk, meludah atau berbicara. Orang sehat yang terpapar virus ini bisa tertular bila cairan mulut dan hidung dari orang terinfeksi masuk ke dalam saluran pernafasannya, atau bila menyentuh benda atau permukaan yang terkena percikan cairan terinfeksi tersebut lalu memegang mata, hidung atau mulutnya sendiri.

Yang harus diperhatikan: meskipun seseorang tetap terlihat sehat tanpa gejala apapun, belum tentu orang tersebut tidak membawa virus, ya! Sebab, banyak sekali kasus dimana orang pembawa virus terlihat sehat tapi tetap bisa menularkan virus tersebut ke orang lain yang kontak langsung dengan orang tersebut.

3. Apa pengaruh Coronavirus kepada orang yang terkena virus ini?

Hampir seluruh kasus COVID-19 menimbulkan radang paru-paru, tapi saat ini virus COVID-19 nampaknya sudah bermutasi dan ahli medis di seluruh dunia telah melaporkan gejala berbeda pada pasien:

1. "Carrier" atau "pembawa": orang ini terinfeksi virus tapi tidak sakit dan tidak menunjukkan gejala apapun, meski seperti di poin 2 di atas, tetap bisa menjadi sumber penyebaran virus.

2. Mengalami sakit flu ringan, hanya mengalami sedikit kesulitan bernafas tapi kemudian sembuh dengan sendirinya.

3. Mengalami flu berat dan sulit bernafas, tapi sembuh dengan pengobatan medis ringan.

4. Yang terakhir, sekitar 1 dari 6 orang yang terkena virus ini, akan jatuh sakit berat dan sulit bernafas bahkan sampai membutuhkan ventilator.

Golongan yang paling rentan terkena efek berat sampai berakibat fatal dari paparan COVID-19 adalah orang-orang berusia lanjut dan orang dengan penyakit berat bawaan yang sudah ada sebelumnya, seperti orang dengan obesitas / kelebihan berat badan, penyakit hipertensi alias darah tinggi, punya masalah jantung dan kardiovaskuler serta menderita sakit gula / diabetes.

Berita baiknya, menurut WHO, 80% dari orang yang sudah terkena COVID-19 dapat sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan khusus.

4. Apa saja gejala paling mudah untuk mengenali infeksi COVID-19?

Demam tinggi dan batuk tak berhenti merupakan dua gejala yang paling umum ditemui dari COVID-19.

Selain itu, ada pasien yang sulit bernafas, mengalami hidung tersumbat, sakit tenggorokan dan nyeri di badan. Gejala ini juga umum ditemui pada orang yang sakit flu, batuk dan pilek, jadi belum tentu merupakan gejala COVID-19.

Bila merasa mengalami gejala-gejala seperti disebutkan di atas, silakan mencoba melakukan tes swab / PCR / rapid test untuk memastikan benar-benar terkena COVID-19 dan bukannya hanya flu / batuk-pilek biasa.

5. Bagaimana caranya supaya tidak tertular Coronavirus?

Lakukan tindakan pencegahan seperti rajin mencuci tangan dengan baik dan benar, menggunakan air bersih mengalir dan sabun, atau gunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol. Selain itu, lindungi mulut dan hidung dengan masker, dan praktekkan bersin atau batuk ke lengan kita. Pembatasan sosial juga sebaiknya diterapkan, jaga jarak minimal 1-2 meter dengan orang lain yang berpapasan dengan kita di tempat umum.

Sejak Desember 2019, Wuhan sudah melakukan "lockdown", disusul dengan Jepang dan Singapura, kemudian di awal bulan Maret 2020 sejumlah negara di Eropa (di antaranya Perancis, Italia dan Spanyol) sudah menutup semua perbatasan mereka dan memerintahkan agar seluruh tempat umum seperti restoran, pusat perbelanjaan, hingga museum dan berbagai obyek wisata ditutup, juga memberlakukan "lockdown" dengan larangan keluar bagi seluruh warganya dan denda cukup besar bila ada yang melanggar peraturan ini.

Saat ini, pemerintah Indonesia masih menerapkan PSBB, singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang mewajibkan seluruh warga negeri kita untuk menjaga jarak, meminimalisir keluar rumah serta lebih banyak berdiam di rumah, menutup semua tempat umum dan mengharuskan semua yang keluar rumah untuk mengenakan masker. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus.

Dan satu lagi: mari kita dukung langkah pencegahan penyebaran virus COVID-19 dengan tidak mudik di saat Hari Raya sekalipun, untuk menekan laju infeksi. Yuk, bersatu padu melindungi orangtua, kakek-nenek, saudara dan kerabat di kampung dengan tidak berkunjung kali ini saja. Sebagai gantinya, kita bisa video call via WhatsApp atau Facebook Messenger untuk melepas rindu, sekaligus menjaga agar kampung halaman tetap aman dari serangan wabah pandemi ini.

6. Berapa lamakah virus ini dapat bertahan menempel di permukaan berbagai benda?

COVID-19 dapat bertahan di permukaan berbagai benda dari mulai beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung bahan material permukaan benda tersebut. Riset terakhir menyatakan bahwa virus ini dapat bertahan aktif hingga 24 jam di atas karton, dan hingga 72 jam di permukaan yang terbuat dari plastik dan besi / logam metal. Tapi, jumlah virus yang bertahan di permukaan tersebut tentu saja berkurang dengan cepat seiring berjalannya waktu.

Bila tak yakin akan kebersihan sebuah benda, cara yang termudah adalah dengan membersihkan benda tersebut dengan desinfektan seperti Bayclin atau air sabun, lalu cuci tangan lagi dengan sabun dan air mengalir atau gunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.

7. Berapa lamakah masa inkubasi virus ini?

Masa inkubasi adalah tenggang waktu dimana seseorang terpapar virus dan kemudian mulai menunjukkan gejala penyakit. COVID-19 ditengarai memiliki masa inkubasi antara satu hingga empat belas hari, meski gejala terbanyak dialami penderita penyakit dalam kurun waktu lima hari.

8. Apa saja istilah-istilah yang digunakan seputar penanganan COVID-19?

Ada beberapa istilah yang digunakan seputar COVID-19. Apa saja istilahnya? Simak di bawah ini:

  • "Social distancing"  alias pembatasan sosial, berarti keharusan untuk segenap lapisan masyarakat untuk membatasi kontak dengan orang di tempat umum semaksimal mungkin. Artinya, berada dalam jarak aman 1-2 meter dan membatasi keluar rumah.
  • "Lockdown" artinya penguncian wilayah, penutupan perbatasan negara dan keharusan seluruh warga untuk tetap berdiam diri di rumah, dengan diliburkannya sekolah, kantor dan semua tempat umum. Indonesia belum menerapkan ini, melainkan hanya PSBB sesuai dengan penjelasan di poin 5 di atas.
  • "Red Zone / Zona Merah" adalah daerah yang merupakan sumber penularan virus.
  • "Positif Corona" adalah pasien yang sudah dites dan sudah terkonfirmasi positif COVID-19.
  • "PDP" adalah singkatan Pasien Dalam Pengawasan, yaitu mereka yang mengalami gejala demam panas dan gangguan saluran pernafasan, ringan dan berat, pernah berkunjung atau tinggal di daerah yang diketahui termasuk dalam Zona Merah. PDP juga terindikasi dengan kasus terkonfirmasi Positif Corona.
  • "ODP / Suspek" artinya Orang Dalam Pemantauan. Ini adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernafasan ringan, pernah mengunjungi atau tinggal di daerah Zona Merah atau yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut. Termasuk orang sehat yang pernah melakukan kontak dekat dengan orang yang terkonfirmasi kasus COVID-19 dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.
  • "OTG" adalah Orang Tanpa Gejala. Yaitu mereka yang tidak menampakkan gejala apapun dan terlihat sehat walafiat, tapi memiliki risiko tertular dari orang yang terkonfirmasi positif COVID-19. Orang yang dikategorikan dalam OTG juga memiliki riwayat kontak dekat secara fisik atau berada dalam radius 1 meter dari pasien positif COVID-19.
  • "Karantina / Isolasi Mandiri" adalah istilah yang digunakan bila seseorang yang serumah atau pernah kontak dekat dengan Positif Corona, lantas mengisolasi diri di rumah sendiri supaya tidak menulari orang lain lebih lanjut. Karantina / Isolasi Mandiri yang berlangsung 14 hari ini dimulai dari hari pertama dimana orang yang serumah menunjukkan gejala terkena Coronavirus.

9. Akankah ada pengobatan tepat atau vaksin untuk pencegahan COVID-19 yang lebih efektif?

Saat ini, belum ada pengobatan yang spesifik tepat mengobati dengan efektif ataupun vaksin yang efisien 100% mencegah infeksi Coronavirus COVID-19. Namun, ribuan laboratorium pemerintah maupun swasta di seluruh dunia saat ini sedang berlomba dengan waktu untuk menemukan solusi pencegahan dan pengobatan yang sanggup membasmi COVID-19, dan banyak di antara obat-obatan maupun vaksin ini sedang dalam proses ujicoba ke subyek manusia.

Seluruh dunia berharap bahwa vaksin maupun obat yang tepat dapat ditemukan dalam waktu dekat.

10. Negara mana saja yang terkena kasus berat Coronavirus COVID-19?

COVID-19 merupakan pandemi global, artinya seluruh dunia sudah terkena virus ini - tak terkecuali negara manapun. Saat ini, sudah lebih dari 2 juta kasus Positif Corona di seluruh dunia dan pemberlakuan pembatasan sosial maupun "lockdown" juga sedang diterapkan ke seluruh dunia sebagai penanganan krisis global COVID-19 sampai berakhirnya wabah pandemi ini di muka bumi.

Semua informasi di dalam artikel ini berasal dari situs resmi WHO (World Health Organization).

 

Lawan COVID-19 dengan selalu menjaga kebersihan dan berikan perlindungan menyeluruh untuk keluarga sekarang juga, yang sekaligus memastikan keamanan dana pendidikan anak hingga kuliah nanti. Pastikan Anda memiliki manfaat dari Cemerlang, solusi asuransi jiwa yang memberikan perlindungan diri dan keuangan apabila terjadi risiko dan menjamin 110% uang yang dibayarkan kembali pada akhir masa pertanggungan, atau Cristal, perlindungan risiko penyakit kritis dengan 110% Premi Kembali.

 

Generali Indonesia juga telah meluncurkan fitur konsultasi jarak jauh yang dinamai "Doctor Leo", sebagai pelayanan ekstra bagi nasabahnya. Di saat pandemi ini, nasabah dapat dengan mudah berkonsultasi dan meminta pendapat dari dokter ahli lewat aplikasi Gen iClick, yang dapat diakses lewat ponsel pintar berbasis Android maupun iPhone. Nasabah dapat dengan mudah dan aman mendapatkan diagnosis atas keluhan penyakit, langsung dari genggaman tangan, kapan saja dari rumah sendiri!

 

Untuk hotline bantuan seputar COVID-19, hubungi nomor 119 via telepon atau Whatsapp ke nomor 0811-3339-9000.

Untuk memantau berita dan mendapatkan informasi terkini seputar COVID-19, silakan kunjungi website resmi penanganan COVID-19 Indonesia di tautan ini.