Tingkatkan kecerdasan emosi untuk mencapai prestasi maksimal dalam karir dan pekerjaan

Healthy Wealth Rabu, 24 Juni 2020
shutterstock_1443609689.jpg

Memiliki IQ atau kecerdasan intelegensi yang tinggi tentu saja berperan mensukseskan karir - tapi, tidak hanya itu, lho! Berbagai survei dan penelitian membuktikan bahwa kesuksesan yang dicapai seseorang di karir dan pekerjaan tak terlepas dari kebijakan bersikap, kematangan pikiran dan kestabilan perasaan, tiga faktor yang dikaitkan dengan kecerdasan emosional.

Sering mendengar apa yang disebut EQ atau EI? EQ, singkatan dari Emotional Quotient dan EI, singkatan dari Emotional Intelligence, secara umum diartikan sebagai kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional merupakan gabungan berbagai sifat positif, seperti misalnya kemampuan seseorang untuk berkomunikasi lebih baik, memecahkan masalah dengan cara efektif dan membina hubungan baik dengan para rekan kerja dan klien. Inilah alasannya mengapa kecerdasan emosional sangat penting untuk menunjang kesuksesan karir dan memaksimalkan pencapaian dalam pekerjaan.

Bagaimana menonjolkan kecerdasan emosional dalam CV kita? Selengkapnya, baca artikel ini sampai selesai yuk!

Karakter orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi

Berdasarkan penelitian sejak tahun 1990an, EQ atau EI dijabarkan sebagai "pengaturan emosi yang efektif pada diri sendiri dan orang lain", yang artinya orang dengan EQ atau EI yang tinggi dapat mengatur perasaan dan menjaga emosi untuk "membangun motivasi, membuat perencanaan detail, dan mencapai tujuan dengan baik".

Apa saja ciri-ciri orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi?

Memahami diri sendiri dengan baik

"Mengenali dan memahami perasaan diri sendiri dengan baik adalah kunci utama pencapaian kecerdasan emosional," demikian ujar Daniel Goleman - penulis, jurnalis sains dan ahli EQ, yang telah menulis berbagai buku best-seller seputar subyek ini.

Daniel Goleman menyarankan agar kita semua mulai mencoba untuk lebih memahami diri sendiri lewat kondisi fisik yang terkadang disebabkan oleh keadaan emosional. Contohnya: merasa lelah saat depresi atau sakit kepala karena stres. Goleman meyakini bahwa dengan pemahaman emosi yang baik, maka kita pun dapat mengatur dan mengendalikan emosi dengan baik pula.

Empati

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, biasanya tidak terburu-buru mengambil keputusan. Alih-alih bertindak secara impulsif karena emosi sesaat, mereka dengan EQ tinggi biasanya selalu memikirkan segala sesuatu lebih dulu sebelum bertindak. Demikian pula, orang dengan EQ yang tinggi mampu memahami sudut pandang orang lain tanpa langsung menghakimi atau memberi penilaian sebelum mengerti lebih lanjut - ini adalah kemampuan yang luar biasa penting untuk dapat bekerja secara efektif baik itu dengan kolega, atasan maupun klien bisnis.

Goleman pun menyatakan, "Pemimpin yang punya empati tak hanya bisa bersimpati kepada orang-orang di sekitarnya, merekapun dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk memperbaiki kinerja perusahaan dengan cara-cara halus yang terbukti menjadi bagian dari strategi kemajuan jangka panjang."

Tahan banting dan tak mudah menyerah

Hidup tidak sesimpel itu, semua orang pasti punya masalah dan akan mengalami halangan maupun rintangan dalam suatu waktu dalam hidup masing-masing. Orang dengan EQ tinggi yang tentunya cerdas secara emosional, mengerti hal ini dan memahami bahwa hidup berputar - ada kalanya kita berada di atas dan kadang kala kita berada di bawah.

Dan pemahaman ini merupakan dasar dari sifat tahan banting dan tak mudah menyerah yang mereka miliki, untuk mencapai cita-cita jangka pendek dan jangka panjang.

Bagaimana EQ bisa mendukung karir dan pekerjaan

Mulai dari fresh grads yang baru saja menapaki jenjang karir di pekerjaan pertamanya, sampai dengan pengusaha UKM dan UMKM, anggota tim manajemen senior bahkan CEO dan presiden direktur perusahaan sekalipun akan mendapatkan manfaat dengan membangun kecerdasan emosional dalam diri masing-masing.

Kecerdasan emosional dibutuhkan untuk sukses di semua bidang - tak hanya pekerjaan, sebetulnya. Tapi, kecerdasan emosional dapat membuat kita selalu sabar, pantang menyerah dan mencari solusi saat masalah datang melanda - bukan hanya menyalahkan nasib atau mengeluh tanpa mencari jalan keluar yang tepat. Karena, cara seseorang menyikapi masalah akan membuka seperti apa karakter dan tingkat kedewasaannya yang bisa berpengaruh pada orang di sekitarnya.

Bagaimana cara meningkatkan EQ?

Memahami emosi dan perasaan sendiri

Kali berikutnya kita dihadapkan dengan situasi sulit, pikirkan baik-baik apa pengaruhnya secara emosional dan bagaimana dampaknya pada orang-orang di sekitar kita. Cobalah untuk selalu bersikap tenang, memikirkan matang-matang bagaimana mencari solusi dan menjawab masalah dengan kepala dingin dan bijaksana, alih-alih terpengaruh emosi saat mengambil keputusan dan bertindak. Salurkan emosi kepada kegiatan yang mengarah kepada hal positif.

Mengerti apa yang bisa memicu ledakan emosi

Saat emosi terpicu, sulit untuk berpikir jernih. Saat sesuatu yang memicu amarah muncul, latihlah diri kita pelan-pelan untuk selalu menarik napas panjang dan menghitung dari satu sampai sepuluh, sebelum bereaksi. Mulailah untuk mengerti apa saja yang bisa memicu ledakan emosi pada diri kita sendiri, sehingga kita bisa belajar mengendalikannya - dan terutama, menghindari konflik pemicu ledakan emosi di masa mendatang.

Contohnya: bila sudah tahu bahwa kita jadi emosi atau stres saat dikejar-kejar masalah penyelesaian tugas pekerjaan oleh klien atau atasan, cobalah untuk membuat deadline untuk diri sendiri yang harus ditepati lebih awal sehingga pekerjaan bisa terkirim dengan baik sebelum dikejar-kejar.

Belajar dari kesalahan sendiri

Tentu saja kecerdasan emosional bukanlah berarti tak mempedulikan perasaan sendiri dan membunuh luapan emosi - tetapi, kecerdasan emosional berarti mengerti diri sendiri dan mengontrol emosi serta perasaan dengan baik.

Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon serta orang terkaya di dunia saat ini, pernah menyampaikan di salah satu masterclass seminar yang ia adakan. Saat memberi pengumuman kenaikan gaji untuk pegawai Amazon dalam sebuah rilis pers, Jeff Bezos menyatakan bahwa sebenarnya ia tak setuju dengan kenaikan gaji tersebut - tetapi, alih-alih meluapkan kemarahan atau menolak mentah-mentah masalah kenaikan gaji massal ini, Jeff dan segenap anggota dewan direksi berunding dan mempertimbangkan situasi dan kondisi sebelum akhirnya memutuskan untuk menaikkan gaji dengan cara yang tepat untuk seluruh pegawai Amazon.

Bagaimana? Sudah siap untuk belajar mengontrol diri dan menjadi orang yang punya kecerdasan emosi tinggi? Banyak keuntungannya untuk bersikap bijaksana, kan?

Jam kerja yang panjang dan jadwal kerja yang padat berpotensi mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Memiliki asuransi kesehatan adalah salah satu cara untuk selalu menjaga diri sendiri dengan baik.

Para pemimpin terbaik merupakan inspirasi bagi orang lain, termasuk dalam hal kesehatan. Tingkatkan kesehatanmu setiap hari dengan mengikuti guide penting seputar gaya hidup sehat:

Hidup lebih santai tapi tetap produktif maksimal

Hindari menunda pekerjaan supaya semua cita-cita tercapai

8 Cara Mengubah Pegawai Menjadi Duta Perusahaan

Temukan Mentor yang tepat untuk kelancaran karir dan bisnismu!