Amankah simpan data di Cloud?

17 Mei 2020
healthy living thumb

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh beberapa kabar buruk mengenai data pengguna yang diretas dari aplikasi sekaligus situs jual-beli online terkemuka di Indonesia - data yang didapat hacker ini berisi jutaan nama, alamat, nomor ponsel bahkan berbagai data pribadi pelanggan. Data dan informasi personal yang bersifat sangat sensitif ini lantas dijual si peretas lewat forum di internet. Jutaan pengguna aplikasi tersebut pun kaget dan murka, karena ternyata penanganan keamanan data yang tersimpan di Cloud perusahaan aplikasi jual-beli ini tidak seaman yang dikira.

Dengan pro-kontra yang simpang siur seperti di atas, apakah menyimpan data di penyimpanan data berbasis Cloud aman? Apa saja yang perlu diketahui seputar layanan penyimpanan data berbasis Cloud? Berikut ini ulasan dan saran dari Generali Indonesia.

Apa itu penyimpanan data berbasis Cloud?

Saat ini, menyimpan data bukan hanya terbatas pada komputer dan hard disk yang disimpan di rumah atau kantor, tetapi sudah mulai banyak berpindah ke Cloud. "Cloud" yang artinya "Awan" adalah metode penyimpanan data di sejumlah server yang dikelola oleh pihak penyedia layanan. Data ini dengan mudah bisa diakses pemilik data kapan saja dan dari mana saja, bisa dari ponsel, tablet atau komputer asalkan ada koneksi internet yang memadai.

Layanan Cloud memungkinkan kita untuk tetap memiliki salinan semua data, baik itu foto, video maupun teks dan berbagai jenis dokumen lainnya - bahkan saat perangkat seperti ponsel atau komputer hilang, data tersebut tetap aman tersimpan di Cloud.

Apa saja jenis layanan penyimpanan data berbasis Cloud?

Banyak sekali berbagai layanan penyimpanan data berbasis Cloud. Contoh yang paling umum digunakan adalah Google Drive dan Dropbox. Layanan ini bersifat penyimpanan dokumen jenis apa saja, mulai dari foto, video hingga dokumen pekerjaan.

Satu hal yang perlu diketahui: layanan media sosial juga sebetulnya bersifat Cloud, lho! Contohnya, bila kita mengunggah foto dan video singkat ke Facebook, Instagram maupun video berdurasi lebih lama ke YouTube - termasuk mengunggah teks singkat ke Twitter - kita sudah menggunakan layanan penyimpanan berbasis Cloud milik mereka.

Dengan menggunakan servis dari medsos, kita pun tunduk dan menyetujui aturan pengguna yang berlaku. Karena itu, penting untuk sedikit memahami persyaratan dan ketentuan layanan saat kita menggunakan medsos - jangan mengunggah konten yang bersifat terlalu pribadi karena bila sewaktu-waktu akun diretas maka konten ini pun bisa turut jadi korban peretasan.

Apa risiko menggunakan layanan penyimpanan data berbasis Cloud?

Saat beralih menggunakan layanan Cloud, artinya kita menyerahkan seluruh data yang kita miliki dan memutuskan untuk mempercayai sang perusahaan penyedia layanan untuk menjaga baik-baik data milik kita. Sayangnya, kita sebagai pelanggan tak punya kontrol penuh atas pengamanan data. Seringkali peretas bisa mencuri data dari Cloud tanpa sepengetahuan kita sendiri maupun perusahaan penyedia layanan.

Ya, tapi tentu saja menyimpan data secara konvensional menggunakan perangkat lain yang secara fisik ada. Seperti contohnya menyimpan data di hard disk juga beresiko tinggi - bila perangkat tersebut hilang, maka seluruh data kita pun ikut hilang.

Jadi sekarang pertanyaannya: mana yang lebih aman, simpan data di hard disk fisik atau di Cloud?

Apa saja yang harus dikuatirkan?

Survei membuktikan bahwa hal paling utama yang dikuatirkan setiap pemilik data adalah peretasan atau pencurian informasi pribadi. Kebanyakan orang membuat kata sandi alias password yang terlalu mudah sehingga penjahat dunia maya mudah mencuri dan mengambil alih kepemilikan akun mereka - tapi, peretasan sebuah layanan Cloud secara keseluruhan sendiri cukup jarang terjadi karena setiap perusahaan juga tentunya berusaha sekuat tenaga untuk melindungi data yang dipercayakan pelanggan kepada server mereka.

Mungkin yang lebih perlu ditakuti ketimbang pencurian data adalah mengenai privasi dan etika bagaimana perusahaan penyediaan layanan Cloud menggunakan data kita sebagai pengguna. Sebab, dengan alasan yang cukup, pemerintah maupun pihak-pihak yang berwenang seperti kepolisian berhak meminta akses data ke perusahaan penyedia layanan.

Dan terkait etika penggunaan data, pihak penyedia layanan juga bisa dengan mudah memanfaatkan informasi pribadi kita untuk mengiklankan produk-produk yang membayar jasa ke mereka, sebagai ganti telah menyimpan data kita di server mereka. Ini jenis ketentuan yang biasanya harus kita beri centang tanda setuju di awal saat mulai menggunakan layanan, yang tak pernah dibaca oleh 99,99% pengguna layanan (hayooo, apakah kita sendiri pun termasuk pengguna layanan yang tak membaca dengan seksama perjanjian persetujuan ketentuan layanan?).

Apa keuntungan menyimpan data di Cloud?

  • Server penyimpan data ditempatkan di lokasi berbeda-beda dan kesemuanya diamankan 24 jam penuh dengan teknologi tercanggih serta sumber daya manusia terbaik.
  • Dokumen-dokumen kita biasanya diberi pengamanan ekstra dengan lapisan kode enkripsi yang jauh lebih sulit diretas ketimbang penyimpanan menggunakan hard disk yang berbentuk fisik.
  • Biasanya layanan Cloud mengenakan biaya yang sangat terjangkau.
  • Mudah digunakan: pembaruan data dilakukan secara otomatis dan akses ke dokumen diamankan dengan kata sandi.
  • Dokumen bisa diakses dari mana saja dengan perangkat apapun, asalkan ada koneksi internet yang memadai.

Adakah cara memaksimalkan pengamanan data di Cloud?

  • Gunakan layanan yang memungkinkan "pengamanan dua sisi", dimana tak hanya kata sandi yang dibutuhkan tapi juga satu metode lainnya (misalnya menggunakan sidik jari atau pengenalan wajah) untuk memastikan identitas kita.
  • Gunakan kata sandi yang cukup aman dan sulit diterka. Baca selengkapnya artikel Generali Indonesia mengenai cara membuat kata sandi yang baik, dan artikel satu lagi dari kami untuk memastikan kata sandi yang kita miliki sudah cukup aman.
  • Gunakan beberapa layanan Cloud yang berbeda-beda supaya tidak semua data berada di tempat yang sama.
  • Buat juga sebagai cadangan: back up di hard disk yang secara fisik tersimpan di tempat teraman di rumah maupun kantor. Sedapat mungkin, cadangan ini tidak perlu terhubung dengan internet.
  • Gunakan layanan VPN untuk mengenkripsi data saat berselancar di internet (terutama saat tersambung dengan WiFi di tempat umum).
  • Gunakan aplikasi untuk membuat enkripsi sebagai tambahan pengamanan ekstra bagi semua dokumen yang berisikan data penting sebelum diunggah ke layanan Cloud.

Jadi, menggunakan layanan Cloud aman atau tidak?

Setelah menimbang pro dan kontra, menggunakan layanan penyimpanan data berbasis Cloud tetap lebih aman ketimbang menggunakan hard disk berbentuk fisik. Dan bila masih kuatir, banyak langkah pengamanan yang bisa diterapkan seperti yang sudah kita bahas di atas, untuk membuat data semakin sulit diretas.

Bagaimana? Sudah lebih mengerti apa saja plus dan minus layanan penyimpanan data berbasis Cloud? Selamat mencoba menggunakan salah satunya dengan penerapan langkah keamanan dari Generali Indonesia!