Parental Burnout bisa terjadi kapan saja, ini cara atasinya

Jumat, 17 Juni 2022
Parental Burnout, bagaimana cara mencegahnya sebelum terjadi, dan menangani bila sudah kejadian?

Parental Burnout - orangtua dituntut menjalankan begitu banyak peran – selain mencari nafkah untuk menghidupi anak dan keluarga, juga dituntut berperan aktif dalam pengasuhan anak. Orangtua dituntut bekerja sekaligus membesarkan anak mereka, dan menggabungkan keduanya tidak pernah mudah.

Apalagi orangtua masa kini yang banyak terjebak dalam lingkaran “sandwich generation” dimana mereka tak hanya harus menanggung biaya hidup keluarga kecil mereka sendiri, tapi juga biaya hidup orangtua dan mertua. Keadaan ini menambah beban hidup dan merupakan salah satu faktor pemicu stres.

Apalagi, saat pandemi, ternyata, sebuah survei yang dilakukan oleh Universitas Negeri Ohio di Amerika Serikat, menginfokan bahwa 66 persen dari orangtua memenuhi kriteria untuk mengalami apa yang disebut “Parental Burnout”.

Apa itu Parental Burnout?

Apa itu “Parental Burnout?” Secara harafiah, dapat diartikan sebagai sebuah periode atau masa, di mana salah satu atau kedua orangtua merasa lelah berkepanjangan, capek menghadapi pekerjaan, urusan rumah sekaligus merawat anak – yang bila tidak ditangani, bisa menjalar menjadi depresi berkepanjangan dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Parental Burnout tidak dapat disepelekan – sebagaimana halnya dengan jenis-jenis “Burnout” lainnya. Mengapa disebut “Burnout”? Karena diibaratkan bila seorang manusia adalah seperti sebuah lilin, maka saat terjadi burnout, lilin tersebut terbakar habis dan tidak menyisakan apapun.

Demikian pula, saat seseorang mengalami burnout, ia akan merasa seperti sebuah lilin yang sudah habis terbakar: merasa lelah dan capek terus menerus, sedih, malas bergerak, malas melakukan apapun, kehilangan semangat bahkan sekedar untuk makan dan mandi.

Bagaimana mengenali tanda-tandanya?

Parental Burnout bisa dikenali lewat empat tanda-tanda berikut ini:

  1. Merasa lelah dalam menjalankan peran sebagai orangtua. Merasa capek secara fisik maupun mental dan merasa tidak dihargai. Perubahan signifikan pada kebiasaan tidur atau mood yang berubah secara cepat.

  2. Merasa jauh secara emosional dari anak-anak atau pasangan suami / istri sendiri, merasa kekurangan energi untuk berinteraksi dengan anak maupun pasangan. Mengisolasi diri dan menghabiskan waktu berlama-lama untuk sendiri, tanpa menegur sapa anggota keluarga.

  3. Merasa tidak bahagia, tidak tenang dan sedih, bahkan saat ada dalam momen-momen yang biasanya membuat seseorang bahagia, seperti bermain bersama anak atau menghabiskan waktu bersama pasangan di akhir pekan.

  4. Merasa bahwa telah gagal menjalankan peran sebagai seorang ibu / atau ayah. Merasa emosional, bersalah dan kerap menyalahkan diri sendiri, dan merasa bahwa diri secara pribadi telah berubah negatif. Kehilangan percaya diri, merasa kesal dan sedih berkepanjangan.

Parental Burnout: apa penyebabnya?

Parental Burnout tak selalu disebabkan oleh kelelahan mengurus anak. Faktanya, ada berbagai macam faktor dan elemen, internal maupun eksternal, yang dapat memicu terjadinya Burnout ini.

Mirip dengan Parental Burnout, ibu yang baru saja melahirkan kadang rentan terkena yang dinamai Baby Blues – depresi setelah melahirkan karena merasa tak sanggup mengurus anak, karena keadaan sekitar tidak mendukung, atau kurang support dari keluarga terdekat. Parental Burnout merupakan bentuk lain dari depresi yang sumbernya kurang lebih bisa berasal dari penyebab yang sama dengan Baby Blues.

Faktor tekanan ekonomi, masalah dengan keluarga inti maupun keluarga besar, perundungan di media sosial, masalah di kantor / pekerjaan, semua bisa berperan sebabkan Parental Burnout maupun Baby Blues.

Apalagi, di Indonesia, terutama para ibu – dituntut untuk selalu sempurna. Mulai dari urusan “dapur, sumur dan kasur" seperti istilah orang zaman dulu, seorang ibu masa kini tak hanya dituntut untuk bisa mengurus anak dan rumah tangga dengan piawai, tapi juga untuk bekerja dan ikut berpartisipasi menjadi breadwinner dalam keluarga. Belum lagi, istri dan ibu juga dituntut untuk tetap punya penampilan paripurna, selalu cantik dan wangi dalam kesempatan apapun. Padahal, kenyataannya tidak semudah itu, kan?

Juga, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya masih sangat berbudaya patriarki – laki-laki dituntut untuk mencari nafkah di luar, untuk melindungi keluarga dan “tidak lembek” – laki-laki yang memperlihatkan perasaannya dianggap “cengeng”. Laki-laki yang ikut berperan aktif sebagai ayah, dianggap “kurang jantan”. Dan laki-laki yang kehilangan mata pencaharian, seperti banyak terjadi saat pandemi, dianggap tak becus melindungi dan menafkahi keluarga.

Duh, capek ya? Banyak sekali sih stigma yang beredar di masyarakat? Ya, begitulah kenyataannya, tapi bagaimana kita dapat bijak menyikapinya merupakan pilihan kita sendiri.

Bagaimana cara mencegah Parental Burnout?

Tidak ada pakem ajaran pasti untuk mencegah terjadinya Parental Burnout. Yang bisa dilakukan adalah dengan selalu melakukan latihan mindfulness atau grounding: sisihkan waktu setiap hari untuk melakukan meditasi, pejamkan mata selama 5-10 menit dan tarik nafas panjang, fokuskan perhatian pada momen saat ini dan hitunglah hal positif yang ada dalam hidup.

Kemudian, berusahalah untuk selalu memahami diri sendiri: ada kalanya, kita punya batasan / limit dalam menjalankan peran sebagai orangtua. Pepatah mengatakan, “It takes a village to raise a child”, secara harafiah diartikan sebagai “Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak” – pengasuhan anak memang tak pernah mudah.

Nah, abaikan saja tuntutan-tuntutan dari media sosial untuk jadi “Perfect Parents” – jangan segan mengakui bahwa diri ini adalah manusia yang punya keterbatasan, dan jangan segan minta bantuan kepada keluarga terdekat untuk soal pengasuhan anak.

Jangan lupa, sisihkan waktu untuk “Me Time” – ini sering sekali terlupakan, tapi, seorang ibu atau ayah juga merupakan individu yang ada kalanya “butuh piknik” – alias butuh untuk menyenangkan dirinya sendiri sebagai bentuk penghargaan atas semua yang sudah dilakukan sampai saat ini. Beri penghargaan kepada diri sendiri atas keberhasilan sebagai orangtua, dan bahwa sudah bekerja keras selama ini untuk menghidupi keluarga.

Bagaimana cara mengatasi Parental Burnout?

Jangan takut untuk mencari bantuan tenaga kesehatan profesional bila benar-benar dibutuhkan, ya. Karena, sebuah luka di badan bisa diobati sebab ia terlihat. Sedangkan, luka di batin perlu penanganan khusus, berhubung efeknya bisa luar biasa dalam dan membekas bila tidak segera diobati.

Faktanya, masalah kesehatan mental punya stigma buruk di masyarakat. Orangtua yang mengalami Parental Burnout kerap dituding “tidak becus mengurus anak”, “kurang bersyukur”, “manja / cengeng” dan segenap tuduhan buruk lainnya.

Nah, satu kunci yang penting diingat, adalah: jangan pernah kuatir akan omongan orang lain – apapun yang Moms and Dads lakukan dan pilihan apapun yang dijalankan untuk mengatasi masalah Parental Burnout yang sedang dialami, percayalah bahwa itu adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh.

Belajar prinsip “Stoic” alias cuek – terserah orang mau ngomong apa, yang penting kita tetap jalan maju ke depan demi kebaikan bersama. Setuju?

Komunikasi suami-istri adalah elemen penting melawan Parental Burnout

Banyak konflik internal dalam rumah tangga terjadi karena kurangnya komunikasi antara suami dan istri. Nah, jangan sampai ini menjadi salah satu pemicu Parental Burnout, ya!

Sebagai pasangan dan orangtua, komunikasi antara suami dan istri merupakan elemen penting untuk melawan Parental Burnout. Selalu jaga komunikasi dengan baik dan berikan dukungan dalam keadaan bagaimanapun kepada pasangan.

Sisihkan waktu setiap harinya untuk berduaan saja, misalnya sebelum anak bangun di pagi hari atau saat mereka tidur. Ngobrol dari hati ke hati dan ingatlah alasan mengapa kalian memutuskan untuk menikah dan masih tetap bersama saat ini. Bila punya keluh kesah terhadap pasangan, sampaikan dengan cara komunikasi yang diplomatis dan dengan kepala dingin, jangan ngomel-ngomel terus, ya.

Sikap dewasa, saling pengertian dan komunikasi lancar yang terbuka, adalah resep pasangan yang solid. Dan, pasangan yang solid, harmonis dan saling mendukung akan lebih mudah menjalankan peran bersama sebagai orangtua yang baik pula.

Selamat mencoba!

 

Smart Parents pasti pilih BeSMART Link: Proteksi sekaligus investasi

Sebagai orangtua, kita ingin punya perlindungan menyeluruh untuk anak dan keluarga, sekaligus menabung demi persiapan masa depan anak yang cerah nanti. Fakta kan, bahwa biaya hidup semakin naik drastis dari tahun ke tahun, dan biaya pendidikan serta kesehatan juga tidak bisa dianggap sepele.

Mau punya asuransi sekaligus investasi? Bagaimana caranya? Mudah saja! Moms and Dads bisa mulai memiliki proteksi sekaligus investasi di produk yang aman dan terpercaya hari ini juga. Di Generali Indonesia, kami punya berbagai produk investasi yang bisa dipilih oleh nasabah. Solusinya pun tidak generik, tapi disesuaikan dengan profil nasabah: situasi keluarga, keadaan finansial, gaji bulanan hingga cita-cita yang ingin dicapai. Apalagi, produk-produk investasi Generali Indonesia didukung oleh teknologi mutakhir ROBO ARMS™, fitur baru dari ARMS (Auto Risks Management System) yang memudahkan nasabah mengelola risiko investasi yang sesuai profil risikonya dengan mengubah parameter ARMS berdasarkan kuasa dari nasabah.

Salah satu produk andalan Generali Indonesia yang bisa jadi pilihan nasabah dengan fitur canggih ROBO ARMS™ ini, adalah BeSMART Link.

BeSMART Link adalah Produk Proteksi dengan manfaat investasi yang memberikan perlindungan meninggal dunia hingga usia 99 tahun. BeSMART Link memberikan fleksibilitas bagi kamu, untuk memiliki berbagai jenis Asuransi Tambahan dan instrumen investasi dengan risiko yang terukur dan terjaga, sesuai dengan pilihan pribadimu, yang paling cocok dengan profil kamu sendiri.