Anak kecanduan main game: bagaimana menangani & menyikapinya

Minggu, 19 Juni 2022
Anak kecanduan main game: bagaimana cara menyikapinya sebagai orangtua

Anak zaman sekarang terlahir di era gadget. Tak terbayangkan bagi mereka yang lahir tahun 2010 ke atas, dunia yang tanpa internet setiap saat. Sedari kecil, mereka tumbuh menyaksikan orangtua mereka berkomunikasi, bekerja dan melakukan apa saja lewat ponsel pintar atau tablet genggam.

46 persen orang Indonesia ternyata mulai aktif main game daring di masa pandemi

Kemudian, saat pandemi yang mengharuskan sekolah berpindah jalur menjadi daring, anak-anak pun diwajibkan menggunakan ponsel pintar, tablet atau laptop pribadi untuk mengikuti pelajaran. Penggunaan gadget ternyata naik cukup signifikan selama pandemi.

Berdasarkan survei dari InMobi, bertajuk “Mobile Gaming Through the Pandemic and Beyond in Southeast Asia 2021”, 46 persen orang Indonesia yang disurvei, ternyata mengaku baru pertama kali main game saat masa pandemi. Jumlah pengguna game online di Indonesia naik dua kali lipat pada tahun 2020 hingga 2021, dan kini gamers Indonesia menempati jumlah ketiga tertinggi di dunia.

Semenjak pandemi, rata-rata gamers Indonesia habiskan waktu 11 jam untuk bermain

Nah, juga berdasarkan survei tersebut, dari jumlah total keseluruhan pemain game daring di Indonesia, lebih dari setengahnya, yaitu 55 persen, adalah remaja laki-laki dan pria muda usia 16 sampai 24 tahun. Dan ternyata, 80 persen dari gamers ini adalah “Committed Gamers” – artinya, tak hanya main game sesekali saja, tapi rutin dan aktif bermain berjam-jam setiap hari.

Bahkan, dimulai saat pandemi, kenaikan waktu bermain game di ponsel meningkat pesat di kalangan masyarakat Indonesia. Bila sebelum PSBB diberlakukan, orang Indonesia hanya bermain antara jam 12 siang hingga 7 malam, maka, saat PSBB / PPKM / lockdown lalu, orang Indonesia bahkan mulai aktif mengakses permainan sejak jam 6 pagi hingga 13 siang, lalu antara jam 13 hingga jam 17 sore kegiatan tersebut biasanya menurun drastis, untuk kembali naik pesat dimulai jam 18 hingga 22 malam setiap harinya.

Jadi, bila sebelum pandemi rata-rata committed gamers bermain hanya maksimal 7 jam sehari, saat pandemi, jam bermain naik jadi 11 jam per harinya – yang artinya, nyaris setengah dari 24 jam setiap hari dihabiskan hanya untuk main game.

Bagaimana membedakan antara “sekedar suka main” dengan “kecanduan main” game?

Nah, bila ternyata jumlah orang dewasa saja yang kecanduan main game banyak sekali, apalagi anak-anak yang lebih mudah terpengaruh?

Tapi, bagaimana cara membedakan antara “sekedar suka main” dengan “kecanduan main” game? Bagaimana cara mengenali bahwa hobi main ini sudah terlalu berlebihan dan berubah menjadi kecanduan, yang tentunya harus segera ditangani?

Dari berbagai sumber, termasuk para ahli kesehatan, dokter spesialis anak serta psikolog, ada beberapa tanda-tanda yang sudah mengindikasikan seseorang (tidak hanya anak, ya, tanda ini berlaku pada semua usia) sudah masuk dalah taraf kecanduan nge-game yang harus segera diberi penanganan:

  1. Tidak suka diganggu, jadi lebih suka menyendiri di dalam kamar selama berjam-jam.
  2. Tidak mau meninggalkan game bahkan sampai lupa makan, mandi, dan mengerjakan tugas sekolah.
  3. Menolak diajak bicara dan tak mau berinteraksi dengan orangtua, adik-kakak maupun orang lain yang serumah.
  4. Marah, mengamuk atau reaksi menangis berlebihan saat game diambil oleh orangtua.
  5. Nilai-nilai di sekolah mendadak anjlok drastis, tidak bisa konsentrasi, dan insomnia.

Bila si buah hati terlihat menampilkan satu atau lebih dari tanda-tanda di atas, berarti sudah waktunya orangtua untuk lebih mendekati mereka dan mengajak mereka bicara baik-baik dengan kepala dingin soal keterlibatan mereka dengan game yang sudah menjurus ke tingkah laku adiksi / kecanduan yang abnormal.

Langkah-langkah penanganan kecanduan anak terhadap game online

Lakukan langkah-langkah berikut untuk membantu anak sembuh dari kecanduannya main game di ponsel / tablet sebelum terlambat:

  1. Bicaralah dengan mereka secara baik-baik. Di usia 6-10 tahun, umumnya mereka lebih mudah untuk dikendalikan dan diberi pengertian, tapi anak yang sudah menjelang remaja di usia 11 hingga 18 tahun biasanya akan lebih banyak memberontak.
    Kuncinya adalah SABAR. Jangan marah-marah dan membentak anak, jangan menyita gadget mereka begitu saja tanpa penjelasan karena ini hanya akan memperburuk keadaan.

  2. Ajak anak untuk memahami MENGAPA kecanduan bermain game tidak baik – apa saja efek negatifnya dan beri contoh nyata. Misalnya, bila dulu anak punya nilai bagus di sekolah, semenjak kecanduan permainan online nilai tersebut anjlok – beri mereka pengertian bahwa ini bukanlah sesuatu yang berpengaruh baik bagi mereka sendiri.

  3. Beri pemahaman bahwa anak sebetulnya boleh main game, akan tetapi DENGAN BATASAN yang jelas dan jangan sampai mengabaikan hal-hal yang lain.

  4. Pelan-pelan, dampingi mereka untuk mengatasi kecanduannya. Ajak mereka beraktivitas di luar ruangan bersama seluruh keluarga, seperti jalan-jalan pagi, lari, berenang atau kemping bersama – apapun itu yang TIDAK menggunakan gadget / ponsel, supaya anak kembali melihat bahwa ada dunia nyata di luar permainan daring yang juga tak kalah mengasyikkan.

  5. Beri anak kesibukan lain, seperti les musik, kelas seni, les menari atau menggambar, ikut klub sepakbola atau basket, misalnya. Bila memungkinkan, cari kegiatan yang memungkinkan anak bertemu dan berkenalan dengan teman sebayanya (atau ajak teman sekelas mereka untuk bersama-sama ikut les bisa jadi pilihan), supaya anak bisa berinteraksi langsung dengan “manusia sungguhan”. Ini akan membantu anak pelan-pelan menyadari bahwa interaksi dan berbagi momen dengan teman “betulan” di dunia nyata ternyata lebih menyenangkan dari teman di dunia maya.

  6. Bila diperlukan, ajak anak bertemu dengan psikolog. Biasanya, sebagai orangtua kita sering tak mampu bersikap netral dan cenderung emosional karena panik atau frustrasi dalam mengatasi masalah ini. Nah, psikolog adalah orang luar yang obyektif dan mungkin membuat anak lebih nyaman berterus terang tanpa perlu takut akan dihakimi.

Jangan menghakimi – belajarlah menjadi orangtua yang bijak

Jangan menghindari masalah – bila ada problem yang timbul sehubungan dengan anak, sebagai orangtua sudah jadi tugas kita untuk mengatasi masalah tersebut, bukannya denial dan menutup mata.

Juga, jangan terbawa emosi – stop menghakimi – intelegensi emosional (EQ) seorang anak sudah sewajarnya belum berkembang sempurna (bahkan, kadang orang dewasa saja masih belum sanggup menyikapi berbagai hal dengan bijak), jadi, cobalah memahami anak sebaik-baiknya.

Stok kesabaran ekstra diperlukan terutama bagi anak berusia remaja – ingatlah Moms and Dads bahwa saat anak beranjak besar, para ABG ini hormonnya sedang tak seimbang, sehingga mereka cenderung meledak-ledak dan sulit diatur.

Salah satu cara terbaik untuk membantu anak mengatasi masalahnya (masalah apapun, tak hanya soal kecanduan permainan daring) adalah dengan mengayomi mereka. Tunjukkan rasa cinta dan kasih sayang sebagai orangtua, dan dengarkan keluh kesah anak. Beri anak kenyamanan dan perasaan aman terlindungi karena orangtua mereka ada saat dibutuhkan.

Cara penanganan lebih lanjut pasca penyembuhan anak dari kecanduan game

Saat anak sudah menunjukkan perkembangan baik pasca penanganan dari kecanduan terhadap game online, maka ada langkah-langkah lebih lanjut yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah anak lapse / kembali jatuh ke dalam jeratan game:

  1. Melarang penggunaan gadget di dalam kamar pribadi. Gadget, termasuk komputer, konsol video game, ponsel pintar dan tablet hanya boleh digunakan di ruang komunal seperti ruang makan atau ruang kumpul keluarga.

  2. Memberi batasan kepada anak untuk menggunakan perangkat elektronik mereka: 1 jam maksimal per hari bagi anak usia 5-7 tahun, 90 menit untuk anak 8-10 tahun dan 2 jam maksimal per hari bagi anak usia 11 tahun ke atas – dengan perhitungan bahwa waktu total tersebut sudah mencakup semua. Termasuk untuk bermain game, tapi juga untuk mengerjakan PR dan tugas dari sekolah.

  3. Tetap konsisten untuk sabar dan mengajak anak beraktivitas di luar ruangan maupun berinteraksi dengan orang di dunia nyata, baik itu orang rumah, teman sekelas maupun teman main.

  4. Tetap sediakan waktu secara rutin untuk mendengarkan cerita apapun yang ingin disampaikan anak setiap harinya.

Praktek “Mindfulness” untuk membuat anak lebih zen

Salah satu efek buruk dari kelebihan main game adalah anak sulit fokus dan konsentrasi, dan tidak bisa tenang / mudah bosan.

Untuk mengatasinya, orangtua bisa mengajak anak mempraktekkan latihan mindfulness setiap harinya. Meski cukup dengan 10-15 menit saja, sisihkan waktu untuk lakukan latihan singkat mindfulness.

Langkah-langkah mudah melatih mindfulness bersama anak:

  1. Duduk bersisian di ruang tamu atau di kamar tidur anak.
  2. Berpegangan tangan dan pejamkan mata.
  3. Tarik nafas dan konsentrasi pada momen saat ini juga, selama 10 tarikan nafas.
  4. Mengheningkan cipta selama 5 menit.
  5. Kemudian berpelukan.

Latihan singkat yang tampak sederhana ini bisa bantu menciptakan efek positif dan membuat anak lebih tenang, serta membantu mengatasi kecanduan terhadap game online. Latihan mindfulness juga bisa membantu anak lebih konsentrasi di sekolah saat memperhatikan pelajaran dan mengerjakan tugas.

Selengkapnya mengenai manfaat mindfulness bisa dibaca di tautan berikut ini.

 

Jaga kesehatan keluarga sepanjang waktu

Setelah pandemi usai, kita tetap harus menjaga kesehatan seluruh keluarga, sebab, masih ada banyak penyakit lain yang masih mengintai di luar sana. Baik itu problem kesehatan secara fisik maupun secara psikis, keseimbangan mind-body-and-soul tentunya harus dijaga.

Mulai memperhatikan kesehatan sendiri dan seluruh keluarga, harus jadi prioritas utama. Mulailah memberikan hadiah terbaik bagi kamu dan orang-orang yang terpenting dalam hidupmu, dengan memberikan perlindungan lewat asuransi kesehatan.

Perlindungan sepanjang waktu dalam bentuk asuransi kesehatan ini akan selalu ada untuk kamu di situasi seperti apapun, memberi dukungan dan memproteksi kamu beserta orang-orang yang terpenting dalam hidupmu. Kamu tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana kamu bisa menciptakan perlindungan sepanjang waktu bagimu dan keluarga tersayang? GMS solusinya!

Kini, Generali Indonesia menghadirkan Asuransi Tambahan Generali Medical Solution yang dapat dipilih oleh nasabah dalam merencanakan perlindungan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga tercinta. Asuransi Tambahan Generali Medical Solution memberikan perlindungan kesehatan menyeluruh untuk Nasabah yang memerlukan perlindungan kelas satu.

Dilengkapi dengan fasilitas pembayaran biaya perawatan sesuai tagihan dengan fasilitas cashless di jaringan rumah sakit rekanan, hingga wilayah pertanggungan sampai dengan seluruh dunia, GMS juga meng-cover perawatan berbagai penyakit kritis.

Ingin mulai menambahkan GMS ke program asuransimu? Kamu bisa berkonsultasi dengan Agen Generali yang terdekat di kotamu, lewat tautan berikut ini.