Video Game untuk Anak: baik atau tidak? Apa saja batasannya?

Selasa, 21 Juni 2022
Video Game untuk Anak: baik atau tidak? Apa saja batasannya?

Video Game untuk Anak: baik atau tidak? Sebagai orangtua, kita tentu tidak bisa mengelak dari tren masa kini, termasuk di dalamnya video game – jenis mainan elektronik yang satu ini mulai muncul di tahun 1980an lalu (hayo, Moms and Dads yang merupakan Millennial pasti ingat dong, game-game zaman dulu seperti Super Nintendo, SEGA dan Game Boy?) dan berkembang ke tahun 1990an (masih ingat serunya konsol PlayStation 1, 2 dan 3?).

Nah, anggapan orang zaman dulu, main video game itu tidak baik untuk anak – memang, banyak orangtua yang tidak mempermasalahkan anaknya main video game, tapi, tetap saja anggapan yang beredar di masyarakat adalah video game bisa membuat anak “bodoh” dan ketinggalan pelajaran.

Video game di Indonesia: jumlah gamer / pemain video game tertinggi ketiga di dunia

Sebuah survei dari pembuat game / piranti lunak (SELL) mengestimasikan bahwa 96 persen dari anak muda usia 10 hingga 17 tahun bermain video game lewat media konsol (PlayStation, Nintendo Switch), tablet genggam, ponsel pintar dan komputer – baik itu laptop maupun komputer desktop.

Sedangkan, sebuah survei oleh We Are Social di Januari 2022 lalu menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah pemain video game terbanyak ketiga di dunia. Laporan tersebut mencatat ada 94,5% pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun di Indonesia yang memainkan video game per Januari 2022. Posisi pertama adalah Filipina dan posisi kedua Thailand.

Wah, ternyata banyak juga ya orang di Asia Tenggara yang suka main game.

Video game: faktanya, tidak selalu buruk

Nah, main video game ternyata punya banyak manfaat bagi anak-anak, lho. Saat bermain video game, kita diajarkan untuk mampu mencari pemecahan masalah, berpikir kritis, menggunakan logika dan melatih bahasa Inggris (sebab, kebanyakan permainan menggunakan bahasa Inggris). Ini tentunya positif untuk anak – membantu mengembangkan kemampuan kognitif juga, ya.

Selain itu, ternyata main game bisa membuat anak malah jadi lebih pintar secara IQ. Mei 2022 lalu, Scientific Reports mempublikasikan penemuan mereka, hasil dari menginvestigasi lebih dari 5 ribu anak usia 10 hingga 12 tahun di Amerika Serikat. Nah, ternyata, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa anak yang bermain game dalam jumlah waktu cukup banyak selama 2 tahun (antara usia 10 hingga 12 tahun), menunjukkan perkembangan intelegensi yang lebih baik ketimbang anak yang tidak bermain game. IQ para anak yang juga gamers ini ternyata naik 2,5 poin lebih tinggi dibanding rata-rata anak lain, dalam kurun waktu 2 tahun.

Game vs TV: pembelajaran pemecahan masalah secara aktif

Nah, bedanya game dengan tontonan TV – baik itu TV konvensional maupun TV di ponsel atau TV di internet (YouTube, Netflix, Disney Hotstar, dan lain-lainnya) adalah fakta bahwa menonton tayangan membuat anak tetap pasif – tidak perlu berpikir secara aktif.

Sementara, bermain game menuntut anak fokus dan terutama, untuk permainan yang bersifat petualangan, anak dituntut untuk membuat strategi, mengambil keputusan dan secara aktif menggunakan pikirannya untuk memenangkan permainan.

Adakah sisi negatif dan batasan-batasan yang perlu diketahui?

Ya, tentu saja ada. Mulai dari segi waktu – anak sebaiknya dibatasi bermain game hanya di akhir pekan saja, dan sebagai orangtua, kitalah yang harus berperan proaktif untuk menetapkan batasan waktu bagi anak untuk main game.

Kemudian, game yang dimainkan anak juga harus jadi perhatian. Pastikan game tersebut sesuai dengan usia anak, dengan memperhatikan rating / penilaian yang biasanya tertulis di sampul game atau di keterangan aplikasi di PlayStore / AppStore.

Misalnya, Fortnite, Mobile Legends dan Pokémon Go sebaiknya hanya diizinkan untuk anak yang berusia 13 tahun ke atas. Sedangkan, permainan yang bersifat lucu dengan karakter menggemaskan seperti seri Mario di Nintendo Switch (Mario Kart, Mario Galaxy, Mario Odyssey maupun Mario Party), boleh dimainkan semua umur, karena konteksnya yang tidak mengandung kekerasan sama sekali.

Sedangkan game yang punya muatan unsur-unsur kekerasan seperti Assassin’s Creed, Free Fire, Mortal Kombat, sebaiknya hanya dimainkan oleh anak yang sudah menjelang dewasa, usia 17 tahun ke atas.

Bagaimana menciptakan keseimbangan antara game dan dunia nyata?

Anak merupakan kertas putih polos tanpa coretan, dan bagaimana pembentukan karakternya kelak merupakan tanggung jawab dari orangtua sendiri. Sebagai figur dewasa yang jadi panutan anak, Moms and Dads sudah sepantasnya menjadi pemberi contoh, penengah masalah dan pemberi keputusan dalam keluarga.

Kadang, karena tidak kita awasi dengan baik, anak jadi terlalu sering main game dan malah jadi sedentari – mager, malas gerak, hanya duduk seharian di sofa sambil memegang konsol game atau ponsel pintarnya. Masalah sedentari ini, selain bisa picu kegemukan / obesitas dan tentunya kurang baik bagi anak, karena anak jadi kurang interaksi dengan orang di sekitarnya.

Nah, salah satu cara menciptakan keseimbangan antara game dan dunia nyata adalah dengan tegas memberikan batas waktu untuk masing-masing kegiatan – mulai dari mengerjakan PR, berolahraga atau berkegiatan di luar ruangan, makan malam sambil mengobrol bersama orangtua, hingga main game di akhir pekan – semua punya porsi masing-masing yang disesuaikan dengan umur si anak.

Awasi interaksi anak dengan gamers / pemain lain secara daring

Untuk anak di bawah umur, Moms and Dads juga harus pastikan bahwa anak aman di “dunia game” tersebut, ya, awasi interaksinya dengan sesama pemain lain yang terhubung lewat jalur online, dan jangan segan bertindak bila anak terindikasi kena bullying / perundungan secara daring.

Selain bullying / perundungan, yang harus diperhatikan juga adalah para predator seksual di internet – ini juga harus diberi pengawasan khusus, ya, Moms and Dads, jangan biarkan anak chatting / rutin komunikasi dengan siapapun yang tak jelas identitasnya lewat platform permainan apapun. Ajari anak untuk tidak memberitahukan identitas aslinya maupun menginformasikan apapun yang bersifat personal, seperti alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah maupun memberikan foto atau elemen yang bisa membuat anak dikenali dan lantas mudah menjadi target kejahatan.

Bukannya ingin menakut-nakuti, kita tetap harus waspada karena sebagai orangtua, tugas melindungi anak sudah menjadi bagian dari tanggungjawab kita, kan?

Tips terakhir, berusahalah untuk memahami anak dan dunianya. Moms and Dads sebaiknya berusaha untuk mengerti apa saja dan seperti apa game yang dimainkan anak, bagaimana cara bermainnya dan cobalah untuk ikut bermain bersama sesekali. Anak yang merasa bahwa orangtuanya peduli akan apa yang jadi ketertarikannya, akan lebih mudah untuk didekati dan diberi pengertian apa yang boleh dan apa yang tidak.

Lakukan pendekatan ke anak secara bertahap sehingga pelan-pelan kita sebagai orangtua pun bisa membimbing anak untuk lakukan penggunaan game maupun gadget yang dimilikinya dengan lebih tepat dan terawasi.

 

Smart Parents pasti pilih BeSMART Link: Proteksi sekaligus investasi

Jadilah orangtua masa kini yang SMART dan paham akan pentingnya mengatur masa depan bagi buah hati kita. Anak cepat sekali tumbuh besar, tak terasa, kepentingan-kepentingannya pun semakin banyak dan biaya yang dibutuhkan semakin besar.

Bagaimana caranya menabung sekaligus menciptakan perlindungan bagi anak kita? Mudah sekali, Moms and Dads.

Caranya adalah mulai memiliki proteksi sekaligus investasi di produk yang aman dan terpercaya. Di Generali Indonesia, kami punya berbagai produk investasi yang bisa dipilih oleh nasabah. Solusinya pun tidak generik, tapi disesuaikan dengan profil nasabah: situasi keluarga, keadaan finansial, gaji bulanan hingga cita-cita yang ingin dicapai. Apalagi, produk-produk investasi Generali Indonesia didukung oleh teknologi mutakhir ROBO ARMS™, fitur baru dari ARMS (Auto Risks Management System) yang memudahkan nasabah mengelola risiko investasi yang sesuai profil risikonya dengan mengubah parameter ARMS berdasarkan kuasa dari nasabah.

Salah satu produk andalan Generali Indonesia yang bisa jadi pilihan nasabah dengan fitur canggih ROBO ARMS™ ini, adalah BeSMART Link.

BeSMART Link adalah Produk Proteksi dengan manfaat investasi yang memberikan perlindungan meninggal dunia hingga usia 99 tahun. BeSMART Link memberikan fleksibilitas bagi kamu, untuk memiliki berbagai jenis Asuransi Tambahan dan instrumen investasi dengan risiko yang terukur dan terjaga, sesuai dengan pilihan pribadimu, yang paling cocok dengan profil kamu sendiri.