DBD: Waspada, kasus Demam Berdarah Dengue kembali melonjak!

Kamis, 28 Juli 2022
DBD: Demam Berdarah Dengue

DBD: sering terlupakan, tapi ternyata cukup fatal.

Setiap tahun, sejak tahun 1968, ada satu penyakit endemi yang selalu hadir di Indonesia dan ternyata tingkat fatalitasnya cukup tinggi. Yaitu, Demam Berdarah Dengue, biasa disingkat sebagai DBD.

Indonesia dengan iklim tropisnya, yang sering tiba-tiba mengalami hujan di tengah musim kemarau, merupakan habitat ideal bagi nyamuk-nyamuk vektor DBD tersebut.

DBD: kasus demam berdarah di Indonesia kembali meningkat

Kementerian Kesehatan mencatat di tahun 2022, jumlah kumulatif kasus Dengue di Indonesia sampai dengan Minggu ke-22 dilaporkan 45.387 kasus. Sementara jumlah kematian akibat DBD mencapai 432 kasus.

Penyakit ini menyebar lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus primer (utama) dan Aedes albopictus sebagai pembawa virus sekunder, dan umum terjadi di negara tropis dan subtropis seperti Indonesia.

Serupa tapi tak sama, apa saja perbedaan gejala DBD dengan gejala COVID-19?

Gejala awal DBD mirip dengan COVID-19, sama-sama ada demam, nyeri kepala dan nyeri otot. Adanya kesamaan lain yaitu terdapat kelainan organ dan nilai trombosit turun pada minggu pertama.

Namun Covid-19 lebih sering diikuti gejala pernafasan, sedangkan DBD lebih sering terjadi perdarahan (mimisan dan bintik merah di kulit). Karena itu, pemeriksaan antigen dengue dan RT Swab PCR sangat penting pada fase awal penyakit untuk memastikan, apakah ada infeksi bersamaan (koinfeksi). 

Masa inkubasi DBD berkisar antara 3-10 hari, biasanya 5-7 hari. Sedangkan masa inkubasi Covid-19 diperkirakan berlangsung hingga 14 hari, dengan rata-rata 4-5 hari dari paparan hingga timbulnya gejala.

Dan salah satu faktor penentu yang cukup penting: pada DBD, tidak akan terjadi anosmia (kehilangan daya penciuman dan perasa), sedangkan dalam kasus COVID-19, gejala anosmia ini cukup prevalen terjadi pada penderita.

Gejala demam berdarah yang mirip COVID-19, apa saja?

Nah, gejala-gejala yang umum dialami pasien DBD, yang miriiip sekali dengan gejala COVID-19, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Nyeri otot dan sendi
  • Kelelahan
  • Sakit kepala / migrain

Gejala demam berdarah yang berbeda dengan COVID-19, apa saja?

Sedangkan gejala-gejala penderita DBD yang tidak dialami oleh pasien COVID-19 antara lain:

  • Kulit ruam kemerahan
  • Perdarahan pada area gusi
  • Mimisan
  • Pada beberapa kasus ekstrim, terdapat pendarahan dalam tubuh yang bisa sebabkan syok berakibat fatal membahayakan nyawa penderita
  • TIDAK MENULAR – bedakan dengan COVID-19 yang bisa menginfeksi orang di sekitarmu, DBD sama sekali tidak menular.

DBD bisa sembuh sendiri, atau ada obatnya?

Nah, DBD ini sebetulnya tidak memiliki obat anti virus khusus. Penanganan umumnya dilakukan dengan istirahat total, asupan cairan (minum lebih banyak, atau diinfus) dan obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen. Pada kasus yang cukup parah, penderita biasanya akan dirawat inap supaya dapat dimonitor lebih seksama oleh tenaga medis.

Orang yang terinfeksi virus ini untuk kedua kalinya memiliki risiko yang jauh lebih besar terserang jenis yang parah, sebab virus dengue sendiri terdiri dari empat jenis, yaitu virus dengue serotipe 1, serotipe 2, serotipe 3 dan serotipe 4. Keempat jenis virus ini biasa disingkat sebagai DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 - dan kesemuanya ada di Indonesia.

Grup usia dan profil pasien seperti apa yang paling rentan terkena DBD?

Ternyata, anak-anak dan remaja, di usia mulai dari bayi hingga 17 tahun, merupakan grup usia yang paling rentan terkena demam berdarah.

Apalagi anak yang obesitas / kegemukan atau kelebihan berat badan, sangat rentan terkena DBD karena sistem imun tubuh yang kurang baik.

Disiplin menerapkan 3M plus untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk menjadi kunci dari pengendalian DBD.

Ciri-ciri nyamuk DBD

Kenali nyamuk DBD lewat warna dan bentuknya. Ciri-ciri nyamuk ini adalah berukuran kecil, dengan warna hitam dan loreng putih di seluruh tubuh. Mampu terbang setinggi 100 meter dan sejauh 400 meter, daya jangkau penularan si nyamuk ternyata cukup luas, mencakup area besar di sekeliling tempatnya bersarang.

Nyamuk DBD suka bersarang di tempat atau wadah penampungan air yang jernih, yang digunakan sebagai lokasi bertelur. Suka tempat yang agak gelap dan lembab, habitat nyamuk DBD ini antara lain tempat penampungan air buatan seperti bak mandi, ember, vas bunga, kaleng bekas dan tempat sejenis.

Sifat khas dari nyamuk demam berdarah dapat dilihat dari waktu gigitan. Nyamuk-nyamuk ini aktif menggigit pada pagi hingga sore hari, paling aktif saat dua jam setelah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam.

Langkah pencegahan 3M Plus untuk meminimalisir perkembangbiakan nyamuk DBD

Langkah-langkah yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia antara lain: 

  1. Rajin menguras penampungan air, termasuk bak mandi, toren air dan lain-lain sebagainya. Selain dikuras, gosok secara bersih dinding penampungan air agar telur nyamuk yang menempel ikut musnah terbasmi.
  2. Jika tak dapat menguras penampungan air, masukkan bubuk larvasida untuk memberantas jentik-jentik nyamuk.
  3. Tutup rapat-rapat tempat penampungan air di rumah. Kubur barang-barang bekas dalam tanah untuk cegah lingkungan kotor yang berisiko jadi sarang nyamuk. Daur ulang limbah dan barang bekas, sebagai alternatif mengubur barang bekas dalam tanah. 

Selain itu, fogging atau pengasapan anti nyamuk juga dapat dilakukan di sekitar rumah secara berkala.

Pakai penangkal nyamuk berbahan herbal

Ternyata, berbagai krim anti nyamuk mengandung zat-zat kimia yang toksik dan punya potensi berbahaya, terutama bagi bayi, balita dan lansia yang lebih sensitif.

Untuk menghindari paparan zat beracun dari krim anti nyamuk pasaran, buat sendiri penangkal nyamuk dari bahan herbal yang ramah untuk kulit dan tidak beracun.

Penangkal nyamuk buatan rumah sendiri bisa dibuat dari bahan-bahan alami ini:

  • Virgin Coconut Oil / VCO / Minyak Kelapa. VCO adalah ekstrasi buah kelapa segar tanpa penambahan bahan kimia dan memiliki asam lemak baik serta antioksidan polifenol di dalamnya, yang bagus untuk melembabkan kulit, menghilangkan bekas luka, mencegah jerawat dan juga bersifat anti virus, anti jamur serta anti bakteri.
  • Essential Oil, adalah minyak alami yang diekstrak dari satu jenis tanaman tertentu, biasanya minyak ini didapatkan dari akar, batang, daun, buah atau bunga. Untuk anti nyamuk, gunakan Essential Oil lavender, citronella / sereh wangi, lemon, jeruk, dan kayu putih.

Cara meracik penangkal nyamuk herbal buatan rumah sendiri:

Campurkan 100 mililiter VCO dengan maksimal 10 tetes Essential Oil pilihanmu. Kamu bisa gabungkan berbagai Essential Oil yang disarankan di atas, sesuai bau yang kamu suka.

Misalnya: 100 ml VCO dicampur dengan 2 tetes Essential Oil lavender, 3 tetes citronella, 1 tetes lemon, 1 tetes jeruk dan 3 tetes kayu putih, untuk wangi yang lebih segar. Atau, perbanyak lavender untuk wangi yang lebih lembut.

Memelihara tumbuhan anti nyamuk di taman dan dalam pot di ruangan

Di taman atau dalam pot bunga yang diletakkan di ambang jendela untuk mencegah nyamuk masuk, kamu juga bisa menanam beberapa tanaman anti nyamuk ini:

  • Sereh wangi / citronella
  • Bunga marigold
  • Bawang putih
  • Basil atau biasa disebut kemangi Italia
  • Tanaman mint
  • Rosemary

Terkena DBD? Jangan kuatir, ini langkah penanganannya

1. Cek darah lengkap

Bila kamu atau keluarga mengalami gejala-gejala DBD seperti disebutkan di atas, langsung hubungi lab terdekat untuk lakukan cek darah. Pada pemeriksaan darah lengkap, semua komponen darah akan dihitung kadarnya. Hasil dari tes ini akan menunjukkan angka komponen darah yang dibutuhkan untuk mendiagnosis, seperti trombosit, plasma, dan hematokrit.

Kamu akan dinyatakan positif terkena DBD apabila: 

  • Jumlah trombosit ≤ 100.000/µl
  • Nilai hematokrit meningkat hingga ≥ 20% dari nilai normal
  • Nilai hematokrit menurun hingga ≥ 20% dari nilai normal setelah mendapatkan terapi cairan 

2. Beristirahat total, minum banyak cairan dan obat pereda nyeri

Bila sudah positif terkena DBD, langsung istirahatkan diri secara total, banyak tidur dan berbaring, perbanyak asupan cairan air putih dan jus buah berwarna merah (jambu klutuk, kranberi) dan rutin minum obat pereda nyeri seperti parasetamol ataupun ibuprofen.

3. Rawat inap bila dirasa perlu atau saat gejala memburuk

Bila gejala dirasa memburuk, pertimbangkan untuk langsung meluncur ke Instalasi Gawat Darurat / IGD rumah sakit terdekat. Dengan rawat inap, nakes dapat memonitor keadaan pasien penderita DBD dengan lebih baik.

Bagaimana dengan Vaksin DBD? Apakah efektif mencegah penyakit ini?

Nah, tidak seperti vaksin flu atau vaksin Covid-19, para ilmuwan masih belum memiliki vaksin yang aman dan efektif untuk melawan demam berdarah.

Sejak tahun 2015, ada vaksin yang diberi nama Dengvaxia (CYD-TDV adalah nama kode ilmiahnya). Vaksin ini merupakan vaksin perdana yang dapat melawan demam berdarah, dan tersedia di beberapa negara, khusus untuk orang berusia 9 hingga 45 tahun.

Tapi, WHO ternyata merekomendasikan bahwa vaksin ini diberikan HANYA kepada pasien yang sudah pernah terkena penyakit demam berdarah / terinfeksi virus dengue sebelumnya. Sebab, menurut pemberitahuan yang dilansir pada tahun 2017 oleh Sanofi Pasteur, pabrik dari vaksin tersebut, vaksin ini dapat berakibat cukup fatal. Yaitu orang yang menerima vaksin dengue TAPI belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya, akan punya kemungkinan risiko terkena demam berdarah yang parah bila mereka terinfeksi virus dengue setelah menerima vaksin.

Di Indonesia sendiri, vaksin ini tidak dianjurkan dan tidak diedarkan secara bebas – karena tidak masuk ke dalam daftar imunisasi lengkap untuk anak. Dan berdasarkan jurnal berjudul Keamanan Vaksin Dengue pada Anak yang terbit tahun 2019, IDAI mengarahkan dokter anak Indonesia untuk menunda pemberian vaksin dengue.

Apa kesimpulannya mengenai DBD?

Penyakit ini merupakan penyakit endemik yang sudah lama ada di Indonesia, tapi pencegahannya sebetulnya tidak sulit. Hanya butuh ketelatenan saja dalam melakukan protokol 3M seperti disebutkan di atas. Dan bila sudah terinfeksi, langsung saja pergi ke rumah sakit atau faskes terdekat untuk minta saran dokter – apakah sebaiknya rawat inap atau bisa rawat di rumah saja.

Selain itu, rajin memakaikan krim anti nyamuk yang bersifat herbal kepada seluruh keluarga, merupakan salah satu langkah pengamanan ekstra yang bisa dilakukan setiap hari. Meski tidak dapat mencegah seratus persen, setidaknya dengan bantuan perlindungan krim anti nyamuk, kita meminimalisir risiko kena gigitan nyamuk.

 

Smart People pasti pilih BeSMART: Proteksi jelas dan pasti

Proteksi yang paling berharga dalam hidup adalah proteksi terhadap masa depan keluarga dan orang-orang yang paling kita sayangi.

Nah, orang yang SMART, pasti paham bahwa di tengah hidup yang serba tidak pasti, kita butuh proteksi diri yang melindungi tanpa kompromi. Salah satu produk andalan Generali Indonesia yang bisa jadi pilihan nasabah adalah BeSMART.

BeSMART adalah Produk Proteksi yang memberikan fleksibilitas bagi kamu, dengan berbagai jenis pilihan Asuransi Tambahan mulai dari penyakit kritis hingga pilihan untuk berobat di rumah sakit hingga ke seluruh dunia. BeSMART menemani dan menjaga yang paling berarti sepenuhnya, bisa kasih 100% Premi kembali, 250% Uang Pertanggungan, dilengkapi pilihan untuk berobat ke rumah sakit hingga ke seluruh dunia dan opsi pembayaran yang fleksibel*. 

Untuk tahu lebih lanjut mengenai BeSMART, kamu bisa klik tautan ini. Yuk, beralih ke pilihan SMART!

*Syarat & ketentuan berlaku sesuai Polis