Asuransi Jiwa: untuk semua pahlawan pencari nafkah keluarga

Hidup itu harus selalu optimis, tapi tetap realistis. Kenapa? Karena meskipun kita harus selalu melihat ke depan, berusaha menata masa depan sebaik yang kita bisa, realita kehidupan kadang-kadang tidak berjalan seperti semua rencana yang kita impikan.

Asuransi Jiwa: sebab, hidup itu tidak pasti

Usaha tidak akan membohongi hasil. Demikian pula dengan persiapan untuk masa depan, meski hidup tak pernah 100 persen pasti, tetap saja persiapan yang baik dibutuhkan supaya kita selalu mempunyai solusi untuk semua masalah.

Ada beberapa jenis asuransi jiwa yang memungkinkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Ya, sebab hidup tidak cuma melulu yang indah-indah saja, tapi juga hal yang tidak ingin kita pikirkan saat ini, misalnya: kematian.

Asuransi Jiwa: semua untuk orang-orang terkasih dalam hidup kita

Simak beberapa kisah nyata (yang namanya disamarkan) di bawah ini. Apakah ada salah satu dari situasi cerita yang mirip denganmu? Awas, cerita-cerita di bawah ini mengandung bawang. Siap-siap mellow, ya!

Cerita Wina, si sandwich generation

Wina, usia 26 tahun. Fresh grad dari universitas ternama, lulus dengan nilai-nilai gemilang. Wina langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan multinasional terkemuka di ibukota Jakarta, dengan gaji besar dan selama beberapa tahun ke depan ia sangat menikmati hidupnya. Meski bergaji besar, Wina tidak pernah memikirkan untuk menabung atau bahkan mengambil asuransi jiwa, sebab kedua orangtuanya baru berusia di awal 50an dan masih sehat. Ayah Wina bekerja di perusahaan swasta, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Semua gaji Wina habis untuk traveling, belanja apa saja yang ia mau, makan di restoran dan ngopi-ngopi bersama teman setiap hari.

Suatu hari, ayah Wina kecelakaan kendaraan bermotor. Mobilnya ringsek ditabrak truk. Sang ayah koma, lalu menjalani perawatan di ICU selama 3 bulan yang menelan biaya luar biasa banyak sampai mereka harus kehilangan seluruh tabungan. Dan tak lama kemudian, ayah Wina meninggal dunia.

Wina masih punya 2 adik di usia SMA dan kuliah, ibunya tidak bekerja, ayahnya juga tidak meninggalkan warisan apapun – apalagi asuransi jiwa – sehingga keadaan keuangan keluarga mereka pun jadi morat-marit, dan Wina lah yang harus berkorban menjadi tulang punggung yang menopang biaya hidup keluarga, menanggung biaya sekolah dan kuliah kedua adiknya, sebab ibunya tidak bekerja.

Wina resmi menjadi sandwich generation dan meski ia ikhlas, Wina punya satu tekad: untuk memulai premi asuransi jiwanya sendiri supaya kelak bila ia meninggal, tidak akan membebani keluarganya, dan keluarganya pun dapat terus melanjutkan hidup yang nyaman seperti saat ia masih hidup dan aktif bekerja.

Plus, di usia yang muda dan bebas dari segala kondisi penyakit kronis maupun akut, Wina mendapat premi polis yang jauh lebih ringan, sehingga tidak memberatkan ia untuk pembayaran bulanan polis asuransi jiwa tersebut. Wina tahu, ini adalah “investasi” jangka panjang yang akan ia lihat hasilnya dalam empat puluh sampai enam puluh tahun mendatang.

Cerita Adri, si sulung yang ditempa kerasnya hidup

Adri, usia 49 tahun. Ia punya 3 adik yang kesemuanya perempuan. Sejak di usia awal 20an, Adri sudah dituntut untuk mandiri. Orangtua mereka meninggal bersamaan karena sakit kanker, dan Adri terpaksa putus kuliah. Ia membiayai semua adiknya bersekolah hingga lulus kuliah, dan selama bertahun-tahun mengorbankan diri dan kesenangannya sendiri untuk menghidupi adik-adiknya.

Saat Adri berusia 40 tahun dan adik-adiknya sudah mandiri semua, ia pun akhirnya menikah. Setahun kemudian, Adri dan istrinya dikaruniai seorang anak laki-laki yang ternyata berkebutuhan khusus. Sepakat untuk tidak mempunyai anak lagi dan fokus merawat anak mereka, Adri dan istri kemudian berpikir – di usia mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka mulai merasa takut – bila ada sesuatu yang terjadi pada mereka kelak, maka siapa yang akan merawat anak mereka? Semua orang pasti paham, anak berkebutuhan khusus butuh biaya jauh lebih banyak dibanding anak lain.

Maka, Adri dan istrinya kemudian memutuskan untuk mulai mengambil premi asuransi jiwa untuk masing-masing dari mereka sendiri saat si anak baru berusia 1 tahun, sekaligus membuat surat wasiat di hadapan notaris serta seluruh keluarga mereka. Tujuannya? Bila suatu hari kelak salah satu dari mereka meninggal dunia, maka anak mereka punya dana santunan yang cukup untuk membiayai hidup si anak plus semua terapi yang ia butuhkan, sampai puluhan tahun mendatang.

Dengan adanya asuransi jiwa, Adri dan istri merasa lebih tenang karena mereka tahu, anak mereka yang istimewa ini akan selalu terlindungi dan terjamin biaya hidupnya, meski kelak ia dan sang istri sudah tidak ada lagi untuk menjadi pelindung sang anak.

Cerita Erika, si single mom yang ditinggal suami tiba-tiba

Erika, usia 33 tahun, adalah seorang wanita karir yang suaminya juga bekerja. Bersama-sama, mereka sedang mencicil membangun sebuah rumah impian. Kedua anak mereka, si kembar yang berusia lima tahun, bersekolah di taman kanak-kanak dengan kurikulum nasional plus.

Saat pandemi, suami Erika yang memang memiliki penyakit bawaan asma sejak lahir, kemudian terkena Coronavirus COVID-19. Malang tak dapat ditolak, suami Erika terkena efek Long COVID dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tiga bulan setelah menerima hasil tes positif COVID.

Meskipun tentu saja kepergian sang suami yang begitu tiba-tiba menyisakan sebuah luka mendalam di hati Erika, ada satu hal yang membuat ibu dua anak ini merasa sangat bersyukur. Suami Erika yang empat tahun lebih tua, ternyata sejak usia 17 tahun sudah dibelikan asuransi jiwa oleh orangtuanya.

20 tahun membayar premi asuransi jiwa ternyata tidak sia-sia, saat sang suami meninggal, Erika masih tetap dapat meneruskan pembangunan rumah impian mereka berdua dan membesarkan serta menyekolahkan anak-anak sesuai standar yang mereka cita-citakan, karena meskipun tidak ada yang dapat menggantikan kehadiran sang suami, uang pertanggungan yang diterima syukurnya lebih dari cukup untuk menanggung biaya hidup keluarga kecil Erika sampai kedua anak mereka lulus kuliah nanti.

Asuransi Jiwa: untuk menghargai semua pahlawan dalam hidup kita

Ada persamaan dari semua kisah di atas. Yaitu, bahwa kita harus menghargai semua pahlawan dalam hidup kita, pada kisah ini, yaitu orangtua, kakak maupun pasangan kita yang berkorban menjadi tulang punggung kita semua.

Menjelang kesempatan Hari Pahlawan 10 November mendatang, Generali ingin mengingatkan kita untuk memberi penghargaan berupa perhatian bagi pahlawan-pahlawan pencari nafkah dalam hidup kita.

Tanpa pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa ini, hidup kita tidak akan berlangsung seperti sekarang. Kadang-kadang, peran seorang pencari nafkah dalam keluarga sering terabaikan, tapi, faktanya, tanpa mereka, kita tidak bisa apa-apa. Dan saat mereka pergi, barulah terasa begitu besar peran mereka dalam hidup kita.

Karena itu, para pahlawan ini harus dilindungi. Mereka harus dihargai. Caranya adalah dengan memberikan mereka hadiah terbaik yang sekaligus juga akan memayungi kita sebagai keluarga mereka sampai nanti, dengan memulai asuransi jiwa bagi mereka, mulai dari sekarang ketika masih bisa.

Asuransi Jiwa: warisan yang terbaik bagi keluarga kita

Dan bila dilihat dari sisi lain, bila kitalah yang kebetulan menjadi breadwinner / pencari nafkah utama dalam keluarga kita, maka membeli polis asuransi jiwa ternyata juga merupakan suatu tindakan persiapan masa depan yang baik.

Kenapa? Karena, salah satu warisan terbaik yang bisa kita berikan bagi keluarga kita adalah dengan meninggalkan lump sum / uang dalam jumlah besar supaya mereka bisa terus melanjutkan hidup, bahkan setelah kepergian kita.

Sebagai seorang pahlawan, sudah menjadi kewajiban kita untuk melindungi orang di bawah naungan kita, dalam hal ini adalah keluarga kita dan orang-orang terkasih yang ada dalam hidup kita, yang bergantung kepada kita sebagai pencari nafkah untuk menghidupi mereka.

Asuransi Jiwa: bentuk “investasi” untuk masa depan

Memang, saat kita masih muda, sehat dan merasa “Aduh, asuransi jiwa? Memangnya aku akan mati besok? Nggak kan?” maka membeli polis asuransi jiwa bisa terasa seperti buang-buang uang percuma saja.

Tapi, percayalah bahwa asuransi jiwa adalah sebuah bentuk investasi untuk masa depan yang HARUS dimulai sejak kita masih dalam usia muda, aktif, produktif dan tentunya masih dalam kondisi kesehatan yang prima.

Sebab, saat inilah dimana premi yang kita bayarkan masih cukup rendah. Saat inilah dimana kita masih belum terlalu punya risiko tinggi, dan juga uang premi kita masih punya cukup waktu untuk berkembang menjadi besar dalam naungan perusahaan asuransi kita.

Sejatinya, ini tentu saja mirip-mirip dengan investasi jangka panjang. Bukan yang terlihat hasilnya dalam satu-dua tahun saja melainkan selama beberapa dekade ke depan nantinya, ya, jadi kita harus bersabar untuk menabur apa yang sekarang kita tuai.

Asuransi Jiwa: untuk hidup yang tenang tanpa kekuatiran

Saat kita mempersiapkan hidup kita, membeli sebuah polis asuransi hanya membutuhkan sedikit usaha dan kedisiplinan. Tapi, ketika sudah berjalan, maka kita bisa menikmati hidup yang tenang tanpa kekuatiran yang berarti. Bisa dengan tenang bekerja dan berusaha, karena kita tahu, bahwa keluarga dan orang-orang yang kita sayangi akan selalu terlindungi, meski kita sudah tidak ada di masa depan nanti.

 

BeSMART – asuransi jiwa sekaligus uang perlindungan dan rider Kesehatan tambahan

Bagaimana dengan kamu sendiri? Sudahkah kamu berpikir untuk punya asuransi jiwa untukmu?

Selagi masih muda dan sehat, mulailah untuk merancang masa depan yang cerah sekaligus mempersiapkan segala sesuatu untuk pasangan, anak dan keluarga yang akan menjaga mereka, meski kamu sudah tiada kelak.

Generali Indonesia punya BeSMART – produk asuransi tradisional yang memberikan perlindungan berupa Uang Pertanggungan apabila Tertanggung meninggal dunia hingga usia 100 tahun. BeSMART memberikan fleksibilitas bagi kamu untuk memilih jangka waktu pembayaran premi serta memiliki berbagai jenis Manfaat Tambahan.

BeSMART dukung kamu maju tanpa ragu.

Ini keunggulan BeSMART:

  • Pengembalian Premi apabila Tertanggung hidup saat berusia 81-90 tahun
  • Beragam manfaat yang dapat dipilih sesuai kebutuhan
  • Pilihan Masa Pembayaran Premi yang fleksibel

Salah satu manfaat BeSMART adalah "Critical Illness Benefit", yaitu Manfaat Tambahan yang memberikan manfaat perlindungan terhadap penyakit kritis sebesar 50% Uang Pertanggungan Manfaat Utama*.

BeSMART juga bisa dibuat semakin paripurna dengan rider asuransi tambahan, seperti Generali HealthCare Solution (GHS), yaitu manfaat penggantian rawat inap dan rawat jalan.

Banyak yang sudah merasakan bukti nyata kasih sayang dalam bentuk asuransi jiwa seperti salah satu Nasabah Generali di video ini. Kamu bisa hubungi agen Generali terdekat di kotamu untuk tahu lebih lanjut mengenai bagaimana memulai program BeSMART-mu sendiri.

*Apabila Tertanggung terdiagnosa suatu Penyakit yang diperkirakan akan mengakibatkan kematian dalam kurun waktu 12 bulan sejak tanggal Diagnosis maka akan dibayarkan manfaat sebesar 50% dari Uang Pertanggungan Manfaat Utama (maksimal Rp 500.000.000,00 per jiwa). Manfaat ini hanya akan berlaku untuk Tertanggung dengan usia masuk 18 – 60 tahun dan usia Tertanggung pada saat terdiagnosis belum mencapai 66 tahun.

 

Bagikan
suka artikel ini :