Self Care: yuk, rawat diri, perasaan & kebahagiaanmu sendiri

Suka merasa sedih? Nelangsa, stres, atau merasa lelaaaah sekali saat menghadapi dunia? Jangan kuatir, kamu tidak sendiri. Ternyata, tekanan batin yang berujung stres, banyak menjangkiti para Milenial dan Gen Z di usia produktif.

Psikolog Loren Soeiro asal New York City, mengemukakan bahwa generasi muda saat ini memang sangat rentan stres. Dalam tulisan di Psychology Today, psikolog kondang dunia ini menyebutkan bahwa 17 persen generasi Milenial alami depresi dan 14 persen menderita gangguan kecemasan.

Self Love vs Self Care: apa bedanya?

Bila “Self Love” artinya mencintai diri sendiri, maka “Self Care” artinya melakukan tindakan konkrit untuk merawat diri, baik dari segi mental lewat perasaan maupun dari segi fisik yang nyata.

Menjadi pribadi yang bahagia, akan mempengaruhi cara kita menyayangi orang lain maupun cara kita dalam bersikap bijaksana dan selalu merasa bersyukur atas segala sesuatu dalam hidup kita.

Self Care: merawat diri sendiri bukan berarti narsis

“Centil amat sih, ke salon terus?”

“Rajin amat perawatan kulit?”

“Kok beli baju baru terus sih?”

“Kok makan enak terus sih?”

Seringkah kamu mendengar komen-komen atau pertanyaan tak berfaedah yang menjurus nyinyir dari orang di sekitarmu? Bila jawabannya iya, maka satu hal yang dapat kami sarankan: TIDAK USAH dipedulikan.

Pada dasarnya, manusia memang selalu bersifat iri, karena itu, kamu tidak perlu baper – anjing menggonggong, kafilah berlalu – sesuai dengan pepatah ini, satu-satunya orang yang perlu didengarkan adalah kata hatimu sendiri.

Bila kamu sering memberi reward dengan memanjakan dirimu sendiri, why not? Merawat diri sendiri bukan berarti narsis, itu artinya kamu sayang pada dirimu sendiri.

Self Care: apa gunanya?

Kenyataannya, dewasa ini banyak sekali dari kita yang terjebak dalam realita terlalu sibuk memikirkan orang lain, tetapi lupa dengan kepentingan diri sendiri. Lupa merawat diri.

Padahal, melakukan tindakan konkrit dengan merawat diri sendiri, punya berbagai fungsi baik yang diamini para ahli dan psikolog di seluruh dunia:

  • Kamu jadi merasa bahagia
  • Terhindar dari stres
  • Memperbaiki kesehatan secara fisik
  • Meningkatkan kualitas hubungan dengan orang tercinta
  • Kemajuan di karir dan pekerjaan
  • Meningkatkan percaya diri

Nggak percaya? Coba terapkan beberapa saran baik untuk lakukan “Self Care” di bawah ini, kemudian rasakan sendiri efek positifnya kepada kesehatanmu secara fisik dan mental.

Bagaimana caranya? Yuk, ikuti dan baca sampai habis artikelnya.

Pisahkan waktu untuk bekerja dengan waktu untuk keluarga

Kerja ya kerja. Waktu pribadi bersama keluarga, lain lagi! Belajarlah untuk menjalankan manajemen waktu yang baik dan memilah jatah waktu kerja dan jatah waktu bersama keluarga, apalagi bila kamu sudah menikah dan punya anak.

Misalnya, saat akhir pekan, matikan laptop dan hindari membalas email maupun WhatsApp yang berhubungan dengan pekerjaan. Taruh ponsel di kamar, dan habiskan waktu untuk ngobrol bercengkerama dengan keluargamu.

Self Care: Me time di luar waktu bersama keluarga

Setelah membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, kamu juga harus ingat ada yang namanya “Me time” yang juga amat sangat penting. Yaitu, waktu yang kamu sisihkan untuk DIRIMU SENDIRI. Untuk melakukan hal-hal yang KAMU sukai.

Karena satu keluarga terdiri dari beberapa orang, bisa saja antara kamu, pasangan dan anak-anak maupun orang terdekat yang satu rumah, masing-masing punya kesukaan yang berbeda.

Nah, sebagai seorang individu, beri waktu pada dirimu sendiri untuk melakukan hal apapun itu yang kamu suka, SENDIRIAN. Namanya kan “Me time”, ya jelas tidak melibatkan pasangan, anak ataupun orang lain.

Tidak ada patokan khusus kamu harus ngapain selama “Me time” – kamu bisa nyalon, baca buku, ngopi di kafe favorit, bahkan sesimpel mandi berendam di air panas dengan tetesan minyak aromaterapi yang menenangkan, apapun itu, yang penting sanggup membuat kamu happy.

Jangan kebanyakan iri dengan postingan orang lain di media sosial

“Aduh, si A kok bahagia amat ya, selalu jalan-jalan ke luar negeri dan shopping terus.”

“Wah, suami si B ngasih hadiah mobil mewah, berarti dia sayang banget dong ya sama istrinya.”

“Anak si C kok sudah bisa baca ya, padahal masih kecil banget, anakku kapan pinter kayak anaknya dia, ya?”

Media sosial diciptakan untuk menjalin silaturahmi pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, media sosial ini lantas beralih fungsi jadi ajang pamer dan pencitraan.

Padahal, tak selamanya kenyataan seindah postingan foto terakhir di Facebook atau Instagram, lho!

Belajarlah untuk bijaksana menyikapi apapun yang terlihat terlalu sempurna, ketahuilah bahwa tidak 100% yang kita saksikan di medsos itu adalah hal yang sesungguhnya.

Kurangi waktu berselancar di Facebook, Instagram maupun TikTok, teliti dulu setiap berita sebelum membagikannya ke orang lain. Unfollow saja akun-akun yang sekiranya unfaedah, sisakan pertemanan dengan orang-orang yang benar-benar punya arti besar dan membawa angin positif dalam hidup kita.

Mulai gaya hidup lebih sehat, yuk! 

Menjalani gaya hidup yang lebih sehat, mulai dari stop begadang dan cukup tidur, menjaga pola makan baik yang penuh gizi serta berolahraga secara teratur, akan banyak sekali membantu kita untuk merasa lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Self care dimulai dengan memperhatikan kebutuhan tubuh: sudah cukupkah istirahat kita setiap hari? Sudah cukup baikkah kualitas tidur kita? Apakah makanan yang kita makan sudah memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan jasmani kita untuk selalu sehat? Apakah sudah cukup berolahraga setiap minggu sehingga kondisi fisik pun tetap dalam keadaan fit dan prima?

Dengan menjaga kesehatan tubuh, mood pun akan membaik dengan sendirinya. Ini merupakan salah satu bentuk konkrit merawat diri sendiri.

Yuk, percaya diri!

Semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan rendah diri karena punya banyak kekurangan, sebaliknya, tonjolkan kelebihanmu dan perbaiki kekurangan yang ada.

Lagipula, coba lihat ke sekitarmu. Banyak orang yang juga punya kekurangan tapi tak lantas menutup diri. Yakinkan pada dirimu sendiri bahwa kamu adalah seseorang yang berharga dan pantas dihormati oleh orang lain.

Lebih banyak berteman di dunia nyata, bukan di dunia maya

Dewasa ini, dengan maraknya media sosial dan penggunaan jalur komunikasi digital, manusia modern semakin kesepian di dunia nyata.

Yuk, mulai rubah kebiasaan ini. Alih-alih chatting di WhatsApp atau Facebook, ajak keluarga untuk berjumpa langsung.

Alih-alih berteman di dunia maya dengan orang yang tak dikenal secara nyata, kembalilah jalin hubungan lebih akrab dengan orang di sekitar kita. Mulai dari tetangga, teman kantor, sampai teman lama dari saat sekolah sampai kuliah dulu.

Alih-alih main game di HP atau nonton film di YouTube sampai larut malam di kamar sendirian seperti zombie, luangkan waktu untuk membaca buku, membantu anak mengerjakan PR sampai mengobrol dengan anggota keluarga yang serumah.

Faktanya, manusia tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi langsung dengan sesamanya, sehingga pendekatan secara nyata ini pun akan membuat kita lebih happy dan tidak kesepian. 

Jauhi orang-orang yang toksik 

Orang-orang yang toksik dan selalu bersifat negatif hanya akan membuat kita stres. Apalagi berdebat kusir dengan orang yang tak sependapat dengan kita, di dunia maya media sosial sekalipun, ini akan membuat mood jadi tak bagus.

Karena itu, jauhi, hindari, kurangi sedapat mungkin atau putus hubungan saja sekalian dengan semua orang yang membawa energi negatif. Fokuslah pada orang-orang yang punya pemikiran sejalan dengan kita dan membuat kita selalu senang berada di dekat mereka.

Selalu bersyukur atas semua hal

Pernahkah kamu bertemu dengan orang yang selalu merasa kekurangan? Orang yang tak bisa mensyukuri keadaan? Kalau jawabannya ya, jadikanlah ini sebagai pelajaran.

Penting untuk bersyukur atas semua hal. Selalu melihat ke bawah, bukan mendongak ke atas. Ketahuilah bahwa ada orang yang jauh lebih menderita dibanding kita, dan jadikan ini sebagai pengingat untuk selalu mengucap syukur atas semua hal.

Salurkan rasa bersyukur ini lewat buku catatan harian. Caranya mudah. Setiap pagi, catat hal-hal positif yang patut disyukuri dari hari kemarin, dan bacalah catatan ini sepanjang hari untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur.

Berbagi kebahagiaan dengan sesama

Berbagi kepada sesama, terbukti secara klinis membuat kita merasa bahagia.

Karena itu, rajin-rajinlah membagikan kebahagiaan dengan sesama yang membutuhkan uluran tangan kita. Sumbangkan baju, sepatu atau berbagai barang bekas yang masih layak pakai, salurkan dana secara rutin ke yayasan terpercaya untuk disampaikan kepada yang membutuhkan bantuan.

Bagikan
suka artikel ini :