Mengenal Asuransi Kesehatan Syariah, Terlindungi Tanpa Riba

Senin, 8 Juni 2020
Mengenal Asuransi Kesehatan Syariah, Terlindungi Tanpa Riba.jpg

Asuransi kesehatan kini menjadi jalan mudah bagi seseorang untuk mengelola risiko
finansial akibat jatuh sakit. Sebab tidak ada yang tahu kapan penyakit datang,
bukan? Itulah mengapa asuransi kesehatan amat penting dimiliki oleh setiap
individu, apalagi jika sudah berkeluarga alias punya tanggungan. Jenis asuransi pun
kini semakin beragam, semua telah disesuaikan dengan profil dan kebutuhan
masyarakat Indonesia. Nah, salah satu proteksi yang kini ramai direkomendasikan
adalah asuransi kesehatan syariah.
Dewan Syariah Nasional mendefinisikan, asuransi syariah adalah sebuah usaha
untuk saling melindungi dan saling tolong menolong di antara sejumlah orang,
melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru) yang memberikan pola pengembalian
untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) sesuai dengan syariah.
Lantas, apa yang membedakan asuransi kesehatan dengan asuransi kesehatan
biasa? Hampir sama. Perbedaannya hanya terletak pada prinsip syariah yang
diterapkan dalam pengelolaan asuransi kesehatan ini. Yuk, simak lebih lanjut serba-
serbi terkait asuransi kesehatan syariah di sini. Siapa tahu, kamu membutuhkannya
sebagai referensi.
Asal Muasal Asuransi Kesehatan Syariah Tercipta
Asuransi syariah bukanlah hal baru. Di Indonesia, asuransi yang berpegang teguh
pada syariat Islam (hukum-hukum muamalah dalam Al Qur’an dan Al Hadits) ini
mulanya dikeluarkan oleh PT Syarikat Takaful Indonesia, sekitar 26 tahun silam.
Perusahaan asuransi syariah ini diprakarsai oleh lkatan Cendikiawan Muslim
lndonesia (lCMl) melalui Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat lndonesia Tbk, PT
Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, Departemen Keuangan Republik Indonesia, para
pengusaha Muslim lndonesia, dengan bantuan teknis dari Syarikat Takaful Malaysia
Bhd. (STMB). Mereka tergabung di dalam Tim Pembentukan Asuransi Takaful
lndonesia (TEPATI) yang kemudian melahirkan PT Syarikat Takaful Indonesia
(Takaful Indonesia) pada 24 Februari 1994.
Sejak itu, asuransi syariah mulai diperkenalkan dan populer di Tanah Air. Kehadiran
perbankan syariah tak ubahnya angin segar bagi masyarakat, karena telah
menjawab keraguan mereka selama bertahun-tahun terhadap asuransi
konvensional.
Asuransi syariah ini kemudian muncul dalam beberapa produk, ada asuransi
kesehatan syariah, asuransi jiwa syariah, hingga asuransi umum syariah lainnya.

Dalam menjalani bisnis ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Syariah
Nasional (DSN) turut mengawasi agar semua layanan tak luput dari prinsip syariah.
3 Prinsip Asuransi Kesehatan Syariah
Asuransi kesehatan syariah memiliki tiga perbedaan penting yang membuatnya
berbeda dengan asuransi kesehatan konvensional. Seperti tidak ada unsur gharar
(ketidakpastian), bebas riba, dan tidak mengandung qimar (perjudian).
Tak sampai di situ saja. Masih ada 3 prinsip asuransi kesehatan syariah juga yang
banyak menyelamatkanmu dari kerugian duniawi lainnya, namun tetap memberi
nasabah proteksi kesehatan secara maksimal. Beberapa prinsip tersebut antara lain
adalah sebagai berikut:
● Takaful dan Tabarru
Dalam asuransi syariah, ada prinsip yang dinamakan Takaful (koperasi
sharing risk). Artinya peserta asuransi akan berkooperasi, yakni bekerja sama
dengan para peserta asuransi yang lain untuk berbagi risiko. Perusahaan
asuransi dalam hal ini hanya berperan sebagai admin atau pengelola dana.
Semisal kamu membayar premi hanya Rp5 juta per bulan. Tapi dalam jangka
waktu tertentu, bisa mendapatkan klaim sebanyak Rp100 juta. Berarti, dana
Rp 95 juta yang terkumpul itu adalah milik nasabah-nasabah syariah lain atau
istilahnya Tabarru (hibah). Jika nasabah merasa sistem bagi hasil tidak
menguntungkan, nasabah bisa meminta detail pengelolaan premi untuk
menghindari apabila terjadi penyelewengan dana yang tidak sesuai dengan
hukum Islam.
Berbeda dengan asuransi konvensional, dana Rp 95 juta dari contoh di atas
merupakan milik perusahaan asuransi. Prinsip yang berlaku adalah transfer of
risk perusahaan asuransi.
● Dana dikembalikan
Jika tidak pernah mengajukan klaim, apakah premi yang dibayarkan nasabah
bisa dikembalikan? Ketika masa pertanggungan berakhir, namun pemegang
polis asuransi kesehatan tidak mengalami sakit, apakah dana yang
dibayarkan hangus? Pertanyaan tersebut sering kali muncul ketika seseorang
hendak membeli asuransi. Semua akan terjawab sesuai harapanmu, jika
memiliki asuransi kesehatan syariah.
Prinsip dalam asuransi kesehatan syariah yang kedua ini, tak lain ialah
pengembalian dana. Namun perlu diingat, setiap perusahaan asuransi
syariah memiliki kebijakan masing-masing dalam mengembalikan hak
nasabah tersebut. Umumnya pengembalian atas premi yang tidak pernah

diklaim, mereka berikan dalam bentuk potongan harga pada saat
perpanjangan polis.
● Amal ibadah
Pada dasarnya, prinsip asuransi kesehatan syariah tak luput dari nilai amal.
Dengan konsep tolong menolong, maka setiap premi yang dibayarkan
memiliki tujuan sebagai ladang amal bagi nasabah agar senantiasa diberikan
kesehatan, dan terhindar dari klaim pengobatan, sekaligus bisa saling
menolong. Bukan hanya melindungi diri dari resiko finansial dan kesehatan
untuk diri sendiri, namun juga orang lain.
Hukum Asuransi Kesehatan Syariah, Apakah Halal?
Bagi umat Muslim yang sangat taat dengan hukum riba, tentu akan banyak sekali
pertimbangan dalam memilih produk keuangan termasuk asuransi. Apa hukumnya
menurut ajaran Islam? Semua prioritas kembali lagi ke halal atau haram. Sebab jika
direnungi, aset sebanyak apapun tak akan berarti jika haram dimata-Nya.
Dalam pengelolaan dana asuransi kesehatan syariah, nasabah akan dihindarkan
dari hal-hal yang syubhat. Maka dari itu, asuransi kesehatan syariah tidak
mengandung riba, perjudian atau qimar, serta unsur gharar atau ketidakpastian.
Jadi, bila ada yang bertanya bagaimana sebenarnya hukum asuransi kesehatan
syariah jawabannya adalah halal.
Selain itu, asuransi kesehatan syariah diawasi secara ketat oleh Dewan Pengawas
Syariah (DPS) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan semua produk
berlandaskan syariah diluncurkan atas persetujuan DPS, sebagai jaminan bahwa
produk tersebut memang sudah mengikuti prinsip syariah.
Manfaat Asuransi Kesehatan Syariah
Secara manfaat, pastinya kamu akan tetap mendapatkan fasilitas terbaik dari
asuransi kesehatan syariah. Ketika sakit, otomatis kamu berhak atas proteksi untuk
rawat inap (inpatient) dan rawat jalan (outpatient) di rumah sakit rekanan.
Manfaat yang didapatkan pada umumnya sudah termasuk biaya kamar, biaya
perawatan dokter, biaya obat-obatan, dan biaya tindakan bedah. Sementara itu
manfaat tahunan antara Rp 50 juta sampai dengan Rp 100 juta tergantung besaran
kontribusi yang dibayarkan setiap bulan.
iPlan Syariah dari Generali
Lindungi dirimu, namun tetap di jalan syariat Islam dengan iPlan Syariah dari
Generali. Produk ini merupakan asuransi berbasis syariah yang dirancang untuk

memberikan perlindungan bagi diri dan keluarga. Tak hanya itu, kamu juga dapat
memenuhi kebutuhan spiritual dalam beribadah dengan fitur wakaf.
Wakaf merupakan salah satu instrumen keuangan syariah yang memiliki potensi
besar untuk berkontribusi dalam tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan,
seperti mengurangi kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat, menyediakan
fasilitas umum, serta meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan.
Melalui iPLAN Syariah, nasabah dapat menyisihkan sebagian dari manfaat asuransi
dan manfaat investasi untuk ibadah abadi dalam bentuk wakaf tersebut. Sehingga
kamu akan memperoleh dua keunggulan sekaligus, yakni proteksi dan amal jariyah.
Bagi umat Muslim yang ingin memiliki asuransi tanpa riba sekaligus beramal, jangan
ragu untuk segera mengajukan asuransi kesehatan syariah. Dunia dan akhirat,
kamu dapat tanpa merugikan pihak manapun.