Apakah kamu termasuk dari konsumen yang sadar lingkungan? Ada banyak cara untuk menjadi konsumen yang peduli akan kelestarian alam, misalnya dengan mengutamakan membeli produk lokal, menghindari makanan yang terlalu banyak diproses dan mengonsumsi lebih sedikit daging merah. Mengurangi penggunaan plastik juga merupakan salah satu cara untuk lebih mencintai alam – perubahan sekecil apapun, dalam skala sekecil apapun, bila dilakukan bersama-sama akan membawa gelombang besar bagi dunia.

Indonesia di urutan kedua negara penghasil food waste terbesar sedunia

Indonesia sudah lama menjadi negara yang berada di ranking kedua di dunia, setelah Arab Saudi, yang ternyata mempunyai masalah food waste tertinggi – rata-rata orang Indonesia membuang 300 kilogram makanan dalam setahun. Itu artinya, 25 kilogram setiap bulan, lebih dari 800 gram makanan dalam bentuk apapun terbuang sia-sia.

Ini sangat ironis, karena di Indonesia disinyalir masih ada hampir 20 juta orang yang mengalami kelaparan – terutama penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

The Power of Curhat: inilah pentingnya punya catatan harian

Bulan Ramadhan, orang Indonesia membuang 20 persen lebih banyak makanan dari biasanya

Lebih miris lagi, ternyata, setiap bulan puasa, orang Indonesia menghasilkan 20 persen lebih banyak sampah pangan! Ini artinya, lebih dari 1 kilogram makanan dibuang sia-sia selama bulan Ramadhan setiap tahunnya. Tak kurang dari 500 ton bahan pangan berakhir di tong sampah.

Padahal, bulan suci Ramadhan adalah bulan yang seharusnya menjadi bulan penuh keberkahan, dimana para umat Islam yang berpuasa diharapkan untuk dapat mengendalikan emosi, mengontrol hawa nafsu dan bersikap lebih bijak dalam menyikapi segala sesuatu.

Sayangnya, puasa menahan lapar dan haus sepanjang hari, langsung terlupakan saat berbuka – hayo, ngaku, siapa yang saat bedug Maghrib berbunyi langsung kalap dan menyantap lebih banyak makanan dari biasanya? Kamu tidak sendirian, banyak dari kita yang masih belum mampu mengontrol hal yang satu ini.

Cenderung membeli makanan terlalu banyak, over eating, lalu sisa makanan terbuang sia-sia. Aduh, mubazir banget, ya kan? Perut menggembul, berat badan naik, berbahaya bagi kesehatan, bikin pengeluaran membengkak – ternyata, kebiasaan lebay menumpuk makanan saat berbuka ini adalah satu hal yang sepatutnya kita perbaiki

Tahun ini, buat perubahan dengan diet sehat dan lebih ramah lingkungan di bulan Ramadhan

Sebuah riset dari yayasan nirlaba dan wirausaha sosial berbasis komunitas, Zero Waste Indonesia, mengemukakan bahwa masalah sampah adalah salah satu isu yang sudah gawat, tapi cenderung tidak mendapat perhatian khusus dari masyarakat.

Seberapa daruratnya masalah sampah di Indonesia?

  • Dua hari sampah di Jakarta adalah sebesar dan setinggi candi Borobudur
  • Indonesia penyumbang sampah plastik no 2 di dunia (Jambeck, 2015)
  • Indonesia termasuk 5 besar penyumbang sampah makanan

Apa saja cara untuk menerapkan diet sehat yang selain ramah lingkungan, juga baik untuk jaga kesehatan kita saat Ramadhan ini? Yuk, simak cara-caranya.

The Power of Curhat: inilah pentingnya punya catatan harian

Kurangi konsumsi daging merah

Konsumsilah lebih sedikit daging merah dan utamakan lebih banyak makan sayur mayur. Daging merah, selain lebih mahal (harga sekilo daging sapi, kerbau atau kambing hampir tiga kali lipat harga daging ayam) juga merupakan salah satu penyebab emisi gas rumah kaca di dunia, penyumbang polusi perusak lingkungan. Selain itu, daging merah merupakan salah satu makanan yang disinyalir dapat menyebabkan kanker bila dikonsumsi berlebihan.

Boleh sih sekali-sekali masih makan daging merah, tapi jangan sering-sering, ya. Bulan Ramadhan kali ini, cobalah untuk meminimalisir hidangan berbasis pangan ini, dan simpanlah kesempatan makan daging merah untuk saat rendang Lebaran nanti.

Oh ya, kalau memang betul-betul ingin makan rendang tanpa daging sapi, sekarang banyak rendang ala vegan dijual – berbahan dasar jamur, rasanya tetap mirip sekali dengan daging sapi, lho!

Belanja ke pasar tradisional dan beli produk lokal

Bayangan orang kalau ke pasar: becek, panas, bau lagi! Jangan salah, ini potret pasar zaman dulu. Sekarang ini di daerah manapun kamu tinggal di seluruh penjuru Nusantara, sudah jamak sekali yang namanya pasar modern – lebih nyaman, higienis dan bersih – dan harganya tetap bersahabat di kantong vs belanja di supermarket.

Berbelanja di pasar tradisional, selain lebih hemat di budget bulanan (apalagi saat puasa menjelang Lebaran, harga-harga bahan pokok dan pangan biasanya naik gila-gilaan) – juga membantu mendukung UKM dan UMKM. Membeli di pedagang lokal berskala kecil, artinya membantu mereka tetap melanjutkan usaha dan menunjang keberlangsungan hidup mereka.

Selain itu, bahan pangan lokal juga biasanya lebih fresh, jejak karbonnya lebih rendah karena diproduksi lokal, dan tidak menggunakan pengawet tambahan. Lebih sehat di pengeluaran, lebih sehat di badan. Win-win!

“Say NO to plastic”, bawa kantong belanja sendiri

Sudah cukup lama juga satu Indonesia menerapkan sistem tidak lagi memberikan kantong belanja plastik gratisan saat berbelanja di toko manapun.

Lanjutkan dan semakin galakkan tren ini, bawa kantong belanja sendiri kemanapun kamu pergi belanja – baik itu di pasar tradisional maupun di supermarket. Apalagi, sekarang banyak kantong belanja yang lucu-lucu dengan berbagai motif menarik, plus punya daya tahan lebih bagus dari kantong plastik sekali pakai yang cepat jebol.

Hindari makanan yang terlalu banyak mengalami pemrosesan

Makanan kemasan, seperti biskuit, berbagai keripik kentang, minuman kalengan, dan lain-lain sebagainya, selain mengandung lemak jenuh dan gula dalam kadar tinggi, juga dibungkus dengan packaging berbahan plastik – kadang sampai berlapis-lapis bungkusan plastik yang hanya akan jadi sampah.

Selain kandungan nutrisinya yang nol besar untuk kesehatan dan tak ramah untuk pencernaan, kemasan plastik juga tak ramah bagi lingkungan.

Yuk, kurangi sedapat mungkin membeli makanan kemasan, utamakan real food yang minim pemrosesan dan tentunya masih mengandung nutrisi alami dari bahan pangan aslinya.

Utamakan makanan homemade buatan sendiri atau industri rumahan

Ingin jus buah? Beli buah segar dari penjual lokal dan buat jus buah sendiri. Suka kopi dan teh? Beli bubuk kopi atau daun teh dari produsen lokal dan buat sendiri dari rumah. Ingin makan kue-kuean? Usahakan buat sendiri di rumah, atau pesan dengan sistem PO / pre-order ke para bakulan penjual kue rumahan yang banyak berseliweran di Instagram.

Makanan homemade buatan sendiri maupun yang berasal dari industri rumahan, umumnya jauh lebih segar, tidak menggunakan bahan pengawet maupun zat aditif yang berpotensi bahaya bagi tubuh dalam jangka panjang.

Tidak membeli makanan dalam jumlah terlalu banyak

Juga biasakan untuk TIDAK membeli makanan dalam jumlah terlalu berlebihan. Hidangan jajan pasar untuk berbuka, maupun makanan apapun yang akan dimakan, ingatlah bahwa kapasitas perut juga terbatas. Jangan paksakan diri menuruti nafsu makan dan lantas over eating – masih ada hari esok, lagipula puasa kan hanya satu bulan saja.

Bangun kebiasaan baru untuk membeli / memasak / belanja makanan secukupnya saja untuk orang serumah, supaya tidak ada yang terbuang sia-sia.

Manfaatkan food waste semaksimal mungkin

Ada sisa sayur dan sedikit lauk? Sulap jadi nasi atau mie goreng, atau jadi topping telur dadar. Ada sisa buah? Jadikan smoothie dengan menambahkan susu dan batu es lalu diblender. Sisa kupasan kulit buah bisa dijadikan pupuk tanaman. Ampas kopi dan teh bisa dijadikan body scrub untuk dapatkan kulit halus.

Apapun itu, kreatiflah memanfaatkan bahan sisa makanan. Ketimbang jadi food waste, temukan kegunaan yang bisa dengan mudah dicari di internet.

The Power of Curhat: inilah pentingnya punya catatan harian

Gimana? Sudah baca semua tipsnya? Gampang kan menjalankannya? Bulan puasa Ramadhan kali ini, yuk, mari bersama-sama lakukan kebaikan dengan menjadi konsumen yang bertanggungjawab terhadap alam dan lingkungan – bonusnya, kesehatan pun akan makin prima!

 

Selalu sehat dan penuh semangat saat menunaikan ibadah puasa Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan! Bulan puasa kembali datang, umat Islam se-Indonesia pun bersiap-siap menunaikan ibadah wajib ini. Saat sedang berpuasa, tetap saja kesehatan harus selalu jadi prioritas utama.

Gimana dengan proteksi kesehatan yang memadai, kamu sudah punya atau belum? Apakah kamu tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana kamu bisa menciptakan perlindungan kesehatan bagimu dan orang-orang tersayang di sekelilingmu? GMS solusinya!

Kini, Generali Indonesia menghadirkan Asuransi Tambahan Generali Medical Solution yang dapat dipilih oleh nasabah dalam merencanakan perlindungan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga tercinta. Asuransi Tambahan Generali Medical Solution memberikan perlindungan kesehatan menyeluruh untuk Nasabah yang memerlukan perlindungan kelas satu.

Dilengkapi dengan fasilitas pembayaran biaya perawatan sesuai tagihan dengan fasilitas cashless di jaringan rumah sakit rekanan, hingga wilayah pertanggungan sampai dengan seluruh dunia, GMS juga meng-cover perawatan berbagai penyakit kritis.

Ingin mulai menambahkan GMS ke program asuransimu? Kamu bisa berkonsultasi dengan Agen Generali yang terdekat di kotamu, lewat tautan berikut ini.

Bagikan
suka artikel ini :