Hidup Lebih Ringkas, Hidup Lebih Hijau. Bagaimana keberlanjutan dimulai dari tempat tinggal  

Bagi keluarga muda, membangun rumah saat ini berarti membuat pilihan yang melindungi masa depan anak-anak sekaligus masa depan bumi. Melalui keputusan sederhana, rumah dapat menjadi ruang masa depan yang lebih sehat sekaligus membantu menekan biaya energi dan emisi. 

Ketika pasangan muda menyiapkan rumah pertama untuk menyambut sang bayi, muncul pertanyaan yang jarang terpikirkan oleh generasi sebelumnya: bagaimana membangun kehidupan yang melindungi masa depan anak, bukan hanya kenyamanan hari ini? 

Jawabannya bukan tentang memiliki lebih banyak barang, melainkan tentang membuat pilihan yang dipikirkan secara sadar. Ruang yang dibangun hari ini tidak hanya menentukan bagaimana keluarga hidup, tetapi juga seberapa besar kontribusinya terhadap—atau justru solusi bagi—krisis iklim yang sedang berlangsung. 

Tantangan Bangunan di Asia Tenggara 

Di Asia Tenggara, bangunan menyumbang sekitar 23% dari total konsumsi energi akhir serta 23% emisi CO₂ yang berkaitan dengan energi—jejak ini menjadi semakin mendesak dari tahun ke tahun. Di wilayah dengan iklim panas dan lembap, pendinginan ruangan sudah menyumbang sekitar 60% dari penggunaan energi bangunan. Artinya, cara rumah didinginkan menjadi salah satu keputusan energi terbesar yang dibuat keluarga. 

Vietnam dan Indonesia mencerminkan tantangan regional ini. Di Indonesia, bangunan menyumbang sekitar 20% konsumsi energi nasional. Kedua negara juga mengalami gelombang panas yang berat pada tahun 2024 serta meningkatnya risiko banjir di wilayah sungai dan pesisir. Di sisi lain, sekitar 85% penduduk Asia Tenggara terpapar udara tercemar pada tahun 2023, jauh melampaui batas aman yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Dampaknya sangat besar: sekitar 300.000 kematian dini terkait polusi udara luar ruang, dan 240.000 kematian lainnya disebabkan polusi udara dalam ruangan yang berkaitan dengan bahan bakar memasak. 

Menata Ulang Ruang: Fleksibilitas sebagai Infrastruktur Iklim 

Kamar bayi menunjukkan perubahan cara berpikir yang semakin dibutuhkan. Saran tradisional sering mendorong orang tua mengisi ruangan dengan berbagai perlengkapan khusus—mengganti meja, lemari pakaian, kotak mainan, hingga monitor bayi. Tetapi, setiap barang memiliki jejak karbon tersendiri: dari proses produksi, pengiriman, hingga akhirnya dibuang. 

Pendekatan rumah yang siap menghadapi perubahan iklim dimulai dengan furnitur yang dapat beradaptasi, misalnya, tempat tidur bayi yang dapat diubah menjadi tempat tidur balita, lalu menjadi meja belajar. Satu furnitur adaptif dapat menghasilkan 60–70% emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan membeli tiga furnitur terpisah dalam sepuluh tahun. 

Penempatan jendela juga menjadi bagian penting dari desain rumah. Tempat tidur bayi sebaiknya diletakkan jauh dari paparan sinar matahari langsung tetapi tetap dekat dengan aliran udara segar. Bahan alami seperti—katun, linen, dan wol—membantu mengatur suhu serta menyerap kelembapan, sehingga kebutuhan pencucian pada suhu tinggi dapat berkurang. Dibandingkan bahan sintetis, penggunaan tekstil alami dapat menurunkan konsumsi energi untuk mencuci hingga 40%. Cahaya alami juga berperan penting. Tirai tipis memungkinkan cahaya siang masuk lebih maksimal, sementara lampu LED hangat dengan pengatur intensitas cahaya di malam hari dapat membantu pola tidur bayi sekaligus menggunakan energi hingga 75% lebih hemat dibandingkan teknologi lampu lama. 

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada ruang keluarga. Model rumah lama membagi ruang menjadi fungsi-fungsi yang tetap. Sebaliknya, rumah yang siap menghadapi tantangan iklim memanfaatkan ruang yang fleksibel dan multifungsi. Satu ruang fleksibel seluas sekitar 35 meter persegi—yang digunakan sebagai area bermain, ruang kerja, dan tempat berkumpul—dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan energi dibandingkan dengan memanaskan atau mendinginkan beberapa ruangan terpisah. Analisis dari International Energy Agency menunjukkan bahwa tata letak ruangan yang lebih kompak serta pembatasan area berpendingin atau berpemanas merupakan cara efektif untuk menurunkan kebutuhan energi. 

Menjaga lantai tetap terbuka, juga membantu material seperti keramik atau beton menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga suhu ruangan lebih stabil. Aturan sederhana seperti “sentuh dua kali” juga dapat membantu mengendalikan jumlah barang di rumah: jika suatu barang tidak digunakan selama tiga bulan, cukup difoto lalu dipindahtangankan. Rumah dengan lebih sedikit barang memiliki aliran udara yang lebih baik serta lebih mudah dibersihkan. 

Dapur yang Lebih Sederhana. Dapur sering menjadi tempat berkumpulnya berbagai alat yang jarang digunakan—mulai dari pembuat roti, juicer, hingga alat khusus lainnya. Pendekatan dapur yang berkelanjutan berfokus pada hal-hal yang benar-benar digunakan setiap minggu. Peralatan utama disimpan dalam jangkauan, sementara yang jarang digunakan dipindahkan atau tidak perlu dimiliki. Dapur yang lebih sederhana membutuhkan lebih sedikit pencahayaan dan pekerjaan pembersihan. Wadah kaca berukuran besar juga membantu memasak dalam jumlah banyak sekaligus—sehingga makanan cukup disiapkan sekali sehari, bukan beberapa kali.—Cara ini membantu menekan penggunaan energi sekaligus mengurangi limbah kemasan. Meja dapur yang lebih lapang dan lemari yang tidak berlebihan juga membantu dapur tetap lebih sejuk, karena penyimpanan yang padat dan banyak peralatan cenderung memperangkap panas. 

Kamar tidur juga mendapatkan manfaat dari pendekatan yang lebih sederhana. Memiliki terlalu banyak pakaian juga membawa dampak lingkungan. Bangunan menyumbang sekitar 40% penggunaan energi global dan 36% emisi gas rumah kaca, sementara produksi tekstil menambah sekitar 10% emisi karbon dunia. Konsep capsule wardrobe—sekitar 30 hingga 40 pakaian fleksibel per orang dewasa yang diatur berdasarkan musim—dapat membantu mengurangi dampak lingkungan melalui penggunaan yang lebih lama dan perawatan yang lebih baik. 

Tidur tanpa pendingin udara juga memungkinkan melalui strategi pasif, seperti menggunakan seprai linen, rangka tempat tidur yang sedikit terangkat agar udara dapat mengalir di bawahnya, serta ventilasi malam hari. Membuka jendela ketika suhu luar mulai turun membantu menciptakan aliran udara silang yang mengeluarkan panas dari dalam ruangan secara alami. 

Sistem yang Lebih Besar: Dampak dari Pilihan Kecil 

Setiap keputusan—dari tempat tidur bayi yang dapat diubah, dapur yang lebih sederhana, hingga jendela yang dirancang dengan baik—memberikan dampak pada dua tingkat sekaligus: efisiensi individu dan kekuatan sistem rumah secara keseluruhan. Ketika digabungkan, semua keputusan ini menciptakan rumah yang bergerak mengikuti perubahan musim, bukan melawannya. Rumah yang mengurangi dampak lingkungan, bukan memperbesarnya. 

Pemanasan ruang dan air menyumbang sekitar 77,6% penggunaan energi rumah tangga. Namun kondisi ini tidak harus selalu demikian. Rumah yang dirancang dengan strategi pasif dapat menurunkan kebutuhan energi untuk pemanasan dan pendinginan hingga 75–90%. 

Pesan utamanya sederhana: melindungi lingkungan tidak berarti harus mengorbankan kenyamanan. Tiga prinsip utama dapat menjadi panduan. Pertama, pilih furnitur dan barang yang dapat beradaptasi seiring perkembangan keluarga. Kedua, rancang ruangan agar bekerja selaras dengan iklim alami, bukan melawannya. Ketiga, semakin sedikit barang dan kekacauan di rumah, semakin rendah pula kebutuhan energi serta semakin mudah perawatannya - rumah yang tidak membutuhkan terlalu banyak pengelolaan sehari-hari memberi lebih banyak ruang untuk rutinitas keluarga dan kebersamaan. Setiap keputusan di rumah—mulai dari tempat tidur bayi hingga cara menata dapur—merupakan langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. 

Indonesia: Pertumbuhan dan Peluang 

Isu perumahan memiliki peran yang sangat penting di Indonesia dan menjadi fokus berbagai inisiatif sosial maupun kebijakan pemerintah. 

Meskipun urbanisasi berkembang pesat seiring pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun belakangan ini, tetapi, pembangunan perumahan masih menjadi tantangan besar. 

Sekitar 29,2 juta rumah tangga belum memiliki rumah atau tinggal dalam kondisi yang tidak layak huni. Di saat yang sama, sejumlah kota di Indonesia juga menghadapi tantangan lingkungan yang semakin meningkat, yang sering kali paling berdampak pada keluarga berpenghasilan rendah. 

Sebagian besar penduduk Indonesia kini tinggal di kawasan perkotaan. Menurut perkiraan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada tahun 2020 sekitar 54% populasi Indonesia tinggal di kota, sementara 34% berada di pusat urban dan wilayah suburban—angka yang melampaui rata-rata negara OECD sebesar 46% dan 30% masing-masing. Dalam 50 tahun terakhir, proporsi penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan meningkat 6%dari 48% menjadi 54%, sementara populasi pedesaan terus menurun. 

Jumlah penduduk perkotaan juga telah meningkat secara absolut dan diperkirakan akan terus bertambah. Antara tahun 1975 hingga 2020, populasi perkotaan Indonesia tumbuh dari sekitar 63 juta menjadi hampir 147 juta jiwa, (rata-rata pertumbuhan sekitar 9,6% per dekade). Angka ini diperkirakan mencapai sekitar 158,7 juta pada tahun 2030. 

Di antara berbagai konsekuensi dari tren ini, terdapat pula tantangan lingkungan yang signifikan: Emisi gas rumah kaca Indonesia meningkat sekitar 109% dalam satu dekade terakhir, meningkat dari 511 Mt CO₂ ekuivalen menjadi sekitar 1.070 Mt CO₂ ekuivalen. 

Sektor bangunan dan transportasi bersama-sama menyumbang lebih dari separuh emisi gas rumah kaca terkait energi dari pembakaran bahan bakar. Sekitar 29% (191 Mt CO₂ ek) berasal dari bangunan dan 22% (147 Mt CO₂ ek) dari sektor transportasi. 

Seiring dengan terus berkembangnya kota-kota di Indonesia akibat tekanan urbanisasi yang pesat, sangatlah penting untuk memanfaatkan lahan perkotaan secara lebih efisien melalui pembangunan perkotaan yang kompak atau terkonsentrasi. 

Oleh karena itu, banyak pengembangan perkotaan dan kawasan hunian baru mengikuti model pembangunan yang disebut oleh OECD sebagai kota kompak (compact city). Model ini ditandai oleh kepadatan perkotaan yang tinggi, pembangunan dengan fungsi campuran, serta konektivitas yang kuat. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan penggunaan lahan, menekan tekanan lingkungan, serta mendukung sistem mobilitas yang lebih berkelanjutan. 
Selain manfaat lingkungan, pendekatan ini juga menciptakan keuntungan ekonomi melalui penguatan pasar tenaga kerja, peningkatan produktivitas, serta biaya infrastruktur dan layanan publik per kapita yang lebih rendah bagi pemerintah daerah. 

Di Indonesia, Undang-Undang Tata Ruang dan reformasi regulasi yang baru-baru ini dilakukan telah menyediakan kerangka hukum bagi pembangunan perkotaan yang lebih kompak. 

Dalam konteks ini, sejak tahun 2023 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia meluncurkan kompleks rumah bersubsidi ramah lingkungan di Kuningan, Jawa Barat. 

Perumahan tersebut dibangun sebagai bagian dari Indonesia Green Affordable Housing Program (IGAHP) yang bertujuan menyediakan hunian terjangkau sekaligus ramah lingkungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

Melalui IGAHP, pemerintah sedang menerapkan strategi untuk membangun rumah ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bangunan berkelanjutan dan desain hemat energi, dengan target membangun lebih dari 1 juta unit rumah pada tahun 2030. 

Sebagai bagian dari tujuan pembangunan yang lebih luas untuk menjadi negara dengan ekonomi maju pada tahun 2045, Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. 

Mengingat peran penting bangunan dalam konsumsi energi dan emisi, peningkatan efisiensi energi bangunan merupakan langkah utama untuk mencapai target nol bersih Indonesia. Selain manfaat lingkungan, langkah ini juga menghadirkan keuntungan ekonomi yang signifikan. 

Oleh karena itu, mengintegrasikan tujuan keberlanjutan lingkungan ke dalam kebijakan perumahan dan konstruksi sangatlah penting untuk mencapai tujuan nasional jangka panjang Indonesia. 

 

Sumber: 

  1. OECD - https://www.oecd.org/content/dam/oecd/en/publications/reports/2026/01/housing-for-a-resilient-urban-future-in-indonesia_f4c21588/436f1864-en.pdf  
  2. OECD - https://www.oecd.org/en/publications/housing-for-a-resilient-urban-future-in-indonesia_436f1864-en.html  
  3. World Bank Group - https://thedocs.worldbank.org/en/doc/fff83f483c76eef814d7488b25689a10-0430012023/related/3-HerryTZ-DGIF-3rd-session-WB-Group-s-Global-Affordable-Housing-Conference-ed-250523-final.pdf  
  4. Eurostat - Energy Statistics - https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Energy_consumption_in_households 
  5. Buildings Performance Institute Europe (BPIE) - https://www.bpie.eu/
Share
love this article :