Cara bepergian lebih cerdas, sekaligus hemat biaya. Pergeseran pola pikir yang mengubah kondisi mobilitas sehari-hari 

Mengapa generasi muda mulai enggan memiliki mobil sebagai pilihan utama — dan beralih ke kebiasaan mobilitas yang fleksibel serta ramah lingkungan untuk mengatasi kenaikan biaya, pembatasan perkotaan, dan masalah lingkungan. 

Beberapa dekade lalu, jika kita memikirkan bagaimana orang berkeliling kota, pada dasarnya hanya ada dua pilihan: mobil dan transportasi umum. Saat ini, segalanya berubah. Bagi warga atau wisatawan yang berkeliling di lingkungan perkotaan, ada banyak pilihan yang tersedia. 

Inilah perubahan utamanya: jika dahulu mobil menjadi pilihan yang hampir tidak tergantikan, kini tersedia beragam alternatif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 

Perubahan ini terjadi karena masyarakat sedang mengalami transformasi besar dalam cara memandang mobilitas. Fokusnya tidak lagi pada kendaraan bermesin yang menghasilkan polusi, melainkan pada solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Perubahan tersebut juga memiliki dimensi sosial. Cara baru dalam bepergian mencerminkan pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sekaligus menggambarkan dinamika dan struktur sosial yang berbeda dan terus berkembang. 

Lebih dari satu abad yang lalu, muncul sebuah gerakan seni dan filsafat yang disebut Futurisme, yang memandang mobil konvensional berbahan bakar fosil sebagai simbol modernitas dan kemajuan zaman. Kini, situasinya justru berbalik. Khususnya di kalangan generasi muda, gagasan untuk membangun mobilitas perkotaan yang lebih sederhana dan berkelanjutan semakin populer. 

Seperti apa masa depan mobilitas? 

Perubahan tidak pernah terjadi dalam semalam, terutama jika menyangkut kebiasaan sosial yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Karena itu, mobil masih menjadi pilihan yang sangat umum. Menurut studi Ipsos, 43% pemilik mobil menyatakan bahwa kehidupan tanpa kendaraan pribadi akan terasa sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin. 

Meski demikian, berbagai data menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat memandang mobilitas, termasuk meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik. 

Berdasarkan data EMBER, penjualan mobil listrik pada tahun 2025 mencapai sekitar 40% dari total penjualan mobil baru di Singapura dan Vietnam, 21% di Thailand, serta 15% di Indonesia. Angka tersebut menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu kekuatan utama dalam mendorong adopsi kendaraan listrik (EV) secara global, bahkan melampaui tingkat penjualan di Eropa maupun Amerika Serikat. Secara global, studi yang sama menunjukkan bahwa kendaraan listrik kini menyumbang lebih dari seperempat penjualan mobil baru. Dengan pertumbuhan global sekitar 20%, jumlah kendaraan listrik diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai sekitar 510 juta unit di seluruh dunia pada tahun 2035, menurut proyeksi International Energy Agency (IEA). 

Selain itu, penggunaan sepeda juga menjadi populer lagi. Tren ini terutama terlihat pada sepeda listrik (e-bike), yang menjadi alternatif transportasi perkotaan yang efisien dan ramah lingkungan dibandingkan kendaraan bermotor roda dua konvensional. Kehadirannya turut mengubah pasar sepeda di kawasan Asia-Pasifik.  

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa saat ini sedang terjadi perubahan pola pikir yang cukup signifikan. 
Masyarakat mulai beralih dari moda transportasi berbahan bakar fosil menuju pilihan yang lebih bersih, berbasis listrik, dan lebih berkelanjutan. 

Arah perubahannya terlihat jelas: semakin banyak orang memilih solusi transportasi yang lebih hemat energi dan lebih selaras dengan visi mobilitas perkotaan yang lebih tenang, nyaman, serta minim polusi. 

Bagi generasi muda, inilah inti perubahannya: keberlanjutan, biaya yang lebih rendah, dan efisiensi yang lebih tinggi kini menjadi pertimbangan utama, menggantikan model transportasi yang identik dengan polusi, biaya besar, dan berbagai kendala praktis. 

Masalah generasi — sekaligus persoalan biaya dan peluang 

Tidak mengherankan jika perubahan cara pandang terhadap mobilitas paling terlihat di kalangan generasi muda. 

Riset IPSOS menunjukkan bahwa kelompok usia muda cenderung tidak lagi menganggap kepemilikan mobil sebagai kebutuhan mutlak. Mereka juga lebih terbuka terhadap gaya hidup multimoda: hal ini terutama berlaku di kawasan perkotaan di mana layanan transportasi online, sepeda listrik, dan angkutan umum merupakan alternatif yang umum dan dapat diandalkan. 

Seperti telah dibahas sebelumnya, mobil tetap memiliki peran penting, tetapi, bagi generasi muda, faktor biaya menjadi pertimbangan yang semakin besar. Data Federal Reserve menunjukkan bahwa kelompok usia ini menghadapi tingkat utang yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga upaya mengurangi pengeluaran menjadi semakin penting. Kondisi tersebut turut memengaruhi pilihan moda transportasi yang digunakan.  

Transport & Mobility Leuven (TML) juga mencatat bahwa, meskipun kendaraan listrik semakin terjangkau, harga pembelian awal yang relatif tinggi masih menjadi salah satu hambatan utama bagi banyak konsumen. Karena itu, berbagai dukungan seperti insentif pembelian dan keringanan pajak dapat menjadi instrumen penting untuk mempercepat pertumbuhan pasar kendaraan listrik di masa mendatang 

Gambaran yang muncul cukup jelas. Di satu sisi, terdapat tren yang kuat menuju sistem transportasi berbasis listrik, termasuk kendaraan pribadi. Di sisi lain, masih ada faktor ekonomi yang, sampai batas tertentu, memperlambat proses peralihan tersebut. 

Alasan di balik perubahan sikap ini 

Lalu, mengapa generasi muda lebih tertarik pada moda transportasi yang berkelanjutan dibandingkan generasi sebelumnya? 

  • Alasan lingkungan: Sebanyak 69% generasi muda mengaku merasa bersalah terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penggunaan mobil. Karena itu, mereka cenderung lebih terbuka untuk mengadopsi pilihan transportasi yang lebih ramah lingkungan. 
  • Alasan ekonomi: perubahan ini tidak hanya didorong oleh nilai dan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga pertimbangan finansial. Banyak generasi muda yang lebih bersedia beralih ke solusi transportasi berbasis listrik sebagai cara untuk mengurangi biaya perjalanan sehari-hari.  
  • Masalah keselamatan: di kalangan generasi muda minat terhadap sistem asuransi yang berkaitan dengan “micromobility’, semakin meningkat. Tren yang terus meningkat ini menunjukkan bahwa sebagian pengeluaran pribadi mulai dialihkan ke solusi asuransi perlindungan yang mendukung mobilitas yang lebih ramah lingkungan.  
  • Pergeseran pola pikir: generasi muda semakin tidak memandang mobil sebagai simbol utama mobilitas maupun sebagai komitmen finansial yang perlu dimiliki. Pilihan untuk lebih sering menggunakan sepeda atau transportasi umum juga sejalan dengan visi kota yang lebih tertata, aman, dan berkelanjutan.  

Asia Tenggara tengah mendorong perubahan yang nyata 

Jika di banyak negara mobil memegang peranan utama dalam mobilitas sehari-hari, di Asia Tenggara peran tersebut sebagian besar digantikan oleh sepeda motor. Lebih dari 80% rumah tangga di kawasan ini memiliki setidaknya satu sepeda motor. Selain lebih terjangkau untuk dibeli dan dirawat dibandingkan mobil, kendaraan roda dua juga menjadi solusi yang praktis di berbagai kota dengan kemacetan tinggi dan keterbatasan transportasi publik. 

Namun demikian, penggunaan sepeda motor yang sangat luas ini mulai berhadapan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Selain menimbulkan kebisingan, sepeda motor (skuter) konvensional juga memberikan dampak yang cukup besar terhadap lingkungan. 

Oleh karena itu, Asia Tenggara saat ini sedang menjalani proses transisi untuk membentuk pola mobilitas yang baru, dengan mendorong peralihan dari sepeda motor dan skuter berbahan bakar konvensional menuju model berbasis listrik. 

Baru-baru ini, Unit Kualitas Udara dan Mobilitas dari United Nations Environment Programme (UNEP) bekerja sama dengan berbagai asosiasi kendaraan listrik di sejumlah negara utama Asia Tenggara untuk mendorong adopsi kendaraan listrik yang lebih luas. 

Beberapa langkah yang telah diperkenalkan antara lain subsidi produksi dan konsumen, penyesuaian kebijakan fiskal dan asuransi untuk kendaraan listrik maupun kendaraan yang lebih berpolusi, serta penerapan standar efisiensi bahan bakar dan batasan konsumsi. 

Untuk mendukung upaya ini, selain bekerja sama dengan pemerintah di Asia Tenggara dalam memperkuat kerangka kebijakan, UNEP juga meluncurkan berbagai program percontohan guna menunjukkan kelayakan infrastruktur kendaraan listrik, dan melalui berbagai inisiatif praktis ini, manfaat serta efektivitas sepeda motor listrik dapat terlihat secara nyata. 

Agar pergeseran budaya ini dapat terwujud secara menyeluruh, dibutuhkan dukungan yang lebih luas dari masyarakat untuk mengadopsi cara pandang dan pendekatan mobilitas yang selama ini banyak didorong oleh generasi muda, yakni solusi yang lebih hijau dan berkelanjutan. 

Masa depan mobilitas 

Semua perubahan dalam kebiasaan bepergian ini sejalan dengan visi yang berkembang secara global untuk menjadikan mobilitas lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. 

Salah satu target penting yang telah ditetapkan adalah menghadirkan setidaknya 30 juta mobil tanpa emisi di jalan raya Eropa pada tahun 2030. Sementara itu, dalam jangka yang lebih panjang hingga tahun 2050, tujuannya adalah agar hampir semua mobil yang beroperasi bersifat berkelanjutan dan tidak menghasilkan emisi. 

Transformasi ini menuntut terciptanya sistem mobilitas dan transportasi yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih inovatif dan terdigitalisasi. Dalam konteks tersebut, perubahan juga dapat menyentuh model perlindungan dan asuransi terkait mobilitas. Industri asuransi memiliki peluang untuk mengadopsi pendekatan baru ini dengan menghadirkan solusi yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. 

Keberlanjutan, teknologi, dan keseimbangan biaya-manfaat yang lebih baik: inilah kualitas dan kemampuan utama yang menjadi ciri khas mobilitas masa depan serta generasi baru yang akan membentuknya. 

Bagaimana Indonesia Berupaya Mengubah Jenis Sepeda Motor dan Mobil di Jalan Raya 

Apabila membayangkan lingkungan perkotaan di Indonesia, banyak orang langsung teringat pada jalanan di sejumlah kota besar di Asia Tenggara yang padat, dipenuhi mobil dan sepeda motor yang bergerak dari berbagai arah, sementara para pengendara berusaha keluar dari kemacetan secepat mungkin. 

Situasi ini kemungkinan tidak akan berubah dalam waktu dekat. Namun demikian, yang mungkin berubah adalah jenis kendaraan yang mendominasi jalan raya Indonesia. Dalam beberapa tahun mendatang, semakin banyak kendaraan yang berpotensi menggunakan tenaga listrik. Meskipun perubahan ini tidak serta-merta mengurangi kemacetan, langkah tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih bersih dan mengurangi tingkat polusi. 

Indonesia: Salah satu Pasar Mobil dan Sepeda Motor Terpenting di kawasan 

Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar kedua di Asia Tenggara dan memiliki populasi lebih dari 287 juta jiwa. Karena itu, berbagai inisiatif yang bertujuan meningkatkan jumlah kendaraan listrik berpotensi memberikan dampak yang sangat besar. 

Menurut International Energy Agency (IEA), Indonesia telah memperkenalkan berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik di seluruh negeri. 

Beberapa inisiatif utama tersebut meliputi: 

  • Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk penjualan kendaraan listrik. 
  • Pembebasan bea masuk bagi kendaraan listrik yang diproduksi oleh produsen yang berkomitmen membangun fasilitas produksi di Indonesia paling lambat tahun 2026. 

Menurut sejumlah analisis terkini, berbagai kebijakan ini berpotensi meningkatkan pangsa penjualan kendaraan listrik hingga mencapai 25% pada tahun 2030. Angka ini sekitar 9 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dibuat pada tahun 2024. 

Pertumbuhan Mobilitas Listrik 

Jika kebijakan pemerintah ini mencapai hasil yang diharapkan, Indonesia dapat memiliki hampir satu juta mobil listrik di jalanannya pada tahun 2030. Meskipun ini akan menjadi pencapaian yang signifikan, jumlah tersebut masih kurang dari separuh target pemerintah sebesar dua juta kendaraan listrik. 

Transformasi ini tidak terbatas pada mobil penumpang. Hal ini juga mencakup sepeda motor, yang merupakan salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan di negara ini. Indonesia telah menetapkan target untuk mencapai 13 juta sepeda motor listrik yang beredar pada tahun 2030. 

Berdasarkan tren pasar terkini, pangsa pasar kendaraan listrik di segmen kendaraan roda dua dan tiga di Indonesia diperkirakan akan meningkat dari sekitar 2% pada tahun 2024 menjadi sekitar 30% pada tahun 2030. 

Keputusan pemerintah untuk membebaskan pajak impor kendaraan listrik bagi produsen yang berinvestasi dalam produksi EV lokal, yang diberlakukan pada awal tahun 2024, telah memainkan peran penting dalam mempromosikan budaya baru mobilitas listrik. Namun demikian, meskipun perkiraan pertumbuhannya menggembirakan, angka tersebut masih jauh dari ambisi pemerintah, yang bertujuan untuk mempercepat transisi tersebut lebih jauh lagi. 

Strategi Energi Baru 

Indonesia memiliki tujuan untuk meningkatkan mobilitas dan kualitas hidup masyarakat melalui udara yang lebih bersih serta sistem transportasi yang lebih efisien, terutama di kawasan perkotaan yang umumnya menghadapi tingkat polusi dan kemacetan yang paling tinggi. 

Hal inilah yang turut melatarbelakangi keputusan pemerintah untuk mendorong PLN, sebagai perusahaan penyedia listrik milik negara, mempercepat pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di seluruh Indonesia. 

Dengan tujuan menghadirkan jaringan pengisian daya yang andal, mudah diakses, dan terjangkau di berbagai wilayah, PLN tengah mengembangkan model berbasis lokasi untuk mengevaluasi seberapa efektif infrastruktur pengisian daya yang dibangun dapat menjangkau pengguna, memenuhi kebutuhan pasar, sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. 

Oleh karena itu, Indonesia telah memulai proses transformasi yang penuh tekad, meskipun menantang, di sektor mobilitasnya. Di tengah perubahan ini, perlindungan asuransi yang andal menjadi semakin penting. Kehadirannya membantu pemilik kendaraan melindungi mobil maupun sepeda motor dari berbagai risiko yang tidak terduga, sekaligus memberikan rasa aman dalam menghadapi lanskap transportasi yang terus berkembang. 

 

Sumber: 

Share
love this article :