Kesehatan usus: apa yang ingin disampaikan oleh kondisi perut kembung dan rasa lelah 

Bagaimana sinyal sehari-hari, seperti rasa tidak nyaman di perut dan kelelahan, dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan harian yang lebih baik. 

Biasanya, semua bermula dari hal kecil. Perut terasa begah, karena kekenyangan setelah makan malam. Bangun di pagi hari dan sudah merasa lelah. Melewatkan makan sebelum menjalani kegiatan di siang hari yang terasa panjang, karena tidak yakin bagaimana kondisi perut akan bereaksi. Kebanyakan orang merasa segan memeriksakan hal-hal seperti ini ke dokter. Mereka beradaptasi. Makan lebih awal, mengurangi porsi makan, menyalahkan stres atau minggu yang tidak menyenangkan, atau mencari saran di internet dan mencoba apa pun yang muncul di beranda hari itu. 

Masalahnya jarang hanya berasal dari satu kali makan yang kurang baik. Yang sering terjadi adalah pencernaan yang secara perlahan mulai memengaruhi pilihan sehari-hari: menentukan restoran mana, duduk di mana, atau bahkan memutuskan untuk tidak pergi keluar sama sekali. Usus terus mengirimkan sinyal. Tantangannya adalah memahami sinyal mana yang penting dan saran online mana yang memang layak diikuti. 

Artikel ini membahas tentang cara membaca berbagai petanda tersebut, tanpa menjadikan kehidupan sehari-hari seperti berada di ruang praktik dokter. 

Hal ini bisa semakin terasa, terutama saat rutinitas berubah: pola kehidupan rumah tangga yang baru, anak-anak meninggalkan rumah, perubahan pola makan, lebih banyak waktu merenung sendirian, atau sekadar memasuki fase ketika tubuh mulai meminta lebih banyak perhatian. 

Mengapa usus memengaruhi suasana hati dan energi? 

Banyak hal yang dilakukan oleh usus, bukan hanya mencerna makanan. Di dalam saluran pencernaan ini terdapat triliunan mikroorganisme yang secara keseluruhan disebut mikrobioma usus, dan berbagai mikroba ini saling berkomunikasi dengan bagian tubuh lainnya melalui mekanisme yang masih terus dipelajari oleh para ilmuwan. 

Penelitian mengenai mikrobioma usus kini semakin spesifik. Sebuah studi global yang diterbitkan di Nature pada 2025, berdasarkan lebih dari 34.000 peserta, mengaitkan spesies mikroba usus dengan kualitas pola makan, penanda tubuh, dan kondisi kesehatan, sehingga menghasilkan ZOE Microbiome Health Ranking 2025. Pada intinya, tidak ada satu mikrobioma pun yang sempurna bagi semua orang. Faktanya, pola makan, mikroba usus, dan indikator kesehatan semakin sering dibahas dalam konteks pencegahan yang sama, sementara para ilmuwan terus meneliti mana yang sekadar memiliki keterkaitan dan mana yang merupakan penyebab.  

Ada hubungan lain yang juga penting untuk diketahui. Para peneliti di APC Microbiome Ireland menjelaskan adanya poros diet–mikrobiota–usus–otak, yaitu hubungan antara apa yang dikonsumsi, mikroba di dalam usus, serta sinyal yang menghubungkan pencernaan dengan otak. Ini bukan berarti setiap hari yang buruk selalu berawal dari usus. Namun begitu, hal ini membantu menjelaskan mengapa makanan, tidur, stres, dan suasana hati sering kali saling berkaitan, serta mengapa perut terasa kembung setelah menyantap makanan tertentu, dan rasa lelah atau sulit berkonsentrasi pada sore hari, terkadang dapat menjadi bagian dari cerita yang sama.  

Semua hari yang buruk tentu bukan disebabkan oleh usus. Namun demikian, hal ini menjelaskan mengapa makanan, tidur, dan stres begitu sering muncul secara bersamaan. 

Karena respons usus bersifat personal, pendekatan yang paling bermanfaat bukanlah melakukan “reset” yang sama untuk semua orang, melainkan memahami pola mana yang benar-benar berlaku pada tubuh sendiri. 

Seberapa umumkah masalah perut kembung dan pencernaan? 

Ternyata, hal tersebut jauh lebih umum daripada yang terlihat dari minimnya pembicaraan mengenai hal itu. Kondisi perut kembung merupakan salah satu gejala yang paling sering dilaporkan dan biasanya tidak muncul sendirian. Rome Foundation Global Study tetap menjadi salah satu referensi internasional terluas mengenai gangguan interaksi usus-otak. Menurut studi tersebut, ternyata ada lebih dari 40% orang di seluruh dunia yang hidup dengan setidaknya satu gangguan gastrointestinal fungsional (berhubungan dengan lambung dan usus).  

Kondisi ini sering kali tidak berbahaya seperti penyakit akut, tetapi tetap dapat menguras energi. Tidur menjadi lebih buruk. Semakin banyak hari tidak masuk kerja. Kunjungan ke dokter semakin sering. Kehidupan sosial secara perlahan semakin terbatas, dan ajakan makan malam semakin sering ditolak. 

Pola makan Asia Tenggara yang berubah cepat 

Gambaran di Asia Tenggara sedang berubah. Perkiraan regional yang lebih terdahulu, menempatkan angka Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS) lebih rendah dibandingkan Eropa Selatan, sekitar 7% berbanding kurang lebih 15%. Kesenjangan tersebut mulai menyempit. Sejumlah penelitian di Thailand dan Singapura mencatat peningkatan angka IBS dalam beberapa dekade terakhir, dan para peneliti mengaitkan perubahan tersebut dengan pola makan yang semakin urban dan kebarat-baratan. Menurut sebuah studi lokal yang dilakukan di Palembang, 30% remaja yang disurvei hidup dengan IBS, di tengah Indonesia yang bergerak cepat menuju kehidupan perkotaan dan konsumsi makanan kemasan. 

Kondisi sehari-hari di Asia Tenggara berbeda dengan Eropa. Hidangan yang terdiri atas nasi, sayuran, dan makanan fermentasi telah lama mendukung kesehatan usus di kawasan ini. Seiring dengan semakin banyaknya kaum muda yang pindah ke kota untuk bekerja, kebiasaan makan tersebut kini digantikan oleh aplikasi pesan antar, jam makan yang semakin larut malam, dan makanan siap saji yang praktis. Dalam banyak hal, pola makan tradisional sebenarnya lebih bersahabat bagi usus. Penggantinya sering kali tidak demikian. 

Stres menjadi bagian dari semua itu. Keluhan pencernaan meningkat seiring dengan kecemasan serta tekanan, dan hubungan antara usus dengan otak tidak mengenal suatu batas. Di sejumlah kota yang berkembang pesat, ketika tuntutan pekerjaan tinggi dan biaya perawatan kesehatan dapat menjadi beban, hari-hari yang hilang akibat masalah pencernaan dapat berdampak pada keluarga maupun individu. 

Memahami tubuh: sejumlah tanda kecil, serta berbagai kebiasaan kecil 

Setiap waktu makan tidak perlu dijadikan sebuah eksperimen. Awal yang lebih bermanfaat adalah memperhatikan kapan suatu sinyal berulang, apa yang biasanya terjadi sebelumnya, dan apakah satu perubahan kecil dapat membuat keseharian terasa lebih mudah. 

Sinyal: kondisi perut kembung setelah menyantap jenis makanan yang sama 

  • Apa yang mungkin terjadi: usus mungkin tidak bereaksi terhadap “makanan” secara umum, melainkan terhadap ukuran porsi, kecepatan makan, waktu makan, atau makanan tertentu yang lebih sulit dicerna oleh sebagian orang. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: mengubah satu hal setiap kali. Makan lebih perlahan, kurangi porsi, berjalan kaki sebentar setelah makan, atau tambahkan serat secara bertahap, bukan sekaligus. 

Sinyal: energi menurun setelah makan siang 

  • Apa yang mungkin terjadi: rasa lelah dapat berasal dari banyak hal, tetapi makan terburu-buru, makanan yang sangat manis, makan siang yang terlalu berat, atau jeda makan yang terlalu panjang dapat membuat siang hari terasa lebih berat. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: buat makan siang lebih seimbang. Tambahkan serat, seperti sayuran, kacang-kacangan, oat, atau biji-bijian utuh, lalu padukan dengan protein dan air. Setelah itu, perhatikan apakah rasa lelah di sore hari berubah. 

Sinyal: sembelit atau ritme buang air besar lebih lambat dari biasanya 

  • Apa yang mungkin terjadi: usus sering kali melambat ketika asupan serat, cairan, aktivitas fisik, atau keteraturan jadwal makan berkurang. Hal ini dapat terjadi saat bepergian, minggu-minggu yang penuh tekanan, ketika terjadi perubahan di rumah, atau saat menjalani periode yang lebih banyak duduk. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: mulai secara perlahan dengan serat yang dapat larut, seperti oat, kacang-kacangan, wortel, atau biji rami, lalu tingkatkan secara bertahap. Pastikan minum air putih yang cukup banyak. 

Sinyal: kram, rasa ingin buang air besar yang mendesak, atau rasa tidak nyaman pada hari-hari yang penuh tekanan 

  • Apa yang mungkin terjadi: hubungan antara usus dan otak bukan sekadar konsep ilmiah. Stres, kurang tidur, dan pola makan yang tidak teratur dapat membuat usus menjadi lebih sensitif. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: catat makanan yang disantap sekaligus kondisi sehari-hari selama seminggu: apa yang dimakan, seberapa cepat menyantap makanan, bagaimana kualitas tidur, dan apakah hari tersebut terasa penuh tekanan. Polanya mungkin lebih mudah terlihat dibandingkan hanya mencari satu “makanan pemicu”. 

Sinyal: mulai menghindari banyak makanan secara diam-diam 

  • Apa yang mungkin terjadi: menghindari makanan tertentu mungkin pada awalnya terasa seperti bentuk perlindungan diri pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang dapat membuat pola makan semakin terbatas dan kehidupan sehari-hari menjadi lebih rumit. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: jangan menghilangkan kelompok makanan secara menyeluruh dalam jangka panjang tanpa pendampingan. Jika merasa perlu menghindari banyak makanan agar merasa aman, mintalah bantuan dokter atau ahli gizi. 

Sinyal: gejala berlangsung selama berminggu-minggu atau terasa berbeda dari pola biasanya 

  • Apa yang mungkin terjadi: ini bukan lagi sekadar persoalan gaya hidup. Adanya darah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa nyeri yang terus-menerus, perubahan pola buang air besar, demam, anemia, atau gejala yang membangunkan seseorang dari tidur pada malam hari perlu diperiksa. 
  • Kebiasaan kecil yang dapat dicoba: buat janji konsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Pencegahan juga berarti mengetahui kapan harus berhenti bereksperimen sendiri. 

Indonesia: apabila perut harus mengikuti ritme kota 

Pilihan yang lebih bersahabat bagi usus sudah ada dalam menu Indonesia 

Rutinitas yang baik bagi usus di Indonesia tidak harus terasa asing. Semuanya dapat dimulai dari makanan yang sudah akrab: sayur, buah, tempe, tahu, kacang-kacangan, sup, nasi dalam porsi yang lebih teratur, air putih di meja makan, serta makanan yang tidak disantap secara terburu-buru. 

Panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan merekomendasikan konsumsi 400 gram sayur dan buah per orang per hari, yang terdiri dari sekitar 250 gram sayuran dan 150 gram buah. Panduan tersebut juga menjelaskan bahwa sayur dan buah mengandung serat yang membantu menjaga keseimbangan bakteri di dalam usus dan mendukung pencernaan yang lebih lancar. 

Kenyamanan modern secara perlahan mengubah pencernaan 

Panduan kesehatan masyarakat Indonesia sendiri mengakui bahwa pola makan telah berubah. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa perubahan konsumsi pangan telah menurunkan asupan sayur dan buah di berbagai provinsi, sementara gaya hidup perkotaan yang sibuk berkaitan dengan meningkatnya konsumsi makanan siap santap dan pergeseran menuju pola makan yang lebih rendah serat serta lebih tinggi lemak dan protein. 

Hal tersebut bukan berarti makanan praktis adalah sebuah kegagalan. Hal ini berarti bahwa usus sering kali memperhatikan hal-hal yang terlalu sibuk untuk diperhatikan: seberapa cepat makanan disantap, berapa lama waktu jeda sebelum makan, apakah asupan air sudah mencukupi, berapa banyak makanan yang digoreng dalam satu hari, seberapa larut makan malam dilakukan, dan apakah stres masih tersimpan di dalam tubuh bahkan setelah jam kerja berakhir. 

Ketika masalah kecil butuh bantuan profesional 

Sebagian besar kasus kembung tidak serius. Sebagian besar kondisi energi rendah juga bukan keadaan darurat medis. Tetapi, gejala pencernaan yang berulang tidak seharusnya terus-menerus ditangani dengan saran online, ketakutan terhadap makanan, atau eksperimen menggunakan suplemen. Jika gejala tetap ada, berubah, memburuk, atau mulai membatasi kehidupan sehari-hari, langkah berikutnya sebaiknya melibatkan dokter. 

Di sinilah GEN HealthCare Protection dapat diperkenalkan secara alami sebagai tambahan perlindungan kesehatan dengan manfaat kesehatan berdasarkan biaya aktual (as charged), termasuk manfaat rawat inap dan pembedahan, biaya dokter dan spesialis, biaya perawatan intensif, biaya perawatan rumah sakit lainnya, manfaat rawat jalan, serta manfaat tambahan lainnya sesuai dengan program yang dipilih. Produk ini juga menarik, karena berbicara mengenai pencegahan tanpa menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang menakutkan. No Claim Discount menawarkan potongan premi hingga 15% apabila nasabah tetap sehat dan tidak mengajukan klaim, sementara No Claim Bonus dapat menambah hingga 50% nilai manfaat kesehatan, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. 

Dalam konteks kesehatan usus, hal tersebut dapat disampaikan secara hati-hati: 

  • Pencegahan sehari-hari: serat, air, aktivitas fisik, tidur, menyantap makanan secara lebih perlahan, dan kesadaran terhadap stres. 
  • Perhatian sejak dini: menyadari gejala sebelum mulai memengaruhi kehidupan. 
  • Kejelasan medis: berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila pola tersebut tidak kunjung membaik. 
  • Perencanaan keluarga: mengetahui bagaimana akses terhadap perawatan dapat dilakukan jika pemeriksaan, pengobatan, atau dukungan rumah sakit diperlukan. 
  • Menjaga kesehatan secara berkelanjutan: menyadari bahwa menjaga kesehatan itu penting bahkan sebelum klaim terjadi. 

Pendekatan ini menjaga produk tetap dekat dengan kebutuhan manusia: bukan “tunggu sampai sakit”, melainkan menjadikan kesehatan sebagai bagian dari rutinitas selagi kehidupan masih berjalan normal. 

Di Indonesia, kesehatan usus yang lebih baik dapat dimulai dari perawatan sederhana: menambahkan satu porsi sayuran, memilih buah sebelum minuman manis berikutnya, memperkenalkan tempe atau kacang-kacangan secara perlahan, menyediakan air putih di samping makanan, menyantap makan siang dengan lebih santai, berjalan kaki sebentar setelah makan malam, dan meluangkan waktu selama seminggu untuk memperhatikan apa yang berulang kali disampaikan oleh tubuh. Pencegahan tidak harus terasa dramatis. Pencegahan bisa sesederhana membuat keseharian sedikit lebih nyaman bagi perut yang selama ini berusaha mengikuti ritme kehidupan. 

 

Sumber:

  1. Asnicar F. et al., Gut micro-organisms associated with health, nutrition and dietary interventions, Nature, 2025 
  2. Schneider E., O’Riordan K.J., Clarke G., Cryan J.F., Feeding gut microbes to nourish the brain: unravelling the diet–microbiota–gut–brain axis, Nature Metabolism, 2025 
  3. Sperber A.D. et al., Worldwide Prevalence and Burden of Functional Gastrointestinal Disorders: Results of Rome Foundation Global Study, Gastroenterology, 2021 - 2026 
  4. Palsson O.S. et al., The Prevalence and Burden of Disorders of Gut-Brain Interaction Before vs After the COVID-19 Pandemic, Clinical Gastroenterology and Hepatology, 2025 
  5. World Health Organization, Healthy diet, 2026 
  6. NIDDK, Eating, Diet, & Nutrition for Irritable Bowel Syndrome - 2025-2026 
  7. NHS, Symptoms of IBS, page last reviewed 2025 
  8. Guts UK, Irritable Bowel Syndrome: diagnosis, treatment and support - 2026 
  9. PubMed: Irritable bowel syndrome in Indonesian adolescents - 2020  
  10. Kementerian Kesehatan, Pentingnya konsumsi sayur dan buah: 400 g/day fruit-and-vegetable recommendation; fibre supports intestinal bacteria balance and digestion 
  11. BKPK Kemenkes, Hasil Utama SKI 2023: 96.7% of Indonesians aged five and over consume less fruit and vegetables than recommended; 67.5% consume only one to two portions per day across the week 
  12. Kementerian Kesehatan, Pengaruh serat pangan dan manfaatnya bagi kesehatan: urban lifestyle shift toward ready-to-eat foods and lower-fibre patterns; fibre and disease-prevention context 
  13. Journal of Gastrointestinal and Liver Diseases, Prevalence and Impact of Disorders of Gut-Brain Interaction in Indonesia, 2026: DGBI burden in Indonesia and impact on psychological wellbeing, dietary habits, healthcare use and quality of life 
Share
love this article :