Otak tetap bugar, tetap mampu hadir, terhubung, mandiri, dan bermakna bagi keluarga sepanjang kehidupan
Bagaimana tetap hadir secara mental dalam kehidupan anak-anak yang telah dewasa, meski peran sebagai orang tua telah berubah.
Kesehatan otak berarti tetap fokus dan hadir pada saat ini
Momen bersama keluarga terasa begitu berharga, karena mempertemukan berbagai generasi. Inilah saatnya berbagi pengalaman, bercerita tentang sekolah atau pekerjaan, membahas kejadian kemarin, dan membuat rencana untuk esok hari. Namun, terkadang ada seseorang di meja makan yang lebih banyak diam dan hanya menganggukkan kepala.
Bukan karena tidak tertarik atau tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Bisa jadi, ia mulai kesulitan mengikuti percakapan, khawatir mengulang cerita yang sama, atau takut melupakan detail penting. Hal-hal seperti ini cukup umum dialami oleh mereka yang menghadapi berbagai persoalan terkait kesehatan mental dan otak. Secara perlahan dan bertahap, pikiran dapat menjadi lebih lambat, gagasan terasa kurang jelas, dan semakin sulit untuk tetap menjadi sosok yang dapat diandalkan dalam kehidupan orang-orang terkasih.
Pada kondisi seperti ini, seseorang berisiko tersisih dari kehidupan keluarga akibat kesulitan kognitif, meskipun secara fisik masih hadir di tengah keluarga. Situasi ini bukan hanya dialami orang tua atau kakek-nenek, tetapi juga dapat dirasakan oleh generasi yang lebih muda. Dengan kata lain, kesehatan otak merupakan perhatian bagi semua kelompok usia. Sebab, kesehatan otak bukan hanya tentang daya ingat. Lebih dari itu, kesehatan otak juga berarti kemampuan untuk terus terlibat dalam kehidupan orang lain dan tetap menjadi sosok yang dapat diandalkan bagi keluarga dan sahabat.
Kesehatan otak dan usia: hubungan yang kompleks
Di Asia Tenggara, proporsi penduduk berusia di atas 60 tahun diperkirakan meningkat dari 12,2% pada 2024 menjadi 22,9% pada 2050. Dengan kata lain, dalam satu generasi, hampir satu dari setiap empat orang akan berusia lanjut.
Situasinya menjadi semakin penting karena di banyak negara di kawasan ini, perawatan manula (manusia usia lanjut/lansia) masih menjadi tanggung jawab keluarga yang terutama, bukan lembaga perawatan formal. Pada saat yang sama, perubahan ekonomi dan sosial mendorong semakin banyak generasi muda yang pindah dari rumah demi bekerja atau melanjutkan pendidikan. Akibatnya, jumlah anggota dalam satu rumah tangga semakin kecil dan semakin banyak kaum lansia yang hidup seorang diri.
Isolasi sosial dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif sekaligus meningkatkan risiko gangguan mental dan neurologis. Jika tidak dikenali sejak dini, masalah ini bukan hanya dapat membuat seseorang kehilangan hubungan sosial, tetapi juga secara perlahan, kehilangan bagian penting dari jati dirinya.
Kesehatan otak dibangun sepanjang kehidupan
Ketika berbicara tentang kesehatan otak, yang dimaksud bukan hanya pengobatan medis atau pemeriksaan tertentu. Kesehatan otak juga berkaitan dengan perubahan yang lebih luas dalam gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari.
Artinya, langkah tindakan untuk menjaganya perlu dimulai ketika kita masih muda dan sehat. Hubungan sosial, aktivitas fisik, dan stimulasi intelektual dapat membantu menjaga otak tetap aktif, memperlambat proses penuaan kognitif, serta mendukung kesehatan mental.
Bayangkan seorang pelari maraton. Tidak ada orang yang tiba-tiba memutuskan untuk berlari sejauh 42 kilometer tanpa persiapan selama berbulan-bulan. Begitu pula dengan kemampuan untuk tetap hadir secara emosional dan mental dalam kehidupan keluarga. Semua itu membutuhkan perhatian dan persiapan jangka panjang.
Penelitian seperti Lancet Commission 2024 menunjukkan bahwa hingga 45% kasus demensia berpotensi dicegah atau ditunda dengan mengatasi 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Penelitian yang lebih baru, yang diterbitkan dalam EBioMedicine oleh Global Brain Health Institute pada 2025, menunjukkan bahwa jika faktor sosial dan gender yang lebih luas, seperti kemiskinan, ketimpangan pendapatan, guncangan finansial terhadap kekayaan, dan HIV, turut diperhitungkan, proporsi kasus yang berpotensi dicegah dapat meningkat hingga sekitar 65%. Artinya, kesehatan otak bukan sesuatu yang baru perlu diperhatikan ketika memasuki usia 70 tahun. Kesehatan otak dibangun sepanjang perjalanan hidup.
Kondisi seperti, stres, burnout, beban kognitif yang berlebihan, dan menurunnya ketahanan emosional dapat memengaruhi seseorang pada setiap tahap kehidupan. Tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, serta tantangan untuk tetap menjaga hubungan sosial di tengah kesibukan sehari-hari dapat memberikan tekanan pada kesejahteraan mental. Dalam jangka panjang, berbagai faktor tersebut dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif atau meningkatkan risiko munculnya gangguan yang berkaitan dengan otak di kemudian hari.
Itulah sebabnya kesehatan otak jauh lebih luas daripada sekadar daya ingat. Menjaga kesehatan pikiran sejak sekarang berarti melindungi kemandirian, kesejahteraan, dan kualitas hidup di masa depan. Penuaan sehat bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi juga tentang menjalani hidup dengan lebih baik. Memikirkan kesehatan otak ketika tubuh masih sehat dan penuh energi, bukan berarti bersikap berlebihan atau mencemaskan masa depan. Sebaliknya, ini merupakan bentuk investasi untuk masa depan—baik sebagai individu maupun sebagai bagian yang tetap aktif dalam kehidupan keluarga dan komunitas.
Kebiasaan yang dapat menjaga kesehatan otak
Menjaga otak dari berbagai gangguan memang tidak sederhana, tetapi mencegahnya sering kali lebih memungkinkan dan mudah. Ada sejumlah kebiasaan dan perilaku yang dapat membantu mencegah atau menunda hampir separuh dari kasus demensia sekaligus mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif.
Langkah tindakan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga area utama.
- Pencegahan medis - Jangan mengabaikan masalah yang berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, maupun cedera kepala. Menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan, menerapkan pola makan seimbang, serta menjaga kadar kolesterol dan diabetes tetap terkendali, juga merupakan langkah penting.
- Aktivitas sehari-hari - Olahraga dan aktivitas fisik secara teratur, terus belajar sepanjang hayat, serta tinggal di lingkungan yang sehat, dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif dan memperlambat penurunannya.
- Aktivitas sosial - Orang yang mengalami depresi atau pengucilan sosial berisiko lebih tinggi mengalami gangguan yang berkaitan dengan otak. Hal ini sangat penting, tetapi sering kali luput dari perhatian.
Menjaga hubungan yang erat dan tetap tertarik pada kehidupan orang-orang yang kita sayangi membantu kita merasa menjadi bagian dari komunitas sekaligus mempertahankan peran sosial yang bermakna. Menghubungi anak-anak, berbagi perasaan, memberikan nasihat, atau bermain bersama cucu dapat membuat kita merasa tetap berguna dan terhubung dengan orang-orang terdekat.
Terlibat dalam kehidupan keluarga merupakan salah satu bentuk latihan bagi otak, tetapi yang lebih penting, hal ini juga menjadi sumber kesejahteraan emosional.
Menjaga kesehatan otak berarti menjaga diri dan keluarga
Selama bertahun-tahun, menjaga otak tetap aktif sering dikaitkan dengan mengisi teka-teki silang atau melakukan latihan daya ingat. Kini kita memahami bahwa kesehatan otak jauh lebih kompleks dari itu.
Banyak faktor yang berperan, dan tujuan akhirnya bukan sekadar memperlambat penuaan otak. Yang lebih penting adalah tetap hadir dalam kehidupan anak dan cucu, tanpa mengucilkan diri karena kesulitan mengikuti percakapan atau memahami kekhawatiran dan harapan mereka.
Menjaga kesehatan kognitif berarti melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mendapatkan perawatan medis yang tepat. Namun, hal ini juga berarti tetap peduli terhadap orang lain, mempertahankan kemandirian, serta terus menjadi sosok yang dapat diandalkan dalam keluarga.
Kesehatan otak bukan hanya tentang daya ingat atau penyakit. Kesehatan otak juga berkaitan dengan apa yang tetap dapat kita berikan dan berarti bagi orang-orang yang kita cintai.
Dalam konteks inilah, pendekatan yang lebih praktis terhadap penuaan aktif (active ageing) dapat memberikan perubahan yang nyata. Upaya pencegahan seharusnya tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga pada hubungan dengan orang-orang terdekat, kemandirian, dan keberlangsungan peran dalam keluarga. Lebih dari itu, pendekatan ini tidak seharusnya hanya terbatas pada masa tua, tetapi dapat mendukung orang-orang sepanjang hidup mereka.
Di Indonesia, Menjaga Kesehatan Otak Berarti Bersiap Diri Menghadapi Masyarakat yang Senantiasa Berubah
Indonesia merupakan negara yang menarik karena menjadi salah satu masyarakat yang mengalami perubahan paling pesat di dunia. Kualitas hidup terus meningkat, begitu pula harapan hidup. Akibatnya, populasi Indonesia semakin menua dan semakin banyak masyarakat yang hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya. Ini merupakan sebuah pencapaian yang positif, tetapi juga menghadirkan perspektif baru. Upaya pencegahan menjadi semakin penting, dengan tujuan memastikan bahwa tambahan usia tersebut dapat dijalani dalam kondisi fisik dan mental yang sehat, sekaligus mempertahankan kemandirian, daya ingat, dan hubungan yang bermakna dengan orang-orang terdekat.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan budaya pencegahan yang mendukung setiap orang di sepanjang perjalanan hidupnya.
Memahami Persoalan Adalah Langkah Pertama
Sebuah studi yang diterbitkan pada 2024 menemukan bahwa 86% masyarakat Indonesia belum pernah mendengar tentang demensia atau penyakit Alzheimer. Angka ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan bahkan dimulai sebelum seseorang berhubungan dengan layanan kesehatan—yaitu dari kesadaran dan pemahaman.
Ketika masyarakat memahami sejumlah faktor risiko dan menyadari bahwa penurunan fungsi kognitif bukanlah sesuatu yang pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, mereka akan lebih terdorong untuk membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan otak sepanjang hidup mereka.
Karena itu, pembicaraan mengenai kesehatan di Indonesia semakin diarahkan untuk membangun budaya hidup sehat yang lebih kuat, sehingga setiap orang dapat mengambil peran aktif dalam menjaga kesejahteraan dirinya di masa depan.
Prioritas Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga pemerintah dan komunitas ilmiah telah mendorong pendekatan pencegahan yang lebih luas, terutama dengan menekankan kebiasaan hidup sehat dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Beberapa prioritas utama Indonesia meliputi:
- meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demensia dan kesehatan otak;
- mendorong gaya hidup yang mendukung kesehatan kognitif sepanjang kehidupan;
- mengurangi kesenjangan akses terhadap informasi kesehatan di berbagai wilayah Indonesia;
- mendukung keluarga, yang hingga kini tetap memegang peran penting dalam merawat anggota keluarga yang lebih tua;
- mendorong penuaan aktif, dengan membantu masyarakat mempertahankan hubungan sosial, kemandirian, serta keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tujuan akhirnya adalah membangun masyarakat yang memungkinkan setiap orang menjalani masa tua dengan tetap berperan aktif dalam keluarga dan komunitas, sekaligus mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup selama mungkin.
Solusi Generali
Mempersiapkan masa depan, juga berarti memiliki dukungan tepercaya yang dapat diandalkan ketika kebutuhan kesehatan berubah seiring waktu. Solusi asuransi Generali dirancang untuk mendampingi setiap tahap kehidupan, dengan layanan dan perlindungan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu maupun keluarga. Dengan demikian, setiap orang dapat membangun langkah tindakan jangka panjang menuju kehidupan yang lebih sehat, sejahtera, dan terlindungi.
Sumber:
-
“Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission”, The Lancet, 2024.
-
Broadening dementia risk models: building on the 2024 Lancet Commission report for a global and sex-specific approach”, EBioMedicine / The Lancet Group, 2025.
-
World Health Organization - who.int/southeastasia/health-topics/ageing
-
Alzheimer Disease International - https://www.alzint.org/resource/dementia-in-the-asia-pacific-region/
-
Discover Social Science and health - https://link.springer.com/article/10.1007/s44155-025-00342-x
-
National Library of Medicine - https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10832103/#notes1
-
Help Age International - https://helpagevietnam.org/en/tag/intergenerational-self-help-club
-
Plymouth University - https://www.plymouth.ac.uk/research/marine-litter/pisces + https://pearl.plymouth.ac.uk/pms-research/1065/
-
World Health Organization - https://www.who.int/southeastasia

