Single Parent: ini pentingnya jaga kesehatan psikis kamu

Kamu sedang dalam proses bercerai dari pasangan dan merasa luar biasa stres? Jangan kuatir, kamu tidak sendirian. Faktanya, proses perceraian adalah salah satu sumber stres besar, dan terutama terjadi pada pihak wanita.

Bagaimana caranya mengatasi stres saat dalam proses cerai dan lantas menjadi orangtua tunggal alias single parent?? Ini tips manajemen stres yang tepat untuk kamu yang membutuhkannya.

Semakin banyak pasangan Indonesia yang pernikahannya berakhir dengan perceraian dan jadi single parent

Tidak hanya di negara-negara Barat saja, saat ini perceraian semakin banyak terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), baik angka pernikahan dan perceraian di Indonesia selama beberapa tahun terakhir banyak mengalami peningkatan. Dari data BPS tersebut, bisa ditaksir, terjadi satu perceraian dalam setiap lima pernikahan. Itu artinya 20 persen orang Indonesia yang menikah akan bercerai – wow, angka yang cukup fantastis, ya.

43 persen dari pasangan Indonesia yang bercerai, memutuskan berpisah karena alasan “pertengkaran yang terus menerus terjadi”, sedangkan 36 persen menyatakan bahwa alasan bercerai dari pasangan adalah karena faktor masalah atau tekanan ekonomi.

Apapun penyebabnya, perceraian wajar menimbulkan stres bahkan depresi pada pasangan yang mengalaminya.

Emosi negatif saat menjadi single parent

Menurut Elizabeth Lombardo, PhD, psikolog ternama dari Amerika yang disebut sebagai “Head Coach of Happiness” alias “Pelatih utama untuk Bahagia” oleh bintang NBA Shaquille O’Neal, “Emosi negatif yang menyertai setiap proses perceraian dan menjadi single parent, seperti rasa sedih, kecemasan, kebingungan, dan merasa kaget akan perubahan yang terjadi, adalah beberapa contoh penyebab stres untuk tubuh kita.

Menurut Dr. Lombardo, penyebab perceraian serta proses perceraian tersebut dapat menyebabkan “stres kronis yang terbukti secara klinis memberi pengaruh buruk pada setiap organ dalam dan sistem fungsi tubuh kita”.

Single parent berisiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit baik secara fisik dan psikis

Contohnya, lembaga riset Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dalam sebuah penelitiannya telah menemukan bahwa orang-orang yang bercerai dan lantas menjadi single parent punya risiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit kronis di masa mendatang, termasuk penyakit jantung dan masalah kardiovaskuler lainnya.

Kemudian, lembaga penelitian lainnya pun menemukan bahwa konflik yang terus berlangsung dengan mantan pasangan suami atau istri adalah beban berat yang dapat mengganggu kesehatan psikis seseorang.

Demikian pula, orang yang punya riwayat depresi di masa lalu, berpotensi jauh lebih tinggi untuk kembali relaps saat mengalami proses perceraian.

Tips untuk mengatasi stres saat sedang bercerai dan jadi single parent

Jangan biarkan rasa stres dan kesedihan menguasai diri saat sedang dalam proses berpisah dari pasangan dan kemudian mulai jadi single parent.

Ada banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk menangani stres perceraian, sekaligus menjaga kesehatan mentalmu agar tak berujung imbas kepada munculnya depresi.

Ikuti beberapa tips di bawah ini untuk menerapkan manajemen stres sehingga kamu dapat melalui seluruh proses perceraian hingga ketok palu selesai, dengan baik dan sekaligus memulai proses penyembuhan diri secara pelan tapi pasti.

1. Jaga persahabatan dan minta dukungan orang-orang terdekat

“Support Network” adalah istilah bahasa Inggris yang artinya secara harafiah adalah “Jaringan Pendukung”. Istilah ini digunakan untuk menyebut orang-orang terdekat seperti sahabat atau keluarga tercinta, yang sanggup memberi kamu dukungan.

Menurut Mayo Clinic, lembaga nirlaba yang berfokus pada edukasi dan riset medis dari Amerika Serikat, rasa kesepian sangat mempengaruhi kesehatan mental dan menjadi salah satu sebab masalah kardiovaskuler, jantung dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Sedangkan berbagai benefit memiliki “Support Network” alias jaringan pendukung yang solid di sekelilingmu termasuk kemampuan mengatasi stres dengan lebih baik, kestabilan emosi, terjaganya kesehatan psikis dan mental, rasa percaya diri yang meningkat, rasa aman dan nyaman, serta tensi darah yang lebih optimal.

Inilah alasan penting mengapa kamu harus tetap menjaga persahabatan dan kedekatan dengan orang-orang yang kamu sayangi termasuk keluarga (orangtua, kakak, adik, sepupu) maupun sahabat-sahabat terbaik, yang akan setia menemani serta mendengarkan keluh kesahmu – tanpa menghakimi. “Support Network” juga sanggup untuk memberikan cinta tak bersyarat serta perhatian yang akan membantu kamu selama proses perceraian berlangsung.

Tak hanya mendengarkan curhatan yang sanggup melegakan kamu, bahkan hanya sekedar hang out bareng orang-orang tersayang ini bisa membuat beban stres di pundakmu jauh berkurang, lho.

Bila kamu tak punya “Support Network”, jangan ragu untuk mencari atau menemukannya kembali. Perbaiki hubungan dengan sahabat-sahabat yang sempat renggang karena pernikahanmu, kunjungi orangtua dan keluarga dan bicaralah dari hati ke hati kepada mereka untuk meminta doa restu dan dukungan saat bercerai ini.

Jauh dari orangtua atau keluarga dan teman-teman? Jangan kuatir. Lewat internet, kamu bisa temukan berbagai grup komunitas penyintas perceraian yang bisa membantu kamu dan menjadi “Support Network”-mu sendiri.

Dan sebagai jalan terakhir, jangan segan-segan untuk meminta bantuan tenaga medis profesional seperti psikolog atau psikiater.

2. Jangan lupa untuk jaga kesehatan fisik juga

Kesehatan pikiran juga dipengaruhi oleh kesehatan fisik. Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Saat dalam proses bercerai, mempertahankan kebiasaan-kebiasaan hidup sehat jadi semakin penting untuk membantu atasi stres.

Pertama-tama, gunakan kesempatan ini untuk mengatur pola makan lebih baik. Berada dalam tekanan stres membuat pola makan seseorang cenderung jadi kacau – ada orang yang lantas makan terlalu banyak sehingga berat badan jadi naik meroket, ada pula orang yang malah tidak bernafsu makan sampai terlalu kurus dan sakit.

Salah satu faktor terbesar penentu kesehatan fisik adalah pola makan yang baik. Jangan lepas kontrol, meski dalam proses bercerai, tetap perhatikan asupan gizi, vitamin, mineral dan nutrisi lengkap dari makanan sehat yang minimal proses pengolahan.

Lalu, apa lagi yang dapat kamu lakukan untuk jaga kondisi kesehatan agar tetap optimal? Berolahraga jawabannya. Rutin menggerakkan badan dua-tiga kali seminggu selama paling tidak 30 menit, telah terbukti secara klinis menyehatkan tubuh dan menjernihkan pikiran. Benefitnya? Badan jadi bugar, rasa cemas dan depresi pun semakin menjauh!

Dan yang paling penting? Tidur! Memejamkan mata mungkin terasa sulit saat kamu banyak pikiran mengenai harta gono-gini, proses pengadilan, hingga ke hak asuh anak. Tapi, pentingnya tidur tetap tidak boleh disepelekan. Semua orang butuh terlelap paling tidak tujuh hingga delapan jam setiap harinya, dengan kualitas tidur yang baik tentunya.

Mau tahu bagaimana cara perbaiki kualitas tidur? Baca di artikel Generali Indonesia berikut ini: 5 Cara untuk Perbaiki Kualitas Tidurmu.

3. Mempraktekkan meditasi sekaligus dengan latihan pernapasan

Praktek meditasi dan latihan pernapasan dapat membuat pelakunya merasa lebih rileks, menurunkan stres dan memperbaiki perspektif pandangan kamu mengenai hidup agar jadi lebih positif.

Ada banyak jenis meditasi dan latihan pernapasan yang dapat kamu pilih, tapi ada dua jenis yang sangat berpotensi membantu melawan kesedihan atau kemarahan dalam diri, saat proses perpisahan sedang berlangsung.

Pertama-tama, adalah Meditasi “Mindfulness”. Menurut ahli meditasi dan Doktor di bidang neurosains Sam Harris asal California, Amerika Serikat, “Mindfulness secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah keadaan dimana seseorang membuka hati dan pikirannya, melepaskan segala emosi, tanpa menghakimi, tanpa marah atau membenci, dan memperhatikan segala sesuatu yang sedang berlangsung serta menerimanya dengan lapang dada, baik itu adalah sesuatu yang menyenangkan ataupun tidak.”

Meditasi “Mindfulness” telah dibuktikan secara klinis berpengaruh positif untuk mengurangi rasa sakit, mengontrol emosi berlebihan, mencegah kecemasan dan mengobati depresi, memperbaiki fungsi kognitif syaraf-syaraf otak serta merubah komposisi senyawa kimiawi dalam otak yang terhubung dengan pembelajaran, memori, kontrol diri serta kesadaran untuk mencerna baik segala sesuatu yang terjadi.

Selengkapnya tentang “Mindfulness” bisa kamu baca di artikel Generali Indonesia berikut ini: Apa itu mindfulness dan manfaatnya?

Sedangkan jenis meditasi kedua yang dapat berperan membantu kamu selama proses perceraian (ataupun masa sulit dalam hidup lainnya) adalah Meditasi “Metta”, sebuah kata yang berasal dari bahasa Pali, artinya “Cinta Kasih”.

Meditasi Metta menggunakan teknik perapalan berulang kali dari kalimat-kalimat yang mengandung hal-hal positif, yaitu:

“Semoga saya bahagia. Semoga saya tentram. Semoga saya aman. Semoga saya berada dalam kedamaian dan kenyamanan”.

Prinsip Meditasi Metta adalah menghilangkan emosi negatif dalam diri, dan menimbulkan rasa nyaman, untuk lantas mencintai dirimu sendiri. Dengan menghilangkan emosi negatif dan menyayangi diri sendiri, maka kamu pun akan dengan lebih mudah mengatasi rasa takut, rasa cemas dan mengalahkan amarah serta kebencian, menggantikannya dengan ketenangan batin.

4. Belajar dari pengalaman orang lain (di dunia nyata, atau di internet)

Kamu bukanlah satu-satunya orang yang sedang mengalami proses perceraian di dunia ini. Faktanya, banyak sekali orang yang saat ini berada dalam situasi yang kurang lebih sama denganmu.

Kamu bisa belajar dari pengalaman orang lain, baik itu orang yang sudah selesai dalam perpisahannya ataupun berbagi cerita dengan orang yang sama-sama sedang menjalani proses perceraiannya.

Siapa orang-orang ini? Orang-orang ini bisa merupakan orang yang kamu kenal langsung di dunia nyata, ataupun orang yang kamu temui lewat dunia maya.

Di dunia nyata, tengoklah ke sekelilingmu. Antara teman, saudara, bahkan keluarga terdekat, pasti ada yang juga mengalami perceraian. Bukalah dirimu kepada mereka, curhat boleh atau sekedar tukar pikiran, kamu akan tahu rasanya sangat melegakan ketika berbagi dengan seseorang yang mengalami hal serupa denganmu.

Sedangkan di dunia maya, gabunglah di forum-forum internet atau grup komunitas di Facebook seputar topik penyintas perceraian ataupun single parenting, yang memungkinkan kamu untuk mencurahkan isi hati dan uneg-uneg, meminta pendapat dan saran dari anggota lainnya yang jelas pasti lebih obyektif dan tak memihak – sebab mereka tidak mengenal kamu maupun (calon) mantan pasangan di dunia nyata.

5. Berdamai dengan diri sendiri... dan dengan si (calon) mantan pasangan!

Masih benci sama si (calon) mantan pasangan, karena ia berselingkuh, atau tak bertanggungjawab secara finansial, atau bahkan karena kamu menganggap dia berubah jadi sangat menyebalkan?

Wajar, kok. Kamu adalah manusia biasa, dan semua manusia punya ego. Apalagi bila menyangkut (calon) mantan yang bersamanya kamu pernah melalui begitu banyak waktu bersama.

Akan tetapi, membenci seseorang menghabiskan banyak waktu dan energi, menimbulkan emosi negatif dan membuat kamu bawaannya jadi kesaaal, saja, bila mengingat pertengkaran serta cekcok kalian dulu, yang kini membawa kepada keputusan untuk bercerai.

Nah, ada baiknya (meskipun pasti terasa maha sulit), belajarlah untuk memaafkan si (calon) mantan pasangan.

Untuk itu, berdamailah dulu dengan diri sendiri. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik – meski saat ini terasa sangat pahit, kelak kamu akan dapat memetik pelajaran dari perpisahan ini. Kamu bisa baca lebih lengkap bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri di artikel Generali Indonesia berikut ini: Sayangi & cintai diri sendiri untuk jadi pribadi lebih baik.

Setelah belajar berdamai dengan diri sendiri, saatnya mengibarkan bendera tanda gencatan senjata pada sang (calon) mantan. Apalagi, bila kalian berdua punya anak, jangan lupakan bahwa setiap anak membutuhkan dua orangtua yang utuh, yang mampu bersikap dewasa dan tetap sekuat tenaga berusaha untuk membahagiakan mereka. Kesampingkan ego dan maafkan mantan, demi membesarkan anak menjadi pribadi yang baik pula di masa depan... jangan sampai karena kalian berdua selalu bertengkar di depan anak, anak lantas jadi trauma akan pernikahan setelah jadi orang dewasa nantinya.

Yuk, jadi versi lebih baik dari dirimu sendiri bersama Generali Indonesia

Masa depan cerah, diawali dengan persiapan yang baik pula! Menjadi versi lebih baik dari dirimu sendiri diawali dari mengatur masa depan yang terarah sesuai tujuan hidupmu. Kebanyakan orang tidak paham betapa pentingnya sebuah perencanaan untuk hidup yang teratur dan strategi supaya hidup bisa terjamin, lancar secara finansial dan masa tua nanti tetap makmur dan mandiri tanpa bergantung pada siapapun.

Generali Indonesia akan selalu setia bersamamu setiap saat dan setiap waktu, dalam setiap milestone penting dalam hidupmu. Mari meniti hidup bersama kami – belajar, bertumbuh dan berkembang dengan gaya hidup sehat dan berbagai tips menarik seputar pengaturan keuangan, olahraga, pengasuhan anak dan tips praktis seputar rumah tangga, kantor maupun kehidupan sehari-hari. Jadilah versi lebih baik dari dirimu sendiri, yang selalu positif dan bahagia, bijaksana menyikapi segala hal yang terjadi dan tak lupa selalu punya persiapan matang menghadapi hidup yang tak pasti.

Bersama Generali Indonesia, setiap langkah kamu akan terjaga, karena kami ada untuk melindungi kamu. Baca artikel-artikel kami di rubrik Generali Healthy Living yang secara rutin ter-update:

5 Cara Mencintai Diri Sendiri atau Self Love

Rekomendasi Kota-Kota dengan Biaya Travelling Rendah Namun Tetap Berkualitas

Sedang Alami Mid Life Crisis? Ini Cara Mengatasinya!

Kenapa Kita Harus Melakukan Pemanasan Sebelum Mulai Berolahraga?

5 Tips Meningkatkan Produktivitas Kerja

Tetap Bekerja Saat Bulan Puasa? Begini Tips nya agar Tetap Produktif

Waspada GERD! Kenali Gejala dan Bahaya GERD Disini!

 
Bagikan
suka artikel ini :