Saat ini, banyak kantor atau tempat kerja yang beramai-ramai mencoba untuk membangun budaya kerja yang inklusif. Budaya kerja inklusif ini sendiri singkatnya merupakan budaya kerja di mana terdapat kesetaraan untuk semua pekerjanya, tanpa terkecuali. Adanya inklusivitas di lingkungan kerja, maka akan menghindari munculnya kesenjangan di antara para pekerja. 

Apa Itu Budaya Kerja Inklusif?  

Sebelum mengulas tentang cara untuk membangun budaya kerja inklusif, yuk pahami dulu apa yang dimaksud dengan budaya kerja inklusif tersebut. Budaya kerja inklusif merupakan budaya kerja di mana lingkungan kerjanya menghargai perbedaan dari setiap individu di lingkungan kerja, sehingga membuat setiap individu di lingkungan kerja itu merasa diterima dan saling terhubung. 

Pada tempat kerja yang menerapkan budaya kerja inklusif, semua pekerjanya dianggap setara, terlepas dari faktor-faktor apapun yang membuat mereka berbeda, misalnya seperti gender. Malahan, perbedaan di antara para pekerja inilah yang kemudian akan menghadirkan kontribusi positif pada hasil kerja nantinya. 

Baca Juga : 11 tips jitu untuk membuat daftar pekerjaan yang efisien

Strategi dalam Membangun Budaya Kerja Inklusif  

Budaya kerja inklusif tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan harus dipupuk terlebih dahulu agar bisa tercipta kesetaraan di tempat kerja tersebut. Terbangunnya budaya kerja inklusif akan membuat setiap pekerja merasa dihargai dan diapresiasi di lingkungan kerjanya. Agar bisa membangun budaya kerja inklusif, kamu bisa sontek beberapa strategi berikut ini. 

  1. Tentukan Tujuan Inklusivitas yang Ingin Dicapai 

Dalam membangun budaya kerja inklusif, harus diketahui dulu apa tujuan spesifik yang ingin dicapai. Kamu bisa berkolaborasi dalam sebuah tim yang anggotanya merupakan sesama pekerja ataupun bekerja sama dengan pihak HR (human resources) untuk menentukan tujuan dari budaya kerja inklusif yang nantinya diterapkan. 

Untuk mempermudahmu dalam menentukan tujuan tersebut, kamu bersama tim bisa melakukan survei terlebih dahulu yang isinya menanyakan pada tiap karyawan seberapa inklusif lingkungan kerjanya saat ini, serta apa hal yang ingin ditambahkan agar lingkungan kerja bisa makin sempurna inklusivitasnya.  

  1. Beri Edukasi Mengenai Inklusivitas 

Sebagai karyawan mungkin belum memahami benar apa yang dimaksud dengan inklusivitas atau budaya kerja inklusif. Nah, tugasmu adalah memberi edukasi pada golongan tersebut mengenai inklusivitas, serta bagaimana cara mempraktikkan tindakan yang mendukung inklusivitas tersebut di lingkungan kerja. 

Jika diperlukan, kamu bisa mengajukan pada HR untuk menyelenggarakan program edukasi atau training, untuk memperkenalkan budaya kerja inklusif ini pada karyawan yang masih belum memahaminya. Program edukasi atau training yang diadakan ini bisa berupa aktivitas yang interaktif, yang mengajarkan bagaimana cara mengapresiasi dan menerima karyawan di tempat kerja. 

  1. Bentuk Tim Penerapan Inklusivitas 

Agar peraturan dan program inklusivitas di lingkungan kerja bisa berjalan seperti yang diharapkan, maka baiknya dibentuk tim yang memonitor penerapan inklusivitas tersebut. Anggota tim ini sendiri baiknya memiliki background yang berbeda-beda pula, baik itu dari segi gender, etnis, atau agama, sehingga makin menonjol diversitas di lingkungan kerja tersebut. 

Tim ini nantinya akan memastikan bahwa semua karyawan saling menerima dan menghargai satu sama lain tanpa terkecuali. Tidak hanya untuk karyawan yang sudah bekerja di kantor saja, namun tim ini juga bisa dilibatkan dalam proses penerimaan karyawan, sehingga bisa terwujud inklusivitas sekaligus diversitas di lingkungan kerja itu nantinya.  

  1. Menunjukkan Penerimaan atas Perbedaan di Lingkungan Kerja 

Budaya kerja inklusif juga bisa dibangun dengan cara menunjukkan penerimaan atas perbedaan yang ada di lingkungan kerja. Perbedaan hadir dalam beragam bentuk, ada perbedaan agama, gender, pendidikan, serta disabilitas. Nah, baik atasan maupun karyawan harus bisa menerima perbedaan tersebut dan saling menghargai satu sama lain. 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan penerimaan atas perbedaan tersebut. Misalnya saja, menghadirkan ruang khusus bagi para karyawan perempuan yang harus menyusui buah hatinya, menyediakan tempat beribadah atau ruang khusus bagi karyawan yang agamanya berbeda-beda, hingga meningkatkan aksesibilitas kantor untuk karyawan dengan disabilitas.  

  1. Membuat Meeting Jadi Inklusif dan Menarik 

Pada saat meeting, pastikan semua orang yang terlibat di dalamnya tidak ada yang merasa ditinggalkan ataupun dianggap tidak penting keberadaannya. Pastikan semua pihak yang terlibat di dalam meeting punya kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan idenya, sehingga dirinya merasa dilibatkan dalam meeting tersebut. Cara ini juga bisa meningkatkan kepercayaan dirinya.  

Jika ada pihak yang tampaknya masih malu-malu untuk menyampaikan pendapat, jangan ragu untuk memotivasi dan mengajaknya untuk memberanikan diri menyampaikan pendapat atau idenya. Setelah pendapat atau idenya disampaikan, jangan lupa untuk memberikan apresiasi, sehingga di kesempatan meeting selanjutnya, dirinya merasa lebih percaya diri untuk berpartisipasi aktif. 

  1. Sampaikan Apresiasi secara Terbuka 

Budaya kerja inklusif merupakan budaya kerja di mana tiap orang merasa saling terhubung dan saling menghargai satu sama lain. Salah satu cara untuk bisa menciptakan kondisi tersebut adalah dengan menyampaikan apresiasi secara terbuka atas pertolongan pihak lain ataupun atas kerja sama yang telah dengan lancar dilaksanakan. 

Meskipun kerja sama itu sudah termasuk tanggung jawab kerja dari setiap karyawan, tidak akan ada salahnya untuk memberikan apresiasi. Apresiasi yang diberikan akan membuat karyawan merasa lebih dihargai dan membuatnya merasa terpanggil untuk lebih giat berkolaborasi dan bekerja sama di proyek lainnya, dalam rangka menyukseskan proyek tersebut. 

Itulah tadi ulasan mengenai budaya kerja inklusif, berikut dengan cara untuk membangun budaya kerja inklusif tersebut. Budaya kerja inklusif akan membuat setiap pihak yang terlibat di lingkungan kerja tersebut merasa dihargai dan saling terhubung, meskipun ada perbedaan di antara mereka. Malah perbedaan tersebutlah yang membuat lingkungan kerja makin terasa berwarna. 

Baca Juga : 5 Tips Penting sukses cari kerja lewat 
LinkedIn

Sumber 

  • Herrity, Jennifer. (2023, April 21). How To Practice Inclusiveness in Today's Workplace. Indeed. Diakses pada tanggal 28 April 2023 melalui https://www.indeed.com/career-advice/career-development/inclusiveness-in-the-workplace
  • Hamill, Laura. (2019, Februari 04). What An Inclusive Workplace Actually Looks Like, And Seven Ways To Achieve It. Forbes. Diakses pada tanggal 28 April 2023 melalui https://www.forbes.com/sites/forbeshumanresourcescouncil/2019/02/04/what-an-inclusive-workplace-actually-looks-like-and-seven-ways-to-achieve-it/?sh=77036857316b
  • Basumallick, Chiradeep. (2022, Agustus 20). What Is an Inclusive Workplace? Definition, Best Practices, and Tools. Spiceworks. Diakses pada tanggal 28 April 2023 melalui https://www.spiceworks.com/hr/diversity-inclusion/articles/what-is-an-inclusive-workplace/

 

Tracking Sudah Tahu Apa Itu Budaya Kerja Inklusif dan Strategi Tepat untuk Membangunnya?

Bagikan
suka artikel ini :