Terlalu panas untuk tidur? Ini cara menjaga rumah tetap sejuk saat dilanda gelombang panas.
Panduan praktis menjaga rumah tetap sejuk: mulai dari ventilasi, kebiasaan tidur, penggunaan peneduh, AC, hingga fakta di balik berbagai kiat yang beredar di media sosial.
Pada malam hari di musim panas, rumah seakan diselimuti hawa panas dan tidak kunjung menjadi sejuk. Di Indonesia, malam yang paling panas bukan hanya dipengaruhi oleh suhu udara. Kelembapan yang tinggi, udara yang nyaris tidak bergerak, kipas angin yang hanya mengembuskan udara hangat, anak yang berkeringat saat tidur, orang tua yang memastikan persediaan air minum tetap cukup, hingga keputusan apakah AC perlu dinyalakan atau tagihan listrik harus dihemat—semuanya menjadi bagian dari tantangan tersebut. Baik tinggal di Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Makassar, maupun Denpasar, pertanyaan yang muncul sering kali sama: bagaimana menjaga rumah tetap cukup sejuk agar seluruh keluarga dapat beristirahat dengan nyaman tanpa membuat malam justru terasa semakin tidak nyaman?
Seiring meningkatnya suhu bumi akibat perubahan iklim, pertanyaannya bukan lagi apakah AC bermanfaat. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjaga keseimbangan suhu di dalam rumah tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi sebagai satu-satunya solusi.
Bagi keluarga muda yang sedang membangun rutinitas di rumah, gelombang panas sering kali menjadi ujian dalam merawat keluarga. Mulai dari menentukan siapa yang tidur di ruangan tertentu, ruangan mana yang perlu diprioritaskan agar tetap sejuk, cara melindungi anak-anak, mengelola pengeluaran listrik, hingga menghindari keputusan dadakan yang harus diulang setiap malam.
Memahami ancaman darurat gelombang panas
Dampak suhu ekstrem kini menjadi kondisi darurat yang telah dibuktikan oleh berbagai data dari lembaga pengamatan internasional. Tetapi, jika di Eropa hawa panas umumnya berlangsung singkat meski intens, di Asia Tenggara menghadapi cuaca panas ekstrem memerlukan langkah yang terencana. Sebuah studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Scientific Reports menunjukkan bahwa Asia Tenggara daratan merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terhadap paparan panas ekstrem yang membahayakan jiwa. Pada puncak musim panas, masyarakat dapat mengalami tekanan panas berat selama 6 hingga 9 jam setiap hari. Di kawasan ini, peningkatan suhu hampir selalu disertai tingkat kelembapan yang berada di kisaran 80% atau bahkan lebih tinggi. Kombinasi keduanya memicu fenomena yang dikenal sebagai wet-bulb temperature, yaitu kondisi ketika udara mengandung kelembapan yang sangat tinggi sehingga tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri secara alami melalui penguapan keringat.
Di sejumlah kota besar Asia yang berpenduduk padat, panas pada siang hari tersimpan dalam beton dan material bangunan. Ketika malam tiba, rumah berubah menjadi tempat yang menyimpan panas. Minimnya sirkulasi udara alami serta kelembapan yang tinggi membuat waktu istirahat menjadi tidak nyaman, bahkan dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan seluruh anggota keluarga.
Dalam kondisi seperti ini, upaya beradaptasi tidak dapat hanya mengandalkan penggunaan AC secara terus-menerus. Selain biaya listrik yang tidak terjangkau bagi banyak keluarga di perkotaan, penggunaan AC secara berlebihan juga dapat membebani jaringan listrik. Karena itu, ketahanan rumah terhadap cuaca panas lebih bergantung pada strategi yang sederhana namun efektif, seperti memaksimalkan ventilasi dengan bantuan kipas angin, memanfaatkan material yang mampu mengurangi panas, serta mengatur aliran udara di dalam rumah guna mengurangi tingkat kelembapan di dalam ruangan. Di Asia Tenggara, menjaga rumah tetap sejuk saat cuaca ekstrem bukan lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan bagian penting dari upaya melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh anggota keluarga setiap hari.
Panduan praktis: cara melindungi rumah dan menjaga kualitas tidur
Menghadapi cuaca panas yang ekstrem,memerlukan langkah yang terencana. Bukan hanya memperhatikan kondisi rumah, tetapi juga membangun kebiasaan sehari-hari yang tepat. Dengan pengelolaan yang cerdas, suhu di dalam rumah dapat diturunkan secara signifikan tanpa harus selalu bergantung pada AC.
1. Mencegah hawa panas masuk ke dalam rumah
- Menggunakan peneduh dan perlindungan dari sinar matahari: Langkah pertama dalam menjaga rumah tetap sejuk adalah mencegah sinar matahari langsung mengenai kaca jendela. Perlindungan sebaiknya dilakukan sejak pagi hari, sebelum panas mulai meningkat. Tirai di dalam rumah memang dapat membantu, tetapi perlindungan akan jauh lebih efektif jika sinar matahari diblokir dari luar menggunakan penutup jendela, tirai luar, kanopi, atau pelindung yang memiliki permukaan reflektif. Selain itu, sebisa mungkin kurangi penggunaan peralatan rumah tangga yang menghasilkan panas pada siang hari, seperti oven, mesin pencuci piring, mesin pengering pakaian, maupun komputer berperforma tinggi.
- Saatnya meluruskan anggapan bahwa membuka jendela di siang hari selalu membuat rumah lebih sejuk: Masih banyak yang percaya bahwa membuka lebar jendela saat cuaca panas dapat memperlancar sirkulasi udara. Padahal, ketika gelombang panas terjadi, kebiasaan ini justru bisa membuat kondisi di dalam rumah semakin panas: udara panas dari luar akan masuk dan memanaskan dinding serta ruangan. Karena itu, selama suhu di luar masih lebih tinggi daripada suhu di dalam rumah, sebaiknya jendela dan pintu tetap tertutup. Bukalah kembali ketika udara luar mulai lebih sejuk, biasanya menjelang malam hari.
2. Gunakan sirkulasi udara pada waktu yang tepat
- Masalah soal apartemen dengan jendela hanya di satu sisi: Banyak hunian modern di kawasan perkotaan, terutama apartemen berukuran lebih kecil, hanya memiliki jendela pada satu sisi bangunan. Kondisi ini membuat ventilasi silang alami (cross ventilation) sulit terjadi sehingga udara di dalam ruangan cenderung terjebak dan udara terasa pengap. Meski demikian, masih ada beberapa cara yang dapat membantu meningkatkan sirkulasi udara:
- Menggunakan kipas angin secara lebih efektif: Pada malam hari, ketika suhu di luar sudah lebih rendah dibandingkan suhu di dalam rumah, kipas angin yang ditempatkan di dekat jendela dapat membantu mengalirkan udara yang lebih sejuk ke dalam ruangan. Sebaliknya, apabila ruangan masih diselimuti udara panas yang terperangkap di dalamnya, arahkan kipas angin menghadap ke luar terlebih dahulu untuk membantu mengeluarkan udara panas sebelum menarik udara yang lebih dingin masuk. Kuncinya adalah memilih waktu yang tepat: kipas angin akan bekerja lebih efektif apabila membantu proses ventilasi saat udara luar sudah lebih sejuk, bukan ketika digunakan untuk menarik udara panas dari luar pada siang hari.
3. Menciptakan rutinitas malam yang aman dan nyaman
- Terapkan konsep thermal refuge atau "ruang perlindungan yang sejuk": Daripada berusaha mendinginkan seluruh rumah, lebih efektif jika fokus diarahkan pada kamar tidur atau satu ruangan yang digunakan bersama untuk beristirahat. Tutup pintu ruangan yang tidak digunakan agar udara sejuk tidak menyebar ke seluruh rumah. Cara ini membuat AC berkapasitas kecil maupun kipas angin bekerja lebih efisien sehingga tercipta satu ruang yang nyaman untuk tidur sepanjang malam.
- Bangun kebiasaan yang mendukung kenyamanan tidur, terutama bagi anggota keluarga yang lebih rentan: Gunakan seprai, sarung bantal, dan selimut berbahan ringan serta mudah menyerap keringat, seperti katun atau linen. Sebisa mungkin hindari bahan sintetis yang tebal karena cenderung menahan panas. Sediakan air minum di dekat tempat tidur dan jadikan minum air sebagai bagian dari rutinitas sebelum tidur, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, maupun anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis. Saat gelombang panas terjadi, tujuan utamanya bukan hanya agar tidur terasa lebih nyaman, tetapi juga untuk membantu mencegah dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), dan penurunan kualitas tidur.
- Menggunakan AC secara bijak, bukan sebagai satu-satunya solusi: AC akan bekerja lebih efektif jika digunakan sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya dinyalakan ketika ruangan sudah telanjur sangat panas. Mendinginkan satu ruangan sebelum waktu tidur umumnya jauh lebih efisien dibandingkan mencoba menurunkan suhu seluruh rumah setelah dinding, lantai, dan perabot menyimpan panas sepanjang hari. Saat AC digunakan, tutup pintu dan jendela agar udara dingin tidak keluar. Manfaatkan fitur pengatur waktu (timer) atau sleep mode kalau tersedia, hindari mengatur suhu terlalu rendah, dan bersihkan filter secara berkala agar kinerjanya tetap optimal. Pada kondisi udara yang sangat lembap, fitur pengurang kelembapan (dehumidifier atau mode dry) juga dapat membantu tubuh menyejukkan diri secara lebih efektif.
4. Jangan terlalu percaya pada berbagai kiat yang viral di media sosial
- Menyikapi berbagai "trik" agar ruangan terasa lebih sejuk: Beragam kiat untuk mengatasi cuaca panas banyak beredar di media sosial. Sebagian memang dapat memberikan rasa sejuk sesaat, tetapi tidak seharusnya menggantikan langkah-langkah yang terbukti lebih aman dan efektif. Misalnya, meletakkan es di depan kipas angin memang dapat menghasilkan embusan udara yang terasa lebih dingin untuk sementara waktu. Namun, efeknya sangat terbatas dan justru dapat meningkatkan kelembapan di dalam ruangan. Begitu pula tidur menggunakan seprai atau handuk yang dibasahi. Cara ini mungkin terasa menyegarkan pada awalnya, tetapi kelembapan tambahan justru dapat membuat ruangan semakin pengap dan kurang nyaman. Mandi dengan air yang sangat dingin juga sering dianggap sebagai solusi cepat. Padahal, mandi menggunakan air yang sejuk atau suam-suam kuku sebelum tidur umumnya memberikan efek yang lebih nyaman dan bertahan lebih lama. Pada akhirnya, cara yang paling efektif justru bukan yang paling viral. Mencegah panas masuk ke dalam rumah, membuka ventilasi hanya ketika udara luar lebih sejuk, mengurangi sumber panas di dalam rumah, serta memfokuskan pendinginan pada satu ruangan merupakan langkah yang jauh lebih bermanfaat.
Indonesia: sejukkan tubuh terlebih dahulu, baru ruangannya
Kelembapan mengubah cara tubuh menyikapi hawa panas
Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, tantangan bukan hanya suhu yang tinggi, tetapi juga kelembapan udara. Semakin lembap udara, semakin sulit keringat menguap. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan alaminya untuk menyejukkan diri. Studi Scientific Reports tahun 2025 mengenai Asia Tenggara menjelaskan bahwa suhu udara saja tidak cukup untuk menggambarkan tingkat bahaya akibat panas. Kelembapan, kecepatan angin, dan paparan radiasi matahari, juga turut menentukan besarnya beban panas yang harus ditanggung tubuh. Penelitian tersebut juga memproyeksikan bahwa Indonesia akan menghadapi tingkat stres panas yang semakin tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Pada periode September–November, rata-rata bulanan diperkirakan mencapai kategori stres panas tinggi berdasarkan Universal Thermal Climate Index (UTCI), serta membatasi aktivitas fisik sedang menurut Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
Artinya, ketika malam terasa sangat gerah di Indonesia, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membantu tubuh menyejukkan diri, baru kemudian berupaya mendinginkan ruangan.
- Minum air sebelum merasa haus: menyimpan air minum di tempat yang mudah terlihat sebelum tidur, bukan hanya di samping tempat tidur.
- Mengenakan pakaian yang ringan: pilih pakaian longgar dengan bahan yang mudah menyerap keringat, dan hindari pakaian berwarna gelap atau berbahan tebal.
- Dinginkan titik tertentu pada tubuh: lilitkan kain lembap pada leher, pergelangan tangan, ketiak, atau lipatan tubuh ketika tubuh merasa kepanasan.
- Kurangi kebiasaan yang menambah kelembapan ruangan: hindari menggunakan seprai atau handuk yang terlalu basah maupun aktivitas yang meningkatkan penguapan air di dalam ruangan apabila udaranya sudah terasa lembap.
- Manfaatkan kipas angin dengan tepat: gunakan untuk membantu aliran udara melewati tubuh, tetapi hindari mengarahkan embusan angin yang kuat langsung ke anak-anak sepanjang malam.
- Prioritaskan anggota keluarga yang paling rentan: tempat tidur atau ruangan yang paling sejuk sebaiknya digunakan oleh anak-anak, lansia, ibu hamil, anggota keluarga dengan penyakit kronis, maupun mereka yang sedang kelelahan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menganjurkan beberapa langkah sederhana untuk menghadapi cuaca panas, antara lain, minum air putih yang cukup tanpa menunggu rasa haus, membatasi konsumsi minuman berkafein, beralkohol, minuman berenergi, maupun minuman tinggi gula, mengurangi aktivitas di luar ruangan terutama antara pukul 11.00–15.00, menggunakan tabir surya saat beraktivitas di luar, mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman, serta melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung dengan topi atau payung.
Siang hari menentukan kenyamanan tidur malam
Bagi sekian banyak keluarga di Indonesia, malam yang terasa gerah sering kali berawal dari cara mengelola rumah pada siang hari. Ruangan yang dibiarkan terbuka sehingga udara panas masuk, terkena sinar matahari sepanjang sore, serta menyimpan panas dari aktivitas memasak atau penggunaan peralatan elektronik tidak akan langsung terasa sejuk hanya karena kipas angin dinyalakan.
Menerapkan rutinitas sederhana di rumah dapat membantu menjaga suhu tetap lebih nyaman, misalnya:
- Awali pagi dengan mengatur sirkulasi udara: bukalah jendela sejak pagi saat udara masih lebih sejuk, kemudian tutup kembali sisi rumah yang hawanya terasa paling panas.
- Lindungi rumah pada tengah hari: tutup tirai atau kerai pada jendela yang menghadap matahari, terutama di ruangan berukuran kecil yang lebih cepat menyerap panas.
- Atur waktu memasak: sebisa mungkin hindari menggoreng, menggunakan oven, atau memasak dalam waktu lama pada saat suhu sedang mencapai puncaknya.
- Pengaturan waktu cuci dan menjemur pakaian: jemur pakaian di area yang tidak menambah kelembapan pada kamar tidur.
- Kurangi panas dari perangkat elektronik: matikan pengisi daya (charger), laptop, maupun perangkat elektronik lain yang tidak digunakan, terutama di kamar tidur.
- Prioritaskan satu ruangan tetap sejuk: tetapkan satu kamar tidur atau ruang keluarga lebih nyaman dibandingkan ruangan lainnya.
Tujuannya bukan membuat seluruh rumah terasa dingin. Tindakan ini untuk menyediakan satu ruangan yang cukup sejuk agar tubuh dapat beristirahat dan memulihkan diri dengan lebih baik.
Saat beraktivitas di luar, siapkan perlengkapan menghadapi cuaca panas
Paparan panas tidak hanya menjadi persoalan di dalam rumah, tetapi juga saat beraktivitas sehari-hari. Banyak orang berangkat pada pagi hari ketika udara masih terasa cukup nyaman, tetapi kemudian harus menghadapi suhu yang jauh lebih tinggi saat berada di sekolah, tempat kerja, mengendarai sepeda motor, menggunakan transportasi umum, atau berjalan kaki di ruang terbuka di antara sederetan gedung. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Scientific Reports pada tahun 2026 melibatkan 439 orang dewasa muda berusia 19–24 tahun di Yogyakarta. Penelitian tersebut menemukan bahwa keluhan fisik yang paling sering dialami akibat paparan panas di luar ruangan adalah berkeringat yang berlebihan, kelelahan, dan dehidrasi. Sementara itu, dampak psikologis yang paling banyak dilaporkan meliputi rasa tidak nyaman secara emosional, gangguan tidur, dan stres.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa meskipun banyak responden telah memahami risiko cuaca panas, kebiasaan untuk melindungi diri masih tergolong rendah. Menariknya, adanya pengingat yang mudah terlihat, terbukti membantu, karena “kebiasaan mengingat” untuk melindungi diri berhubungan erat dengan tindakan pencegahan yang dilakukan. Sejumlah tindakan yang disarankan dalam penelitian tersebut antara lain menggunakan pelindung kepala, kacamata hitam, tabir surya, pakaian yang ringan dan longgar, membawa air minum, dan minum air yang cukup untuk mencegah dehidrasi serta membatasi aktivitas di bawah sinar matahari langsung.
Perlengkapan penghangat “sebelum meninggalkan ruangan” ala Indonesia dapat mencakup:
- Botol air minum: yang sudah diisi penuh, sehingga tidak perlu menunggu rasa haus untuk mulai minum.
- Topi, pelindung kepala, atau payung: terutama bagi yang menggunakan sepeda motor, berjalan kaki, atau harus menunggu di ruang terbuka.
- Tabir surya: digunakan sebelum keluar rumah/gedung/ruangan, bukan hanya saat berlibur di pantai.
- Pakaian luar yang ringan: longgar, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan tidak berwarna gelap.
- Handuk kecil atau tisu basah: untuk membantu mendinginkan leher, pergelangan tangan, dan wajah.
- Minuman elektrolit, opsional: apabila diperlukan setelah banyak berkeringat, beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama, atau saat sakit.
- Pengingat di ponsel: peringatan hidrasi selama periode cuaca paling panas.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar memiliki perlengkapan tersebut di atas, melainkan menjadikannya bagian dari kebiasaan sehari-hari, sebelum hari menjadi sibuk.
Anak-anak membutuhkan rutinitas malam yang tepat, bukan sekadar kipas angin
Anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi saat cuaca panas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa suhu udara yang tinggi dapat memicu keringat berlebihan sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. Karena itu, anak-anak perlu minum air secara teratur, terutama saat cuaca panas atau setelah melakukan aktivitas fisik.
Rutinitas tidur keluarga dapat mempermudah hal ini:
- Sebelum tidur: berikan air minum dalam jumlah sedikit tetapi lebih sering, bukan sekaligus dalam jumlah banyak di penghujung malam.
- Sepanjang malam: taruh botol atau gelas minum di tempat yang mudah dijangkau oleh anak dengan aman.
- Perlengkapan tidur: gunakan seprai berbahan katun yang ringan dan hindari selimut yang tebal.
- Posisi kamar tidur: usahakan tempat tidur anak tidak berada di dekat dinding atau jendela yang menyerap panas matahari sepanjang hari.
- Posisi kipas angin: gunakan kipas untuk membantu mengalirkan udara di dalam ruangan, bukan mengarahkannya langsung ke wajah anak selama berjam-jam.
- Waspadai tanda-tanda dehidrasi: perhatikan apabila anak tampak mengantuk secara tidak biasa, mulut terasa kering, warna air kemih lebih gelap, pusing, muntah, atau tubuh terus-menerus terasa kepanasan.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan beberapa tanda yang perlu diwaspadai saat cuaca panas, seperti berkeringat secara berlebihan, kulit terasa panas dan kering, detak jantung lebih cepat, kulit pucat, kram, mual, muntah, pusing, hingga air kemih berwarna kuning pekat. Apabila gejala tersebut muncul, tubuh dapat dibantu mendingin dengan mengompres menggunakan kain basah pada pergelangan tangan, leher, dan lipatan tubuh, memperbanyak minum air putih, serta segera mencari pertolongan tenaga kesehatan apabila kondisi tidak kunjung membaik.
Daftar periksa menghadapi malam yang panas dan lembap bagi keluarga Indonesia
Sebelum menghadapi malam berikutnya yang terasa panas dan lembap, pertanyaan yang paling penting bukan hanya "Perlukah menyalakan AC?", tetapi juga: "Apa yang dibutuhkan setiap anggota keluarga agar tubuh dapat beristirahat dan pulih dengan baik malam ini?”
- Siapa yang membutuhkan tempat tidur paling sejuk malam ini?
- Apakah semua anggota keluarga sudah cukup minum sebelum merasa haus?
- Apakah kamar tidur menjadi lebih lembap karena pakaian yang dijemur di dalam ruangan, handuk yang masih basah, atau sirkulasi udara yang kurang baik?
- Apakah aktivitas seperti memasak, menyetrika, atau menggunakan peralatan yang menghasilkan panas dapat dilakukan pada waktu yang lebih sejuk?
- Apakah kipas angin benar-benar membantu mengalirkan udara, bukan hanya memutar udara panas di dalam ruangan?
- Apakah cukup mendinginkan satu ruangan alih-alih seluruh rumah?
- Apakah kondisi anak-anak, lansia, atau anggota keluarga dengan penyakit kronis sudah diperiksa sebelum tidur?
- Apakah ada anggota keluarga yang menunjukkan tanda-tanda seperti pusing, mual, kram, air kemih berwarna gelap, atau kebingungan?
- Apakah perlengkapan untuk menghadapi cuaca panas saat beraktivitas di luar pada esok hari sudah disiapkan di dekat pintu?
Di Indonesia, membangun rumah yang siap menghadapi cuaca panas bukan ditentukan oleh satu perangkat pendingin yang paling canggih. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang dapat dilakukan secara konsisten: minum air sebelum merasa haus, mengurangi paparan sinar matahari langsung, mengatur sirkulasi udara agar benar-benar membantu menyejukkan tubuh, menjaga setidaknya satu ruangan tetap nyaman untuk beristirahat, memastikan anak-anak dan anggota keluarga yang rentan dalam kondisi baik sebelum tidur, serta mengatur aktivitas pada siang hari agar malam tidak berubah menjadi situasi darurat. Pada akhirnya, kenyamanan ruangan memang penting. Tetapi, yang paling utama adalah membantu tubuh mempertahankan kemampuannya untuk mendinginkan diri secara alami.
Generali dapat membantu keluarga dalam menghadapi gelombang panas ekstrem bukan sekadar sebagai keadaan darurat sesaat, melainkan sebagai risiko rumah tangga yang berulang: sesuatu yang perlu dipersiapkan melalui rutinitas yang lebih aman, pilihan yang lebih tangguh, serta perlindungan yang lebih baik bagi mereka yang paling membutuhkan perawatan.
Sumber:
- Scientific Reports / Nature: 2025 study on future heat stress, UTCI and wet-bulb globe temperature exposure in South-East Asia.
- BMKG, Suhu Panas Landa Sejumlah Wilayah Indonesia, October 2025: maximum temperatures up to 37.6°C, causes of hot weather, affected regions and advice to maintain fluids and avoid long direct sun exposure.
- BMKG, Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026, June 2026 update: 2026 dry-season outlook and areas expected to be drier than usual.
- Kementerian Kesehatan / Pusat Krisis Kesehatan, Pesan Kemenkes dalam Menghadapi Cuaca Panas: hydration, 11 a.m.–3 p.m. activity reduction, clothing, sunscreen, hats and warning symptoms.
- Kementerian Kesehatan / Ayo Sehat, Kurangi Dampak Cuaca Panas: practical heat-health actions, symptoms and body-cooling steps.
- Scientific Reports, Widespread heat stress will become the norm in a warming Southeast Asia, 2025: heat stress, humidity, UTCI/WBGT and Indonesia/Southeast Asia projections.
- Scientific Reports, Urban heat stress and adolescent health: impacts and adaptation strategies in Indonesia, 2026: Yogyakarta youth study, symptoms, adaptation practices and reminder-based behaviour.

